IHSG Terhantam Badai Penurunan Kinerja Saham Bluechips

NERACA

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis 11,8 poin atau 0,2% ke level 4.130,46 pada penutupan perdagangan Rabu (1/8). Hal ini akibat beberapa saham-saham berkapitalisasi besar (blue chips) mengalami penurunan laba bersih di semester I-2012.

Menurut pengamat pasar modal Budi Frensidy, penurunan laba ini tentu berpengaruh terhadap harga saham, dilihat dari sebelum pengumuman laporan keuangan. "Kalau harga sahamnya tidak naik tinggi (sebelum pengumuman laporan keuangan), maka adjustment-nya relatif tidak signifikan,” ujar dia kepada Neraca, Rabu (1/8).

Akan tetapi, lanjut Budi, apabila ternyata harganya sudah naik tinggi sebelum pengumuman laporan keuangan, dan labanya di bawah perkiraan, maka akan ada ekspektasi dari investor yang tidak terpenuhi. Penurunan laba merupakan faktor penting yang mempengaruhi penilaian investor kepada saham emiten.

"Sudah pasti laba itu merupakan faktor fundamental utama dari emiten yang mempengaruhi penilaian investor terhadap saham mereka," tambahnya. Namun demikian, Budi memprediksi pada Agustus ini akan terjadi koreksi yang cukup signifikan terhadap IHSG.

"Bulan Agustus adalah bulan di mana sering terjadi koreksi negatif terhadap indeks dan sebagian besar saham. Selama 18 tahun terakhir, IHSG sangat turun di bulan Agustus, bahkan pernah turun terdalam sampai minus 31% di bulan ini tahun 1998 silam," tegas Budi.

Terkait prediksi kuartal ketiga, dosen FEUI ini mengatakan bahwa koreksi indeks di Agustus jelas mempengaruhi prediksi ke depannya.

“Bulan September (indeks) akan stagnan. Sedangkan pada November sampai Desember, IHSG biasanya selalu naik. Khususnya bulan Desember, selama 18 tahun terakhir, hanya turun dua kali. Mungkin karena penutupan sehingga ada yang berkepentingan supaya terus naik," ungkap dia.

Ketika ditanya apakah ada dampak dari akan diberlakukannya RPP Tembakau terhadap penurunan laba perusahaan rokok, seperti Gudang Garam, Budi mengatakan pasti ada. "Dampaknya tentu ada. Kalau (laba) turunnya besar, maka itu terjadi over reaction dari para investor. Mereka melihat mulai tidak jelasnya prospek industri rokok," imbuhnya.

Dia menambahkan, meskipun ada aturan pembatasan, namun perusahaan rokok akan tetap berusaha melakukan ekspansi dan penambahan kapasitas untuk meluaskan pasar, seperti membangun pabrik-pabrik baru.

Budi menambahkan bahwa saham-saham blue chips pasti akan ada naik-turunnya karena pengaruh pasar. Kemudian setelah harga sahamnya jatuh, maka investor pasti melakukan sesuatu.

"Kalau investor individu (ritel) kemungkinan besar mereka akan cepat-cepat menjual sebagian besar atau bahkan semua dari saham yang jatuh. Kalau investor institusi, kemungkinan mereka akan meminta underwriter untuk mengurangi sahamnya pada emiten itu dan memindahkannya ke saham emiten lain yang prospeknya lebih bagus," tukas Budi.

Bahkan, penurunan keuntungan dua emiten rokok, Gudang Garam dan Bentoel, akibat tingginya harga cengkeh serta beban pokok penjualan dan operasional serta cukai juga sedang naik.

Sekedar informasi, Bentoel membukukan rugi bersih sebesar Rp156,14 miliar pada semester I-2012 dari laba Rp235,15 miliar pada periode yang sama 2011. Hal ini disebabkan melonjaknya beban pokok penjualan dan beban penjualan perseroan.

Anjlok Akibat Global

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Isaka Yoga, punya pendapat berbeda. Dia tidak melihat pengaruh kinerja buruk dari masing-masing emiten blue chips yang harga sahamnya anjlok. Menurut dia, anjloknya IHSG bukan hanya dialami Indonesia saja tetapi merata di seluruh dunia.

“Di Bursa Amerika Serikat (AS) memang ada beberapa emiten yang harga sahamnya anjlok karena kinerja mereka yang tidak baik. Contohnya saham Facebook, yang anjlok akibat kinerja yang tidak baik. Sementara di Indonesia, saya melihat tidak ada yang seperti itu, semua saham anjlok dikarenakan gejolak pasar,” kata Isaka kepada Neraca, kemarin.

Hal itu disebabkan lantaran investor belakangan ini memindahkan portofolio mereka ke bidang investasi lainnya. Dia juga memprediksi pada kuartal ketiga nanti, saham-saham yang anjlok ini akan segera naik. Khususnya untuk saham-saham telekomunikasi, yang notabene memiliki pasar cukup bagus.

Terkait promosi, Isaka mengakui akan menjadi kesulitan tersendiri bagi emiten-emiten rokok. Terlebih jika nantinya RPP Tembakau diberlakukan. Namun demikian, aturan di Indonesia masih lebih longgar jika dibandingkan negara lain semacam Singapura, AS, dan Eropa mengenai tembakau ini.

Produsen rokok besar, PT Gudang Garam Tbk (GGRM), memang meraih laba bersih di semester I-2012 sebesar Rp2,12 triliun. Namun, perolehan laba bersih ini menurun sebesar 8,5% dibandingkan perolehan laba bersih perseroan di perode sama 2011 yang tercatat sebanyak Rp2,32 triliun.

Penurunan laba bersih ini dikarenakan tingginya beban pokok penjualan di paruh pertama tahun ini yang mencapai Rp19,01 triliun atau naik sekitar 26,17% dari beban pokok penjualan di semester I-2011 yang hanya Rp15,06 triliun.

Sementara PT XL Axiata Tbk (EXCL), juga mencatatkan penurunan laba tahun berjalan dalam enam bulan pertama di 2012, yaitu 4,07% menjadi Rp1,460 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp1,522 triliun.

Direktur Utama EXCL, Hasnul Suhaimi menuturkan, tergerusnya laba disebabkan tingginya beban interkoneksi dan beban langsung mencapai Rp1,306 triliun. Angka ini mengalami kenaikan 7,04% dari Rp1,220 triliun pada semester I-2011.

BERITA TERKAIT

Lagi, IHSG Catatkan Rekor Baru 6.113 Poin

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (14/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mencatatkan…

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Skema Lelang Gula Rafinasi Dinilai Tidak Efektif

  NERACA Jakarta – Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan distribusi gula rafinasi melalui mekanisme lelang dinilai tidak…

DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED - BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25%

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

PENGELOLAAN SEKTOR ENERGI - BUMN Migas Vs BUK Migas, Mana Lebih Efisien?

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha berharap pemerintah tidak buru-buru merealisasikan pembentukan induk usaha…