Gita: Swasta Jadi Faktor Kunci Penetrasi Pasar - Dorong Peningkatan Kinerja Ekspor

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan, sektor swasta merupakan faktor penting dalam menciptakan peluang ekonomi untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi antar negara secara signifikan. Karena itu, Kemendag berpandangan, dalam upaya mendorong peningkatan kinerja ekspor, sektor swasta menjadi faktor kunci kekuatan penetrasi produk Indonesia di luar negeri.

“Swasta merupakan aktor kunci bagi suatu negara dalam melakukan penetrasi pasar ke negara lainnya. Jika difasilitasi dengan baik, maka mereka akan memberi manfaat banyak bagi masyarakat, seperti menciptakan lapangan kerja, peluang kewirausahaan, transfer teknologi, membentuk sumber daya manusia yang kompeten, memberikan kontribusi terhadap pemerintah serta menawarkan beragam jenis barang dan jasa bagi konsumen,” ungkap Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan pada acara seminar Building Strong Business Partnership Kadin Indonesia-New Zealand Business and Investment, di Jakarta, Senin (16/4).

ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) yang berlaku mulai Januari 2012 bertujuan untuk meningkatkan kesempatan bagi Indonesia dan Selandia Baru dalam membangun hubungan kerjasama perdagangan dan investasi. Dengan adanya AANZFTA, hampir 81% ekspor Indonesia ke Selandia Baru menjadi bebas tarif dan pada tahun 2020 akan menjadi 100%.

“Kerja sama perdagangan dan investasi Indonesia dan Selandia Baru dalam 5 tahun terakhir belum mencerminkan secara maksimal potensi kedua negara. Dalam pertemuan bilateral kali ini, kami berupaya untuk mengidentifikasi beberapa area yang dapat dikembangkan untuk kerja sama selanjutnya di bidang ekonomi," ujar Gita.

Menurut Gita, bidang-bidang usaha yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut antara kedua negara adalah di bidang peternakan (cattle farming industry), serta energi dan pertambangan. "Indonesia juga dapat mengembangkan portfolio ekspor Indonesia ke Selandia Baru untuk beberapa komoditas, antara lain oil-cake, solid residue palm nuts atau kernels, dan urea. Tentunya dukungan dari pemerintah kedua negara untuk memfasilitasi kalangan swasta agar dapat melakukan usaha dengan baik, juga merupakan kunci untuk mendorong peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi keduanya," imbuhnya.

Peluang Besar

Pada kesempatan yang sama Perdana Menteri Selandia Baru John Key mengatakan Indonesia memiliki ekonomi yang berkembang pesat, dan memberikan peluang besar bagi Selandia Baru hingga triliunan dollar. "Jadi, peluang besar, terbelakang dari sudut pandang kita, tetapi dengan Perjanjian Perdagangan Bebas yang kami ditandatangani pada awal tahun ini, kesempatan besar bagi kita untuk memperpanjang hubungan tersebut," ungkapnya.

Key menanggapi korupsi yang terjadi di Indonesia merupakan masalah bagi perusahaan yang ingin memasuki pasar Indonesia. Dia mengatakan perusahaan Selandia Baru perlu membangun hubungan yang kuat dan tidak terjebak dalam lingkungan di mana mereka harus membayar untuk akses yang harus tersedia secara bebas. “Melalui program yang akan dibicarakan, Selandia Baru berupaya membantu mengatasi tantangan-tantangan pembangunan yang diprioritaskan oleh pemerintah Indonesia,” tuturnya.

Upaya tersebut diantaranya dengan membagi keahlian Selandia Baru dibidang-bidang seperti pengelolaan penanggulangan bencana, energi panas bumi dan pertanian yang diawali dengan saling mengenal budaya masing-masing negara dengan kesempatan berwisata atau melakukan kegiatan bisnis.

Total perdagangan Indonesia-Selandia Baru pada 2011 mencapai US$ 1,1 miliar dengan tren pertumbuhan rata-rata 3,82% selama periode 2007-2011. Pada Januari 2012, total perdagangan kedua negara adalah US$ 72,9 juta, menurun sebesar 19,9% dibandingkan 2011 yang nilainya mencapai US$ 91,1 juta.

Ekspor Indonesia ke Selandia Baru pada 2011 mencapai US$ 371,7 juta, sementara impornya sebesar US$ 729,2 juta, sehingga Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 357,5 juta. Namun, defisit pada neraca perdagangan Indonesia terhadap Selandia Baru di bulan Januari 2012 yang sebesar US$ 12,2 juta menurun signifikan sebesar 54,8% jika dibandingkan pada Januari 2011 yang defisitnya sebesar US$ 27 juta.

Related posts