Importir Gula dan Kedelai Harus Terdaftar di Kemendag - Tingkatkan Pengawasan Komoditas

NERACA

Jakarta - Seiring dengan agenda merevitalisasi Bulog yang telah diputuskan akan mengatur komoditas selain beras, yaitu gula dan kedelai, Pemerintah akan menertibkan para importir kedelai dan gula dengan mengharuskan perusahaan impor tersebut terdaftar di Kementerian Perdagangan.

Langkah ini sebagai bentuk pengawasan terhadap masuknya kedua komoditas tersebut ke dalam negeri. "Kalau selama ini untuk gula dan kedelai bisa dilakukan siapa saja atau importir umum, sekarang semuanya menjadi importir terdaftar (IT). Secepatnya mudah-mudahan tahun ini sudah bisa diterapkan," kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi usai membuka acara Indonesia International Interior Design Ideas and Innovations Exchange Forum, Design.ID 2012 di Jakarta, Rabu (5/9).

Dia meminta para pengusaha tidak khawatir dengan aturan tersebut. Kementerian hanya mensyaratkan importir untuk mengajukan tidak akan ada pembatasan. Aturan diberlakukan untuk mengawasi impor kedelai dan gula yang selama ini hanya diberlakukan untuk importir umum, bukan importir terdaftar.

"Jadi intinya kita tahu, besarnya impor itu berapa dan kemudian dari mana, kapan masuknya. Ini bagian dari pengelolaan kita terhadap pasokan, dengan demikian kita punya data yang cukup dan lengkap bagaimana dinamika pasokan di dalam negeri," katanya.

Bayu meyakini, dengan kebijakan itu, pemerintah bisa lebih menjaga dan mengetahui kondisi pasar lokal di Indonesia. Ke depan, persyaratan yang sama akan diberlakukan pada komoditas daging sapi dan jagung. Sementara itu, untuk komoditas beras, pemerintah masih memberikan kewenangan kepada Bulog.

Seperti diketahui, Indonesia telah melakukan Nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dengan 5 negara terkait memenuhi kebutuhan beras. Hal itu dilakukan untuk memenuhi cadangan beras dalam negeri bila cadangan beras akan mulai menipis.

Lima negara eksportir beras tersebut adalah Vietnam, Kamboja, Thailand, India, dan Myanmar. Terkait MoU dengan 5 negara tadi, Bayu menjelaskan bahwa total kebutuhan bahan pokok di Tanah Air selalu berbeda setiap jenisnya. Dalam setahun, kebutuhan beras di Tanah Air mencapai 36 juta-37 juta ton, kedelai 2 juta ton, dan gula 2,6 juta-2,7 juta ton. "Tapi kalau soal Bulog mau impor atau tidak, belum tahu. Negara-negara tersebut hanya jadi referensi bila stok beras kita habis. Ini untuk mengamankan stok saja," terangnya.

Namun, Bayu juga mengingatkan bahwa stok beras di akhir tahun bisa saja menipis. Apalagi sejak Desember 2012 hingga akhir April 2014 diperkirakan akan terjadi masa paceklik. Bulog harus mewaspadai stok beras yang ada sekaligus persiapan masa paceklik untuk mempertimbangkan impor beras.

BERITA TERKAIT

Awal 2020, Diprediksi Stok Jagung Aman

NERACA Jakarta – Berbagai cara terus dilakukan Pemerintah untuk mengamankan pasokan dalam negeri baik untuk pangan konsumsi ataupun untuk pakan…

Kadin Menggandeng APBI Dorong Penerapan Bahan Bakar Berbasis Ban

NERACA Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggandeng Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) untuk mendorong penerapan teknologi bahan…

Pemerintah Pusat dan Pemda Komit Cegah Alih Fungsi Lahan

NERACA Pontianak – Salah satu cara untuk tercapainya ketahanan pangan yaitu dengan mencegah terjadinya alih fungsi lahan, untuk itu Pemerintah…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

2020, Kemendag Dongkrak Ekspor ke Polandia

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan terus bekerja sama dengan seluruh perwakilan Indonesia di negara-negara kawasan Eropa Timur dan…

WEF 2020, Kemendag Siap Tingkatkan Perdagangan Nasional

NERACA Swiss – Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam kunjungan ke Davos, Swiss untuk menghadiri pertemuan tahunan World Economy Forum (WEF) ke-50 siap meningkatkan…

PT Timah gandeng Wijaya Karya Bangun Smelter Berteknologi

NERACA Pangkal Pinang - PT Timah Tbk akan membangun smelter pengolahan dan pemurnian mineral serta timah kadar rendah dengan menggunakan teknologi terbaru…