Mimpi Nuklir

Rabu, 16/03/2011

Perbincangan atau lebih tepatnya perdebatan soal perlunya Indonesia memiliki pembangkit tenaga nuklir kembali menyeruak pasca bocornya instalasi PLTN Fukushima Daini dan disusul PLTN Fukushima Daiichi akibat gempa bumi berkekuatan 9 skala Richter.

Segera saja kita dihadapkan pada hitung-hitungan risiko yang sama oleh kalangan yang mengkritisi kehadiran PLTN di Tanah Air. Pertama, kondisi geografis kita "sebelas dua belas" dengan Negeri Matahari yaitu berada di lingkar Cincin Pasifik, deretan vulkanik yang melingkari Pasifik dari pantai barat Benua Amerika hingga sisi timur Asia termasuk Jepang, Filipina dan Indonesia.

Di saat yang sama, rencana pembangunan PLTN tengah dirancang dan bahkan beberapa lokasi tengah dikaji secara matang. Paling mutakhir adalah penyiapan lahan di Bangka Belitung, provinsi kepulauan di lepas pantai Sumatera, wilayah pemekaran dari Sumatera Selatan.

Pemerintah Provinsi Bangka Belitung sendiri malah antusias dengan rencana membangun dua Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir berkekuatan 10.600 MW. Lahan pun telah disiapkan di dua lokasi sekaligus. Pertama di Muntok, Bangka Barat yang berkekuatan 10.000 MW dan di Desa Permis, Bangka Selatan, berkapasitas 600 MW. Dana sebesar Rp 159 milyar pun telah disiapkan bagi Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) untuk melakukan studi kelayakan.

Sebelumnya, pemerintah menunjuk kawasan Semenanjung Muria di Jawa Tengah. Daerah lain yang dilirik adalah Kalimantan dan Papua. Bumi Borneo memiliki nilai tersendiri karena tercatat merupakan daerah yang minim, untuk tidak menyebut tidak pernah, mengalami goncangan gempa. Tentu kita ingat, setiap rencana pembangunan PLTN selalu diikuti penolakan warga setempat maupun kalangan luas.

Kita sebenarnya memiliki sumber daya yang mampu mengalirkan listrik ke rumah- rumah warga dan menggerakkan mesin-mesin industri. Panas terik sepanjang tahun memberi sengatan untuk solar cell. Lalu, aliran angin terutama di kawasan timur Indonesia mampu memutar baling- baling pembangkit tenaga bayu. Begitu pula dengan ombak samudera yang menghempas di sepanjang 95.181 km garis pantai.

Tentu saja, selalu ada kalkulasi keekonomian. Tiga energi terbarukan yang didapat di atas permukaan tanah itu dinilai kurang efisien, berteknologi mahal dan terhitung kurang mampu memenuhi dahagakebutuhan listrik. Sebaliknya, di perut bumi kita memiliki simpanan sumber energi. Yaitu, batubara dan minyak bumi namun harganya makin meninggi dan menggelontorkan emisi karbon pekat.

Maka, alih-alih memiliki lumbung nuklir yang berisiko tinggi dan menggantungkan batubara serta minyak yang kurang ramah lingkungan, energi panas bumi layak dikedepankan memasok setrum untuk menopang target pertumbuhan 6,4%. Panas bumi sekaligus sebuah pembalikan dari nuklir. Jika pada nuklir kita berhitung risiko potensi gempa karena kita berada di Cincin Pasifik dan memiliki deretan gunung berapi maka sebaliknya, panas bumi adalah anugerah dari kekayaan vulkanik itu sendiri.

Nah, sekali lagi tengoklah pesan para tetua ini. Berharap pada burung yang terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan. Jangan sampai bermimpi soal nuklir malah membuat abai pada energi yang kita telah punyai.