Undisbursed Loan Tinggi, Pemangkasan Dividen Bank BUMN Tak Masuk Akal

NERACA

Jakarta – Sejatinya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bisa menjadi penopang utama pendapatan negara setelah pajak. Namun dengan alasan ekspansi bisnis, industri perbankan BUMN ramai-ramai mengusulkan pembagian dividen 2011 lebih rendah dari target awal 30% atas laba bersih perseroan.

Misalnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BBMRI) semula mengusulkan pembagian dividen 2011 sebesar 30%, namun akhirnya merealisasikan sebesar 20% dari laba bersih.

Menurut pengamat pasar modal dan perbankan Lana Soelistianingsih, usulan perbankan BUMN meminta dividen lebih rendah harus direspon serius. Pasalnya, alasan ekspansi dan pertumbuhan kredit lebih agresif menjadi lagu lama untuk dibalik usulan penurunan dividen. ”Saya mengecam perbankan jika dividen diturunkan tidak diimbangi dengan peningkatan kredit yang tidak terealisasi,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (23/4).

Dia menambahkan, sangat tidak beralasan bila penurunan dividen menjadi upaya untuk mendongkrak pertumbuhan kredit. Alasannya, saat ini rasio kecukupan modal (CAR) perbankan pemerintah sebenarnya sudah cukup baik jika ingin menggenjot sektor kredit.

Selain itu, minimnya penyerapan kredit juga tidak kritikan perbankan agar tidak memangkas dividen. Tercatat nilai komitmen kredit yang belum ditarik oleh debitur (undisbursed loan) pada kuartal I/2011 meningkat sebesar 32,05% menjadi Rp 623,22 triliun dari Rp 471,96 triliun pada kuartal I/2010

Oleh karena itu, cara seperti ini dinilai pesimis pertumbuhan kredit bisa tercapai lantaran penyerapan kredit tiap tahunnya meningkat yang tidak terealisasi atau terserap di pasar. “Kalaupun bunga kredit rendah yang menjadi faktor penentu lainnya banyak, karena permintaan bukan hanya karena suku bunga, tapi juga kondisi ekonomi. Nah sebenarnya, sekarang ini juga bank sudah bisa genjot kredit karena CAR sudah di atas rata-rata,”tandasnya.

Menurut dia, permintaan perbankan plat merah meminta dividen turun harus diberikan jaminan dan termasuk perbankan bisa menggenjot kredit di sektor infrastruktur guna memuluskan proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), “Jadi karena dividen sudah kecil, perbankan BUMN harus masuk menjadi investor MP3EI,”paparnya.

Selain itu, dia juga menuturkan dampak penurunan dividen akan berimbas pada ketimpangan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang mengandalkan sumber pendapatan selain pajak juga dividen BUMN, khususnya perbankan.

Penerimaan Negara Susut

Dia menjelaskan, jika dividen BUMN terus diperkecil, maka secara otomatis alokasi APBN ikut tergerus. Untuk itu, perbankan di ingatkan harus masuk ke program MP3EI sebagai komitmen mereka dalam menggenjot kredit infrastruktur. Langkah tersebut positif bagi perbankan karena laba perbankan akan tumbuh seiring meningkatnya sektor pembiayaan kredit infrastruktur.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal Yanuar Rizki, kesepakatan bank-bank BUMN untuk meminta pengurangan deviden tidak masuk akal dengan alasan ekspansi, “Harus jelas dulu apa tujuannya mengurangi dividen sebagai sumber pendapatan negara,”tegasnya.

Menurut Yanuar, alasan ekspansi kredit juga tidak bisa diterima begitu saja. Alasannya, melihat skala prioritas yang akan dikucurkan kredit untuk ekspansi bisnis, diantaranya penyaluran kredit ke bidang sektor riil atau pertanian.

