Pemerintah Didorong Percepat Diversifikasi Pasar Ekspor

Krisis Global Hantam Sektor Industri

Selasa, 04/09/2012

NERACA

Jakarta - Untuk menyelamatkan industri dalam negeri dari imbas krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa, pemerintah harus melindungi pasar dalam negeri dan diversifikasi pasar ekspor.

“Menurunnya ekspor hasil industri selama ini selaras dengan merosotnya permintaan global akibat krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa. Ekspor ke beberapa negara sangat tergantung pada permintaan sejumlah negara mitra dagang seperti Amerika Serikat 15% dan Eropa 10%-15%,” kata Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional, Kementerian Perindustrian (Kemperin), Agus Tjahjana di Jakarta, Senin (3/9).

Memburuknya kondisi di Amerika Serikat dan Eropa menurut Agus, memicu persaingan antar negara eksportir dunia. Hal tersebut membuat importasi produk semakin deras. “Penyikapan dari kondisi ini adalah dengan melakukan diversifikasi pasar. Itu perlu, tapi ada yang lebih penting, yakni selamatkan dulu pasar dalam negeri,” paparnya.

Kontribusi pasar dalam negeri terhadap perekonomian, lanjut Agus, mencapai 70% dari total produksi nasional. Besarnya potensi pasar domestik sangat menarik eksportir negara lain untuk menjual produk-produknya di Indonesia. “Baja dan produk karet, seperti ban, ekspornya turun. Kalau ekonomi melemah, pembangunan terhambat, maka permintaan turun,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Indef Ahmad Erani Yustika memaparkan pemerintah patut melindungi dunia usaha nasional agar tidak hancur digerus imbas krisis. Bagaimana pun, dunia usaha adalah aset nasional yang menjadi gantungan hidup banyak orang, di samping turut berperan menggerakkan roda ekonomi di dalam negeri.

Namun, perlindungan pemerintah ini harus benar-benar objektif untuk menyelamatkan dunia usaha serta bebas moral hazard (penyimpangan secara moral). "Untuk itu, kebijakan yang harus dilakukan pemerintah, antara lain, penurunan suku bunga kredit perbankan, kampanye penggunaan produk dalam negeri, insentif pajak, serta fasilitasi pasar," kata Erani.

Lebih jauh lagi Erani mengungkapkan, arus masuk barang impor juga harus diperketat untuk mengamankan pasar dalam negeri bisa optimal diisi oleh dunia usaha nasional. Di tengah krisis ekonomi global sekarang ini, maraknya barang impor apalagi masuk secara ilegalsangat tidak sehat bagi kehidupan industri nasional.

"Industri kita niscaya terpuruk jika produk impor masuk ke pasar domestik. Sebab, produk impor lebih murah karena sarat subsidi. Apalagi jika produk tersebut masuk ke dalam negeri secara ilegal," kata Erani.

Dia juga mengingatkan, produk impor juga bisa mengalir deras ke dalam negeri karena pemerintah tidak mengenakan bea masuk secara maksimal.Karena itu, jika di tengah krisis keuangan global sekarang ini pemerintah tidak membuat kebijakan yang melindungi dunia usaha nasional, maka pemutusan hubungan kerja (PHK) massal sulit dihindari. Selebihnya, bukan tidak mungkin, dunia usaha nasional sendiri akhirnya hancur.

Dia menyarankan, pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan yang benar-benar memihak dunia usaha nasional. Jika tidak, imbas krisis keuangan global niscaya membuat dunia usaha di dalam negeri terpuruk. Erani mengingatkan, pemerintah berkewajiban melindungi dunia usaha nasional agar tetap mampu bertahan dari imbas krisis global sekarang ini. Bagaimana pun, dunia usaha adalah aset berharga karena menjadi gantungan hidup banyak orang, di samping berperan sebagai pilar ekonomi nasional. "Perlindungan terhadap dunia usaha nasional ini juga dilakukan oleh negara-negara lain, seperti Korsel, Amerika, Jepang, juga negara-negara Uni Eropa," katanya.