Idealnya, Bank Asing Jadi Pelengkap Saja

NERACA

Jakarta—Derasnya ekspansi bank asing ke Indonesia tentu akan memberi mudarat dan manfaat. Karena kehadiran mereka perlu dilihat dari dua sisi, yaitu bermanfaat jika regulasi dan pengawasannya tepat. Sebaliknya, mereka jangan dibiarkan seenaknya menguasai perbankan nasional. Kehadiran bank asing mestinya hanya jadi pelengkap perbankan di negeri ini.

Menurut pengamat perbankan FEUI Aris Yunanto, pemerintah harus memberikan perlindungan dan perhatiannya terhadap pertumbuhan perbankan lokal, baik melalui regulasi lewat Bank Indonesia ataupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Regulasi terhadap bank asing semata-mata untuk memenuhi struktur perbankan, yaitu memenuhi Basel Accord 3 struktur bank nasional,” ujarnya kepada Neraca, Kamis (2/8).

Aris tak membantah keberadaan bank asing memang dibutuhkan untuk meningkatkan intermediasi perbankan. Bahkan dapat pula meningkatkan efisiensi. “Artinya, rasio beban pendapatan operasionalnya rendah. Itulah sebabnya bank asing bisa memberikan suku bunga yang lebih rendah, terutama bagi sektor industri mikro,” ungkapnya

Harus diakui pula, menurut dia, tingkat return of investment (ROI) bank asing memang lebih tinggi dari perbankan Indonesia. “Perbankan lokal diakui masih berat dan belum sepenuhnya mampu. Jadi, masuknya bank asing ini merupakan salah satu acara untuk mengatasi hal tersebut,” tegasnya

Namun dia tetap meminta ekspansi bank asing tetap harus dibatasi. Jangan dibiarkan begitu saja. Karena bisa menguasai perbankan nasional. Akibatnya, mematikan lembaga keuangan Indonesia sendiri. “Bagaimanapun kita harus bisa membatasi dan mengawasi keberadaan bank asing, tidak menerimanya mentah-mentah,” ujarnya.

Yang penting, kata Aris, pengawasan terhadap bank asing diperketat dan jangan sampai masuk ke wilayah-wilayah keuangan daerah. Hal itu dikhawatirkan akan mematikan keberlangsungan perbankan-perbankan kecil, atau BMT-BMT yang ada. “Kasus DBS misalnya, di mana Danamon saat ini sudah masuk ke beberapa daerah di Indonesia,”tukasnya.

Lain lagi dengan pendapat pengamat perbankan Lana Soelistianingsih. Dia justeru melihat perilaku bank asing ini lebih banyak buruknya. “Malah lebih banyak kerugiannya. Bank asing selama ini hanya mengambil keuntungan dari dana pihak ketiga yang cukup besar dan membawa keuntungan mereka ke luar negeri,” ujarnya, kemarin.

Yang jelas, menurut dia, BI dan pemerintah seakan-akan tak perduli dengan keberadaan bank asing. Seharusnya BI bisa mencegah. Apalagi, banyak bank asing yang sudah masuk ke pelosok-pelosok negeri ini

Suka tidak suka, mau tak mau, lanjut Lana, BI dan pemerintah harus bertindak tegas dengan mencaput insentif -insentif atau kemudahan bagi bank asing. Secara keseluruhan BI dan pemerintah harus bisa menempatkan playing field perbankan asing ini dimana.

Namun diakui Lana, masuknya bank asing membawa kemajuan teknologi dan mendorong biaya bank menjadi murah. Namun kenyataannya, malah tidak murah. Karena ada kesalahan pada struktur perbankan dalam negeri.

Sedangkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto yang memandang banyaknya perbankan asing yang masuk ke sektor mikro maka akan menciptakan persaingan yang kurang sehat. “Jika banyak perbankan asing masuk ke sektor mikro maka akan tercipta persaingan yang tidak sehat,” tukasnya.

Pasar BPR Tergerus

Joko menambahkan kompetisi ini justru membuat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di daerah makin tergerus disebabkan kalah bersaing. “Kalau berbicara kredit maka cost of fund dari bank asing lebih murah dibandingkan dengan BPR,” katanya.