Sementara untuk membuka cabang baru, dinilai Yanuar tindakan tersebut terlalu berlebihan. Pasalnya, untuk membuka cabang baru tidak hanya dilihat dari sisi permodalan saja. Tetapi harus dilihat dari berbagai sisi.

Sementara itu, dia tidak mau berkomentar akan adanya garansi penyaluran kredit dan ekspansi berjalan mulus. Menurutnya, yang tahu itu kan pemegang saham bank BUMN, dan bank BUMN itukan pemegang sahamnya menteri BUMN, dan saya tidak tahu apa maksudnya karena saya bukan menteri BUMN,” ucapnya.

Pandangan berbeda disampaikan pengamat perbankan Krisna Wijaya. Menurut dia, penurunan dividen untuk perbankan BUMN, diyakininya bisa jadi akan menaikkan kontribusi pada penyaluran kredit. ”Tentunya yang awalnya dari 35% menjadi 20% akan meningkatkan performa perbankan BUMN untuk ekspansi,” tukasnya.

Menurut Krisna, Bank BUMN jangan sampai kalah dengan perbankan swasta dalam hal ekspansi. ”Keuntungan bank BUMN lebih baik digunakan untuk memperkuat permodalan perusahaan sehingga laba perbankan lebih diprioritaskan pada penambahan modal dan mempertahankan CAR,”paparnya.

Krisna menyatakan porsi 20% untuk bank BUMN sudah cukup ideal, artinya perbankan harus bisa memanfaatkan deviden yang rendah. Selain itu, pengurangan besaran dividen ini, tambahnya, secara tidak langsung dapat berpengaruh kepada pengurangan suku bunga bank. Turunnya suku bunga perbankan, tentunya akan memberikan keuntungan kepada nasabah. ”Tidak langsung berpengaruh pada penurunan suku bunga, namun yang jelas dengan pengurangan dividen, kesempatan ekspansi kredit itu langsung,”jelasnya.

Tidak jauh berbeda juga disampaikan anggota DPR RI Achsanul Qosasi, penurunan dividen bank BUMN tidak akan memberikan dampak berarti terhadap penerimaan APBN. Alasannya, bank BUMN selama ini dituntut untuk melakulan ekspansi pembiayaan infrastruktur dan bukan untuk mengambil dividen besar, “Seharusnya deviden itu lebih digenjot dalam sektor pertambangan yang mengeruk APBN kita, sektor perbankan diberikan keluasaan untuk meminjemkan uang kepada rakyat,”tegasnya.

Kemudian Achsanul menjelaskan bahwa perbankan jangan terlalu diberatkan dengan Deviden tersebut dikarenakan perbankan itu untuk meningkatkan perekonomian Indonesia dengan memberikan modal usaha kepada rakyat.

Sebelumnya, Direktur Utama BMRI, Zulkifli Zaini mengklaim pembagian deviden sekitar 20% dari laba 2011 diharapkan dapat memperkuat ekspansi rencana ekspansi bisnis 2012 dalam merealisasikan penyaluran kredit di atas 22%. “Deviden 20% masih cukup baik diberikan untuk pemegang saham. Pembagian deviden sebesar 20% juga karena kami berharap pertumbuhan kredit minimal 22% dan akan terus berlanjut yang jelas target terjaga di 22%,”tuturnya.

Hal yang sama juga disampaikan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Gatot Suwandono, penurunan dividen sebesar 20% dimaksudkan untuk leluasa dalam ekspansi usaha, “Usulan dividen 2011 sebesar 20%, baru akan diputuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan diadakan lusa nanti,"tuturnya.

Menurutnya, usulan dividen 20% tersebut juga mempertimbangkan capital adequacy ratio (CAR) perseroan. Saat ini, CAR perseroan diperkirakan sekitar 17%. Sementara year to date kredit perseroan ada kenaikan sekitar 0,7%. Namun, dia mengakui, ada penurunan kredit cukup tinggi di korporasi sekitar Rp2 triliun pada Januari 2012. mohar/maya/ahmad/bari/bani

Related posts