Mafia Impor, Dari Kedelai Hingga Daging

NERACA

Jakarta – Ungkapan “Negeri Mafi” agaknya sangat cocok dialamatkan kepada Indonesia. Setidaknya, hal itu tercermin dari geliat mafia impor yang menguasai perdagangan kedelai dan daging. Para mafia yang diduga kuat membentuk kartel dagang ini berpotensi menghancurkan industri dan perdagangan domestik.

Belum lama ini, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai, kenaikan harga kedelai di pasaran dalam dua pekan terakhir ini diduga kuat merupakan akibat dari aksi kartel kedelai yang bersifat oligopolistik. KPPU mengindikasikan dua perusahaan besar, yakni PT Cargill Indonesia (CI) dan PT Gerbang Cahaya Utama (GCU) telah melakukan praktik kartel kedelai.

Dalam pandagan KPPU, PT CI jelas merupakan produsen top produk pertanian asal Amerika Serikat yang pada 2008 telah menguasai pasar impor kedelai sebesar 28%. Sedangkan PT GCU merupakan importir lokal yang memasok kedelai ke pasar domestik yang menguasai pasar impor kedelai sebesar 47%.

Di tempat terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi Pertanian Univ. Lampung Prof. Dr. Bustanul Arifin mengatakan, kaum petani kedelai tak bisa menikmati kenaikan harga komoditas itu lantaran masih bercokolnya para pengusaha yang membentuk kartel sehingga bisa leluasa memainkan harga. Kisruh kenaikan harga kedelai ini sempat membuat industri tempe dan tahu melakukan aksi mogok berjamaah beberapa waktu lalu.

“Di sini oligopoli (kartel) masih bercokol. Mereka menguasai dan dapat mengatur harga mulai dari tingkat petani, distributor sampai pengecer, mereka punya kekuatan. Jadi nol besar kalau kenaikan harga kedelai dinikmati petani,” ujarnya.

Dia mengakui, tak mudah memberantas kartel kedelai. Jika ingin menghapus para kartel ini, lanjutnya, harus ada perombakan total sistem produksi dan keberpihakan terhadap petani. Apalagi angka-angka produksi tahun lalu sangat memprihatinkan. Jagung, kedelai, gula semua menunjukkan angka minus. “Jika tidak ada perubahan total untuk meningkatkan produksi plus 5% dalam 5 tahun ke depan, Indonesia dalam bahaya krisis pangan,” terangnya.

Mafia Daging

Setelah kisruh soal kedelai sehingga pemerintah menetapkan bea masuk impor kedelai sebesar 0%, pasar domestik kembali diguncang dengan perilaku busuk para mafia impor daging. Ketua DPR Marzuki Alie di Gedung DPR RI mengatakan, harga daging sudah tidak masuk akal. Perdagangan daging di Indonesia sudah sejak lama dikendalikan oleh mafia yang mengambil keuntungan yang berlebihan, tetap menyusahkan rakyat Masuknya daging ilegal sebagai bukti bahwa perdagangan daging sangat menggiurkan.

Marzuki mengaku mendapatkan keluhan dari eksportir daging India yang tidak pernah berhasil masuk ke Indonesia. Menurut dia, harga daging di India sangat murah, hanya sekitar Rp 20 ribu per kilogram. Anggapan bahwa daging asal India berpenyakit mulut dan kaki adalah alasan yang dicari-cari, karena kejadian itu sudah lama sekali. Karena itu, Marzuki meminta Menteri Pertanian Suswono untuk membuka ruang yang lebih besar bagi importir agar masyarakat tidak dirugikan karena mafia impor yang beralasan membela kepentingan rakyat demi untuk mendapatkan hak oligopoli yang meraup keuntungan besar.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Umum Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Indonesia Ngadiran menjelaskan, lonjakan harga daging saat menjelang Hari Raya Idul Fitri bukan sekedar siklus tahunan yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan oleh pemerintah. Namun karena memang ada permainan dari para mafia impor. Saat didesak siapa mafia impor itu, Nadiran enggan menyebutkan karena dia dulu pernah dimarahi oleh Menteri Pertanian soal penyebutan itu.

Sementara itu Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (APFINDO) Teguh Budiana mengatakan tidak bisanya masuk daging dari India dikarenakan negara India belum dikatakan bebas dari Penyakit Mulut Kaki (PMK) yang banyak menyerang sapi-sapi. Akan tetapi, menurut dia, keputusan Indonesia menolak impor daging dari India ataupun negara Amerika Latin lainnya sudah cukup tepat. Hal ini menurut dia berkaitan dengan maximum food security.

Adapun di mata Ketua Komisi IV DPR RI Romahurmuziy, adanya mafia impor daging adalah akibat dominasi importir tertentu yang memiliki kuota impor dan hanya digunakan sejumlah pengusaha impor yang terbatas. Dia juga menjelaskan bahwa terdapat aroma kartel sangat kuat dalam impor daging itu dikarenakan importir daging yang terbatas. Hal ini sudah terjadi sejak lama dikarenakan keterbatasan importir yang bisa menyebabkan adanya indikasi kartel.

BERITA TERKAIT

Hingga November 2017, Realisasi KUR 85,6%

  NERACA   Jakarta - Pemerintah mencatat realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga akhir November 2017 telah mencapai Rp91,3 triliun…

ITB Gelar Turnamen Golf Hingga Konfrensi - Rayakan Satu Abad

NERACA Tangerang Selatan – Rayakan satu abad, Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan rangkaian kegiatan mulai dari turnamen golf, konfrensi nasional…

Pertamina Pastikan Stok Elpiji Lebih dari Cukup

      NERACA   Jakarta - PT Pertamina (Persero) menyebutkan bahwa stok gas Elpiji tiga kilogram bersubsidi lebih dari…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Indonesia-Tanzania Tingkatkan Relasi Perdagangan

NERACA Jakarta – Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede melakukan pertemuan dengan Presiden Zanzibar Ali Mohamed Shein pada Jumat (24/11)…

Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (Bapok) menghadapi Hari Besar Keagamaam Nasional…

Dunia Usaha - HIMKI Tentang Wacana Dibukanya Kran Ekspor Log dan Bahan Baku Rotan

NERACA Jakarta - Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto mengatakan sampai saat ini masih ada pihak-pihak yang…