Tunduk pada Aksi Spekulan

Rabu, 18/07/2012

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Bulan Ramadhan ternyata tidak hanya jadi momentum kaum muslimin meningkatkan pendakian spiritual, akan tetapi juga menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang bersentuhan--baik langsung maupun tak langsung--dengan transaksi untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Semakin dekat puasa, semakin dekat lebaran, maka semakin tinggi pula lonjakan harga kebutuhan pokok. Beberapa hari menjelang puasa, kenaikan harga begitu terasa, hampir di seluruh pasar di Indonesia. Di Jakarta, umpamanya, untuk harga beras kualitas rendah naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 7.500. Sementara kualitas sedang dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.000. Sedangkan kualitas bagus naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 9.000 per kilogram.

Begitupun harga daging sapi yang naik menjadi Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogram. Sedangkan daging ayam dari Rp 25 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram. Bahkan cabai keriting juga naik dari Rp 22 ribu menjadi Rp 25 ribu per kilogram. Demikian pula harga cabai rawit melonjak dari Rp 22 ribu menjadi Rp 24 ribu per kilogram.

Tentu saja, semua orang tahu, kenaikan harga pangan telah menjadi masalah rutin tiap tahun. Bahkan, lebih dari sekedar rutinitas, lonjakan harga kebutuhan pokok menjelang bulan puasa dan lebaran sudah jadi masalah akut menahun. Namun, pemerintah selalu “jatuh” di lubang yang sama.

Tata kelola harga pangan benar-benar dibiarkan liar dengan dalih mekanisme pasar. Seiring permintaan pasar yang meningkat tajam, maka pemerintah seperti membiarkan para pedagang menanggok untung lebih besar, bahkan membiarkan puasa dan lebaran menjadi peak season sekaligus jadwal mengambil keuntungan (profit taking), apalagi bertepatan dengan liburan anak sekolah.

Liberalisme perdagangan inilah yang membuat para spekulan punya ruang yang begitu luas untuk mempermainkan harga. Ketidakmampuan pemerintah menindak tegas para spekulan yang mempermainkan harga kebutuhan pokok menjadi salah satu penyebab rutinitas kenaikan harga pangan menjelang Ramadhan.

Pemerintah seperti tunduk di bawah ulah spekulan yang giat menimbun barang. Dengan modal besar dan jaringan yang mapan, pemerintah seperti tak berdaya bahkan takluk di bawah aksi mereka. Maka tak heran, kenaikan harga kebutuhan pokok diprediksi melebihi 20% dibandingkan tahun lalu. Tentu saja, lonjakan permintaan barang dan jasa ini akan menyebabkan lonjakan impor.

Kenaikan harga seara liar ini sejatinya merupakan akibat adanya kombinasi ekspektasi dari konsumen dan tingkah laku dari pedagang yang tidak ingin kehabisan stok. Itu sebabnya, pemerintah harus melakukan berbagai langkah terobosan dalam rantai distribusi, karena secara produksi banyak bahan pokok sedang dalam masa panen.

Namun kenaikan yang terjadi menunjukan bahwa adanya spekulasi harga di luar faktor produksi, dan bukan lantaran melimpahnya produksi. Tentu kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah agar melakukan langkah antisipasi secara maksimal di tingkat produksi dan melakukan stabilitasi harga dalam rantai distribusi.