Bakrie Telecom Ditengarai Cari "Selamat"

TUNDA BAYAR UTANG OBLIGASI

Rabu, 05/09/2012

Neraca

Jakarta – Bantahan manajemen PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tidak sanggup membayar sisa utang obligasi sebesar Rp 400 miliar dengan alasan liburnya bursa saham New York, dinilai sebagai alasan yang tidak masuk akal. Pasalnya, tutupnya bursa saham AS itu karena libur hari besar nasional merupakan event yang sudah terjadwalkan sebelumnya.

Pengamat pasar modal Indosurya Asset Management, Reza Priyambada mengatakan, alasan Bakrie Telecom tidak bisa diterima oleh pelaku pasar. Soal libur bursa New York, seharusnya sudah diketahui jauh sebelumnya, “Bila ini sudah diantisipasi, tentunya tidak menjadi shock therapy bagi pelaku pasar karena berharap pembayaran kupon obligasi bisa diterima sebagaimana yang di jadwalkan,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (4/9).

Dia menambahkan, pada saat penerbitan obligasi pun sudah ada jadwalnya dan diperhitungkan dan tidak mungkin sekali bursa ditutup secara tiba-tiba. Tentunya kalau alasannya libur nasional, bukan sebab force majeur untuk penundaan utang.

Kemudian bicara soal utang, apalagi sudah masuk bursa efek dan tercatat serta diketahui oleh publik, kata Reza, penundaan pembayaran utang tersebut seharusnya diinformasikan sebelumnya. Dia mencontohkan, apa yang dilakukan PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) yang menginformasikan secara transparan bahwa perseroan memang mengalami kesulitan pendanaan dan sedang melakukan restrukturisasi utang. Bahkan penundaan bayar utang, sudah diumumkan paling tidak satu minggu sebelum jatuh tempo.

Oleh karena itu, alasan yang disampaikan Bakrie Telecom dengan mengkambing-hitamkan libur bursa di New York, menurut Reza, adalah alasan yang akan menambah sentimen negatif dan menjatuhkan nama baik mereka sendiri. “Saat ini utang Bakri menumpuk, aksi korporasinya juga sudah mulai "ribet", dan diinformasikan mengalami kerugian hingga US$ 300 miliar, sehingga bisa saja jika pelaku pasar mengatakan itu merupakan alibi pihak Bakrie untuk cari "selamat”," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari Universal Broker, Satrio Utomo, alasan libur nasional bursa saham New York bukan merupakan alasan yang force major. Kemudian, terlepas apakah pihak Bakrie Telecom sedang mencari 'selamat' atau tidak, Satrio mengatakan, relevan atau tidak relevannya bukan hal penting. “Hal yang terpenting adalah apakah krediturnya puas atau tidak,”tandasnya.

Menurut dia, zaman internet sekarang, informasi terbuka luas dan dengan proses kliring yang ada, setiap orang tentu bisa menilai apakah alasan tersebut menggelikan atau tidak. Oleh karena itu, lanjut Satrio alasan tersebut seharusnya tidak dilontarkan oleh orang Indonesia untuk menunda utang dan hal ini jangan sampai dicontoh oleh emiten lain.

Tak Ada Itikad Baik

Sementara pengamat modal dari FE Univ. Pancasila, Agus S Irfani, molornya Bakrie Telecom untuk membayar utang serta gagal bayarnya Bakrie Life dikarenakan Bakrie sengaja melakukannya. “Dengan emikian, mereka bisa memutar otak bagaimana menyelamatkan reputasi besar mereka,”ungkapnya

Menurut dia, boleh dikatakan dengan cara telat membayar utang Bakrie Telecom serta pasang badannya Bakrie Grup dalam pelunasan utang Bakrie Life semata-mata sebagai strategi grup usaha itu untuk cari selamat. Pasalnya, secara Finansial, Agus menilai sebenarnya Bakrie Grup mampu untuk membayar utang-utangnya, karena cashflow mereka dari Bumi masih cukup untuk menutupi utang-utangnya.

Karenanya, Agus menilai Bakrie Grup memang tidak memiliki itikad baik untuk melunasi utang-utangnya. Terlebih beberapa waktu lalu, harga batubara masih cukup tinggi dan seharusnya Bakrie mampu melunasinya utangnya dengan Bumi. “Tetapi nyatanya tidak, mereka malah berpura-pura tidak mampu sampai akhirnya mereka benar-benar tidak mampu untuk melunasinya saat ini,”tuturnya

Oleh karena itu, Agus pesimistis kasus Bakrie ini akan terselesaikan. Alasannya, secara finansial perseroan mampu membayar dan hanya saja kemauan untuk melunasi utang tersebut ada atau tidak?

Selain itu, pemerintah sendiri terkesan tidak bisa melakukan apa-apa atas tindakan Bakrie Grup ini. Tetapi, menurut Agus masih ada titik terang dalam hal pelunasan utang grup usaha tersebut.

Sebagai informasi, PT Bakrie Telecom Tbk memastikan akan membayar sisa pembayaran utang obligasi ke rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Selasa (4/9) sore. Selain itu, perseroan juga memaklumi langkah yang diambil PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk menghentikan sementara perdagangan saham BTEL.

"Kami bisa mengerti kenapa regulator mensuspen perdagangan saham BTEL untuk mencegah spekulasi sambil menunggu sisa pembayaran utang obligasi yang total nilainya Rp650 miliar. Nilai sebesar Rp250 miliar sudah dibayarkan pada Jumat lalu, dan sisanya ditransfer oleh kreditur langsung ke rekening KSEI sore ini. Dari KSEI baru didistribusikan ke rekening bondholders,”kata Direktur Keuangan BTEL, Jastiro Abi.

Dia menjelaskan, alasan belum dibayarnya sisa utang obligasi sebesar Rp 400 miliar dikarenakan libur nasional bursa saham New York awal pekan kemarin, sehingga kreditur tidak bisa melakukan transaksi. lia/ ahmad/bani