Kenaikan Harga Pakan Ancam Daya Saing Peternak

NERACA

Jakarta - Peternak ayam broiler mulai khawatir dampak kenaikan harga bahan baku pakan ternak, yaitu jagung. Jika harga jagung terus naik, maka harga jual bibit ayam atau day old chicken (DOC) bakal ikut naik karena ongkos produksi yang semakin membengkak. Karena itu, Gabungan Organisasi Peternak Ayam (Gopan) memprediksi kenaikan harga pakan berpotensi mengancam daya saing peternak dalam negeri.

Ketua Gopan Tri Hardiyanto menuturkan, pemerintah harus mengambil peran yang strategis agar dapat menekan harga pakan ternak untuk melindungi daya saing peternak. Sementara Ruri Sarosono, Sekretaris Jenderal Gopan mengatakan, saat ini harga DOC di wilayah Jawa masih relatif stabil dibandingkan daerah Indonesia Timur. "Wilayah Jawa dijual sekitar Rp 3.750 hingga Rp 4.000 per ekor, namun daerah lain sudah naik menjadi Rp 4.500 per ekor," kata Ruri di Jakarta, Selasa (17/4).

Namun begitu, gejolak harga jual DOC sangat berkorelasi dengan perkembangan harga pakan. Saat ini, harga pakan sudah mencapai Rp 5.300 per kg atau naik 6% dari harga normal Rp 5.000 per kg. Ruri menjelaskan, harga pakan bergantung dari harga jagung. Sekarang ini, harga jagung mencapai Rp 2.500 per kg, padahal bulan lalu hanya Rp 1.800 per kg.

Ruri memprediksi, jika harga jagung tidak terkendali, maka harga DOC di Pulau Jawa bisa naik menjadi Rp 4.500 per ekor atau naik 12,5% dibandingkan harga normal sebesar Rp 4.000 per ekor. "Saat jagung anjlok, harga pakan tidak turun. Namun giliran harga jagung naik, harga pakan ikut naik," imbuhnya.

Bea Impor

Pemerintah akan menerapkan bea impor bahan baku pakan ternak sebesar 5%. Kebijakan ini dinilai akan berdampak besar kepada para peternak ayam. Misalnya, harga daging ayam dan telur diprediksi akan melonjak hingga 10-15%. “Kenaikan bea impor akan membebani para peternak unggas. Para peternak akan menaikan harga jual daging dan telur ayam,” kata Seketaris DPP Pengusaha Peternak Unggas Indonesia (PPUI) Aswin Pulungan.

Lebih parah lagi, Aswan khawatir akan terjadinya gulung tikarnya peternak rakyat. Pasalnya, daya beli masyarakat akan menurun. "Jumlah peternak rakyat di Indonesia saat ini ada sekitar 2.500 peternak rakyat. Saya khawatir 30% akan gulung tikar," sebutnya.

Namun, kenaikan harga daging dan telur ayam hingga 10-15% itu diprediksi akan meningkat lagi jika pemerintah menaikan harga Tarif Dasar Listrik (TDL) dan pembatasan BBM bersubsidi. Aswin menyebutkan, harga pakan ternak unggas memang terus melonjak. Pada November lalu harga pakan Rp4.800 per kilogram. “Saat ini harganya mencapai Rp5.200 per kilogram,” jelasnya.

Lebih jauh Aswin mengaku mendukung kebijakan kenaikan bea impor. Sebab, pemerintah bisa menghasilkan pendapatan negara. Selain itu, sekira 70 % peternak ayam di Indonesia merupakan Penanam Modal Asing (PMA). Saat ini jumlah peternak unggas mencapai 25.000 peternak dan 70 persen di antaranya PMA.

“Saya mendukung daripada PMA yang untung karena perputaran bisnis peternakan unggas (daging dan telur) mencapai Rp130 triliun per tahun. PMA kerap memanfaatkan para peternak mitranya untuk menekan pemerintah," urainya.

Dia mengusulkan Undang-Undang No.18/2009 tentang peternakan unggas agar dicabut. Dia juga berharap penerapan kebali UU No.6/1967 yang dinilai pro peternakan rakyat. Seperti diketahui, kenaikan bea impor berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 13/PMK.011/2011 per 1 Januari 2012 yang menyebutkan kenaikan bea impor bahan baku pakan ternak 5 %. Bahan baku ternak yang biasa impor adalah jagung serta konsentrat.

Related posts