Ekonomi Belum Beres, Malah Boroskan Devisa - RI akan Pinjami ke IMF US$1 Miliar

NERACA

Jakarta – Pemerintah jangan menghambur-hamburkan devisa negara hanya untuk memberi pinjaman kepada Dana Moneter Internasional (IMF). Daripada cadangan devisa RI keluar tanpa tujuan jelas. Lebih baik untuk membantu ekonomi dalam negeri. Apalagi, saat ini ekonomi Indonesia dalam keadaan tidak pasti akibat rencana pemerintah untuk menaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Pemerintah memang berencana memberikan pinjaman ke IMF sampai sebesar US$1 miliar. Rencana ini mengundang kecaman dan protes dari banyak kalangan.

"Daripada pajak dari iuran rakyat untuk subsidi mereka. Baiknya kita mikir rakyat kita sendiri belum lagi pemerintah akan menaikan harga BBM. Kalau devisa ini keluar, kita harus minta pertanggungjawaban Menko, Menkeu dan Presiden," tegas pengamat ekonomi Farial Anwar saat dihubungi NERACA, Kamis (28/6).

Menurut Farial, negara yang akan menikmati pinjaman utang tersebut adalah negara-negara yang nyentrik dengan "foya-foya", sedangkan mereka (negara yang didanai IMF) tak pernah memikirkan nasib rakyat Indonesia sebagai pemberi subsidi. "Tidak pantas dan tidak layak. Rakyat Indonesia harus marah dengan sikap pemerintah itu," tandas dia.

Farial menegaskan, tahun 1998 silam hingga saat ini IMF tak ubahnya lembaga pemberi saran yang bodoh. "IMF itu dukun bodoh, mana pernah saran-saran mereka berhasil untuk sejahterakan rakyat Indonesia. Kenyataannya, IMF cuma bisa porak-porandakan ekonomi Indonesia. IMF buat kita kacau balau terutama pasca 1998. Rupiah fluktuatif dan sangat melemah hingga tembus Rp10 ribu. Suku bunga 41,24%, belum lagi saran IMF mengadakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Sampai sekarang saran-saran bodohnya tidak ada yang memajukan ekonomi. Hanya meninggalkan kesengsaraan rakyat Indonesia," papar dia.

Farial menyarankan kepada pemerintah untuk berpikir cerdas dan jangan lagi asyik melakukan tebar pesona. Untuk rakyat Indonesia, Farial mengingatkan agar melakukan protes kepada pemerintah agar langkah bodoh tersebut dibatalkan pemerintah.

Utang yang akan disalurkan kepada IMF, imbuh Farial, sangat berpotensi gagal bayar. Saat ini saja pemerintah di beberapa negara di Eropa tidak mampu menjual surat utang negara, padahal harga kembalinya sangat tinggi. "100% mereka gagal bayar. Mereka sekarang saja mau hidup dengan keluarkan surat utang negara tidak mampu menjualnya. Jeblok di pasar dengan harga tertinggi sepanjang sejarah. Belum lagi rating mereka di bawah investment grade (peringkat utang). Kita belum pantas," cetus dia.

Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis tak mau ketinggalan menyikapi rencana tersebut. “Apa maksud Indonesia memberikan pinjaman kepada IMF, dasarnya apa," tukas Harry kepada Neraca, Kamis.

Menurut Harry, pemberian pinjaman kepada IMF tersebut harus diketahui dan disetujui DPR. Dalam membuat persetujuannya, DPR tentu akan melihat apa yang menjadi tujuan dan landasan pemberian pinjaman tersebut. “Pemberian utang tidak bisa diberikan begitu saja dan harus jelas apa yang akan didapatkan Indonesia. Kalau pinjaman tersebut tidak berlandaskan apa-apa, terlebih hanya pernyataan Menkeu, itu gila namanya," tegas Harry seraya menyebutkan bahwa hal itu tentu harus dilakukan secara jelas dan transparan, rasional, serta diketahui publik.

Sementara Direktur LSM Koalisi Anti Utang Dani Setiawan mengatakan, yang perlu ditekankan adalah bahwa Menteri Keuangan tidak perlu berbohong dengan kata-kata yang membodohi rakyat yang mengesankan bahwa pemerintah punya kemampuan untuk meminjami IMF. “Yang ada, IMF itu adalah sebagai lembaga yang memberi pinjaman kepada negara-negara,” katanya.

Menurut Dani, aksi pemerintah ini ditujukan untuk menambah cadangan modal IMF. Apalagi, Menkeu baru pulang dari G-20, dimana di sana negara-negara (misalnya, Brazil, Cina, dan India) itu berkomitmen untuk menambah cadangan modal IMF untuk memulihkan krisis di Eropa.

Bagi negara-negara maju, seperti AS dan Eropa, IMF adalah lembaga penting untuk memulihkan krisis. “Jadi mungkin saja Menkeu itu ketika di sana ditanya atau ditagih janjinya untuk memberikan modal kepada IMF. Jadi, ada tekanan dari negara-negara maju. Bolehlah kalau kita ingin solidaritas terhadap negara-negara di Eropa, namun tidak dengan cara menambah cadangan modal IMF. Sebenarnya pada 2008, IMF sudah hampir bangkrut karena semua negara yang pernah diberi utang sudah mengembalikannya. Bahkan, mereka sudah menjual cadangan emasnya untuk biaya operasional, dan lainnya,” papar Dani.

BERITA TERKAIT

Menhub Sebut Transportasi Massal Belum Maksimal

  NERACA   Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengakui angkutan massal dan pelayaran rakyat adalah dua hal yang…

Tarif Tol Suramadu akan Digratiskan

    NERACA   Siduarjo - Pemerintah dalam waktu dekat ini segera membebaskan pembayaran untuk kendaraan roda empat atau lebih…

Forum Pemerhati Kebijakan Publik Akan Bedah Perpres 20 Tahun 2018

Forum Pemerhati Kebijakan Publik Akan Bedah Perpres 20 Tahun 2018 NERACA Sukabumi – Diterbitkannya Peraturan Presiden nomor  20 Tahun 2018…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

DANA KELURAHAN TERGANJAL PERATURAN - Dana Saksi Berpotensi Langgar UU No 7/2017

Jakarta-Pemerintah menilai usulan alokasi anggaran khusus untuk dana saksi pemilihan umum (Pemilu) berpotensi bertentangan dengan pasal 451 UU No. 7/2017…

OJK Batasi Rasio Kredit Bermasalah Fintech Tak Lebih 2%

NERACA Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta kepada seluruh perusahaan financial technology (Fintech) berbasis peer to peer (P2P) lending yang sudah…

RI BAKAL KENA IMBASNYA PADA KUARTAL III-2018 - China Alami Pertumbuhan Rendah 6,5%

Jakarta-Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistic-NBS) memprediksi pertumbuhan ekonomi China pada kuartal III-2018 melambat di level terlemah sejak krisis…