Kalau berbicara produk, tambah Joko, antara BPR dan perbankan asing maka sama-sama menjual produk yang sama. Namun BPR memiliki kelebihan yaitu mempunyai kedekatan dengan nasabahnya. “BPR dikenal dengan community bank dengan predikat sebagai pelayan masyarakat. Itulah kekuatan BPR yang tak dimiliki oleh perbankan asing,” imbuhnya.

Oleh karena itu, sambung Joko, keberadaan perbankan asing perlu diatur agar persaingan bisa fair. “Jangan sampai perbankan asing masuk ke wilayah mikro, karena itu bisa mempengaruhi market share dari BPR tersebut,” tuturnya.

Terhadap hal ini, Direktur Operasional dan Keuangan Bank Mega, J.Georgino Godong hanya berharap BI lebih memperhatikan perbankan nasional. “Bank Indonesia dalam memberikan izin kepada bank asing untuk segala sesuatunya harus mementingkan kepentingan perbankan nasional.” ungkapnya.

Georgi mengakui bank lokal maupun asing telah hidup bersama-sama dan bersaing juga bersama-sama. Maka diharapkan bisa mendongkrak kemajuan dunia perbankan Indonesia. Walaupun hidup bersama-sama dalam dunia perbankan dengan adanya persaingan tetapi terdapat kerjasama juga dengan mereka,” ujarnya.

Georgi menjelaska banyaknya bank asing diharapkan bisa menimbulkan persaingan yang sehat dalam dunia perbankan dan kerjasama yang baik dalam memajukan perbankan Indonesia. “Kebijakan pemerintah maupun Bank Indonesia diharapkan mendukung setiap langkah memajukan perbankan Indonesia,” katanya.

Sementara, Martin Mulwanto, Direktur Market dan Treasury Bank ANZ Indonesia mengatakan bank asing hanya memfokuskan pada perdagangan ekspor impor saja. “Makanya kita mengeluarkan sistem elektronik yang membantu mempermudah tracking barang yang diekspor, kan devisa hasil ekspor (DHE) diminta untuk di sini kan. Kita termasuk yang pertama di Indonesia dalam soal ini," ujarnya.

Martin menambahkan bank asing memang lebih menonjol dalam pembiayaan ekspor ketimbang bank-bank lokal Indonesia dan akan terus berkembang ke depannya dalam bidang ini. "Saya rasa memang pada dasarnya dari dulu untuk pembiayaan (ekspor), misalnya instrument PLC atau apa, bank asing yang lebih dipercaya. Sekarang kondisinya bank asing juga mixed, tapi potensialnya kita cukup besar karena secara global peringkat ANZ lebih bagus ketimbang bank lokal yaitu AA. Saya rasa kita masih akan terus berkembang di sisi pendanaan ekspor-impor, apalagi jika dilihat proyek pemerintah untuk industri Indonesia ke depannya adalah harus menghasilkan bukan hanya produk barang mentah saja," pungkasnya. mohar/lia/iwan/bari/ria/cahyo

BERITA TERKAIT

Bank Panin Tambah Porsi Saham Jadi 42,54% - Rights Issue Panin Dubai Syariah

NERACA Jakarta - Jelang rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue, PT Bank Panin…

BEI Bilang Delisting Butuh Proses Panjang - Sikapi Kasus Bank of India

NERACA Jakarta- PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) tengah meminta PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menghapus sahamnya (delisting)…

LABA BERSIH BANK BJB TUMBUH

Komisaris Utama Bank BJB Klemi Subiyantoro (ketiga kiri) berbincang dengan Direktur Utama Ahmad Irfan (kedua kiri), Direktur Komersial merangkap Direktur…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

EKSPOR MOBIL RI KE VIETNAM MULAI TERANCAM - Luhut: Dubes Harus Mampu Berikir “Out of The Box”

Jakarta-Menko bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menilai, Indonesia harus menjalankan politik luar negeri yang lebih ofensif, dengan tetap mengedepankan kepentingan…

Kebijakan Impor Beras Butuh Sinkronisasi Data

NERACA Jakarta – Pemerintah perlu benar-benar melakukan sinkronisasi data terkait dengan kebijakan yang membuka masuknya beras impor agar jangan sampai…

KONSEKUENSI DERASNYA ARUS DIGITALISASI - 2018, Perusahaan Konvensional Terus Tergerus

Jakarta-Meski ekonomi dunia termasuk Indonesia ‎diperkirakan akan membaik pada 2018, arus digitalisasi terus merambah sehingga perusahaan ritel maupun transportasi konvensional…