Pemerintah Optimis Dongkrak Ekspor Pertanian

NERACA

Jakarta-Pemerintah Indonesia yang diwakili Kementerian Pertanian dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian, Pangan dan Kehutanan Italia berharap hasil pertanian Indonesia di Italia bisa lebih besar lagi.

Seperti diketahui bahwa Indonesia dan Italia memiliki hubungan yang telah terjalin sejak 1959, dan baru saja merayakan 70 tahun hubungan diplomatik pada 2019. Italia adalah mitra dagang terbesar ke-3 bagi Indonesia di antara negara-negara Uni Eropa. Dalam periode Januari-November 2019, Nilai perdagangan kedua negara mencapai US$3,17 Miliar.

Melihat fakta tersebut, Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo berharap komoditas pertanian Indonesia, seperti sawit, karet, buah tropis, teh dan rempah-rempah bisa diterima lebih besar lagi di Italia. Salah satu diantaranya produk kelapa sawit diketahui digunakan dalam industri makanan dan sebagai bahan bio-diesel di Italia. Menurut data ekspor sawit Indonesia ke Italia adalah sebesar US$ 570,2 juta, atau 29,7% dari total ekspor Indonesia ke Italia (sebesar US$ 1,92 Milyar) dan 79,7% dari total ekspor pertanian Indonesia ke Italia (sebesar US$ 715,6 juta).

Bahkan sektor pertanian Indonesia telah menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan dikelola secara sustainable. “Saya sampaikan kepada Menteri Bellanova, produk Indonesia telah memenuhi standar Uni Eropa di bidang kesehatan, dan fitosanitari SPS sehingga bisa di ekspor ke pasar Eropa, termasuk Italia," jelas Syahrul dalam keterangannya kepada Neraca, pekan ini.

Menanggapi lobi Syahrul, Menteri Pertanian, Pangan dan Kehutanan Italia, Teresa Bellanova mengatakan dirinya dapat menerima penjelasan bahwa perkebunan kelapa awit berperan dalam membuka lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Alhasil, Indonesia dan dan Italia sepakati penguatan kerjasama dan promosi pertanian. Hal ini menjadi bagian MOU antara Kementerian Pertanian RI dengan Kementerian Pertanian, Pangan, dan Kehutanan Italia.

Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani, menilai penandatangan MoU tersebut akan semakin memperkuat hubungan kedua negara dan dapat mendorong pembangunan sektor pertanian di Indonesia.

“MoU tersebut akan mempermudah pelaksanaan pertukaran informasi pertanian, pelatihan untuk peningkatan kapasitas serta penyelenggaraan joint research oleh lembaga penelitian pertanian di kedua negara,” jelas Esti.

Disisi lain, tidak hanya membuka pasar baru ataupun memperbesar pasar yang sudah ada, tapi juga harus tetap memnjaga pasar yang sudah terjalin erat seperti Pakistan.

Sebab harus diakui importir minyak sawit Indonesia terbesar keempat setelah India, China dan Uni Eropa dengan total volume ekspor minyak sawit Indonesia ke negara tersebut mencapai 2,5 juta ton pada 2018.

"Di tengah tekanan dan diskriminasi dagang dari Uni Eropa terhadap komoditas minyak sawit, Asia Selatan adalah pasar strategis yang harus dijaga. Selain Pakistan, tentu saja India dan Bangladesh," kata Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sarjono, di sela Konferensi Sawit Internasional Pakistan Edible Oil (PEOC) 2020 di Karachi Pakistan

Dalam kesempatan tersebut, Mukti juga menyampaikan perhatian terkait pasar India. Sebagai pasar ekspor minyak sawit Indonesia terbesar, ada penurunan tren volume ekspor ke India.

Pada 2017, volume ekspor minyak sawit Indonesia ke India mencapai 7,6 juta ton, namun pada 2018 turun menjadi 6,7 juta ton. "Nah ini mengkhawatirkan karena sampai Oktober 2019, volume ekspor baru mencapai 3,7 juta ton," ucap Mukti.

Selain India dan Pakistan, menurut Mukti, pasar Bangladesh juga perlu ditingkatkan, apalagi ekspor minyak sawit Indonesia ke negara tersebut mencapai 1,4 juta ton pada 2018.

Sebelumnya, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dalam HUT 47 dan Rakernas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)meminta industri hulu bisa menyerap produksi CPO nasional. Indonesia punya sumber daya sawit yang besar dan bisa membantu untuk mengurangi defisit neraca perdaganganHal ini diungkapkan menanggapi Uni Eropa (UE) yang menghambat ekspor biodiesel yang berbahan baku dari kelapa sawit. Artinya jika UE menghambat biodiesel yang berbahan baku kelapa sawit maka bisa digunakan sendiri atau untuk dalam negeri.

Bikin menjadi barang jadi. Kalau tidak kita akan terus dimain-mainkan oleh negara lain. Uni Eropa mengeluarkan isu lingkungan untuk menyerang sawit kita," terang Jokowi.

Bahkan menurut Jokowi, jika Eropa tidak membeli, sudah tidak menjadi masalah untuk Indonesia. Sebab Indonesia selain sudah bisa memproduksi biodiesel juga sudah digunakan sendiri mulai B20 dan B30 pada 2020.

Sekedar catatan, rencananya biodiesel berbahan baku kelapa sawit akan digenjot hingga mencapai B100. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pasar ke luar negeri. "Itu karena Eropa memproduksi minyak bunga matahari. Eropa tidak beli tidak apa-apa. Kita sekarang sudah produksi B20 dan B30. Kita pakai sendiri saja," kata Jokowi.

Dengan menggunakan B30, Jokowi berharap bisa menghemat deivisa Indonesia mencapai Rp 110 triliun. Apalagi jika sudah mencapai B50, mungkin penghematan devisa sudah tak terhitung, mungkin bisa hemat mencapai Rp 200 triliun. “Kalau ini semua bisa masuk ke B100 saya tak bisa bayangkan bahwa kita sudah tidak impor minyak lagi. Semua yang kita pakai adalah biodiesel,” ujarnya. groho

BERITA TERKAIT

YLKI USUL TARIF LISTRIK DITURUNKAN - CORE: Perusahaan Rugi, THR Wajib Dibayarkan

Jakarta-Direktur Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Pieter Abdullah mengritik keras para pengusaha yang merasa keberatan dengan pembayaran…

Kebijakan Pangan Pasar Terbuka Bisa Tekan Dampak Covid-19

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menilai kebijakan pangan pasar terbuka bisa menjadi…

DAMPAK WABAH COVID-19 SEKITAR 3-6 BULAN - Indef: Pertumbuhan Ekonomi Bakal Menurun

Jakarta-Lembaga peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai wabah Covid-19 berdampak terhadap indikator ekonomi makro nasional baik…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

YLKI USUL TARIF LISTRIK DITURUNKAN - CORE: Perusahaan Rugi, THR Wajib Dibayarkan

Jakarta-Direktur Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Pieter Abdullah mengritik keras para pengusaha yang merasa keberatan dengan pembayaran…

Kebijakan Pangan Pasar Terbuka Bisa Tekan Dampak Covid-19

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menilai kebijakan pangan pasar terbuka bisa menjadi…

DAMPAK WABAH COVID-19 SEKITAR 3-6 BULAN - Indef: Pertumbuhan Ekonomi Bakal Menurun

Jakarta-Lembaga peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai wabah Covid-19 berdampak terhadap indikator ekonomi makro nasional baik…