Perdagangan Berorientasi Impor Perlu Ditinjau Ulang

Konsumsi Domestik Jadi Andalan

Jumat, 14/09/2012

NERACA

Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI Kemal Azis Stamboel menilai bahwa kekhawatiran akan defisit neraca perdagangan akibat turunnya permintaan global karena krisis Eropa belum mempengaruhi perekonomian nasional secara signifikan. Selain itu, kebijakan perdagangan yang lebih berorientasi impor mungkin perlu ditinjau kembali agar barang-barang impor tidak terlalu mendominasi pasar domestik.

Terutama barang-barang impor yang sifatnya untuk konsumsi bukan investasi. Menurut dia, ekonomi domestik Indonesia masih kuat. Buktinya pertumbuhan ekonomi dari triwulan I dan II tahun 2012 masih positif masing-masing 6,3 % dan 6,4%. Terlebih struktur PDB kita ditopang oleh konsumsi dan investasi. Di triwulan I kontribusi konsumsi masyarakat dan pemerintah masih 61,1% dan di triwulan II meningkat menjadi 62,5%.

Sedangkan kontribusi investasi juga meningkat dari 31,8% di triwulan I menjadi 32,9% di triwulan II. “Kondisi ini adalah fakta bahwa perekonomian kita memang domestic-led growth bukan lagi export–led growth. Jadi jangan terlalu mencemaskan defisit neraca perdagangan,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima Neraca, Kamis (13/9).

Mengenai defisit neraca perdagangan, Kemal menilai hal itu masih cukup wajar karena kontribusi ekspor terhadap PDB kita memang menurun dari 24,7% di triwulan I menjadi 24,3% di triwulan II dan impor kita meningkat dari 24,6% di triwulan I menjadi 26,6% di triwulan II. “Perlambatan ekspor kita ini disebabkan karena turunnya permintaan dari negara tujuan utama ekspor kita di Eropa dan Cina. Permintaan ekspor dari Cina dan Eropa memiliki proporsi cukup besar sekitar 25%,” jelasnya.

Kemal berpendapat, karena mayoritas produk ekspor Indonesia adalah komoditas primer, sehingga sulit untuk melakukan adjustment pola kerjasama perdagangan ini dan memiliki alternatif pilihan tujuan ekspor yang terbatas. “Karena itu, struktur industri dalam negeri kita harus segera dibenahi. Pengesahan UU Minerba harus mendorong kebijakan penguatan pengolahan komoditas ekstraktif dalam negeri sehingga memiliki nilai tambah yang kompetitif,” katanya.

Defisit neraca perdagangan ini juga disebabkan oleh melonjaknya impor barang modal dan migas serta kebijakan perdagangan sebelum-sebelumnya. Lonjakan permintaan impor barang modal terjadi karena investasi asing langsung kita meningkat. Sebenarnya, menurut Kemal, kondisi ini tidak masalah karena akan mampu meningkatkan kapasitas produksi domestik. “Mungkin yang perlu diperbaiki desain kebijakan harga BBM bersubsidi, yang menyebabkan disparitas harga domestik dan internasional melebar sehingga penyelundupan ilegal secara masif menjadi tak terhindarkan,” ujarnya.

Ancaman Defisit

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia Juli 2012 mencapai US$16,15 miliar. Bila dibanding Juli 2011 mengalami penurunan sebesar 7,27%. Sementara nilai impor Indonesia Juli 2012 sebesar US$16,33 miliar. Jika dibanding impor Juli 2011 (US$16,21 miliar) naik 0,75%.

Secara akumulatif, nilai ekspor dari Januari-Juli 2012 sebesar US$ 113,11 miliar atau turun 2,52% pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan total impor Januari-Juli 2012 sebesar US$ 112,78 miliar atau naik 13,02% pada periode sama tahun lalu. Dengan demikian, surplus perdagangan RI secara keseluruhan terus menuju lampung kuning lantaran semakin menipis menjadi US$ 335,5 juta.

Dalam catatan BPS, impor nonmigas pada Juli 2012 sebesar US$13,60 miliar atau naik US$0,23 miliar (1,66%) dibanding Juni 2012 (US$13,37 miliar), sedangkan selama Januari–Juli 2012 mencapai US$88,61 miliar atau naik 15,45% dibanding periode yang sama tahun 2011 (US$76,75 miliar).

Adapun impor migas Juli 2012 sebesar US$2,73 miliar atau turun US$0,62 miliar (18,51%) dibanding Juni 2012 (US$3,35 miliar), sedangkan selama Januari–Juli 2012 mencapai US$24,17 miliar atau naik 4,91% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (US$23,04 miliar).

Sementara nilai impor nonmigas terbesar Juli 2012 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai US$2,72 miliar atau naik 7,37% (US$0,19 miliar) dibanding impor golongan barang yang sama Juni 2012 (US$2,53 miliar). Impor golongan barang tersebut selama Januari–Juli 2012 mencapai US$16,67 miliar atau meningkat 25,55% (US$3,39 miliar) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (US$13,28 miliar).

Untuk negara pemasok, BPS mencatat, barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juli 2012 masih ditempati oleh China dengan nilai US$17,37 miliar dengan pangsa 19,60%, diikuti Jepang US$13,94 miliar (15,73%) dan Thailand US$6,86 miliar (7,75%). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai 21,64%, sementara dari Uni Eropa sebesar 8,95%.

Secara total, nilai impor semua golongan penggunaan barang selama Januari–Juli 2012 dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing meningkat, yaitu impor barang konsumsi sebesar 5,43%, bahan baku/penolong sebesar 9,28%, dan barang modal sebesar 32,59%.