Ekonomi Indonesia Jauh dari Overheating

CAPITAL INFLOW 2011 MENCAPAI US$15 Miliar

Senin, 14/03/2011

Jakarta - Prediksi Prof. Jeffrey Frankel dari Universitas Harvard bahwa jika sesuai pola sejarah siklus 15 tahun sekali, pada 2012 bakal terjadi krisis ekonomi di negara berkembang, ternyata ditepis oleh kalangan akademisi Indonesia. Karena dinilai masih terlalu jauh dan tidak mewakili kondisi riil di negeri ini.

NERACA

"Penilaian bakal terjadinya overheating dalam perekonomian Indonesia akibat derasnya arus modal asing dinilai masih terlalu jauh dan tidak mewakili kondisi riil. Hal ini juga terlihat dari karakteristik inflasi di Indonesia yang lebih banyak didorong oleh pengaruh pangan serta energi, dan bukan inflasi murni," ujar guru besar FE Univ. Brawijaya Prof. Dr. A. Erani Yustika kepada Neraca, Minggu (13/3)

Erani yang juga direktur eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan, secara teori, kondisi overheating memang berkorelasi dengan inflasi namun dia mengingatkan setiap negara memiliki karateristik yang khas. Selain itu, dana asing juga menemukan lahan penanaman modal di beberapa instrumen selain pasar modal seperti surat utang negara (SUN) dan obligasi.

Namun, Erani juga mengingatkan agar pemerintah semakin mendorong percepatan pembangunan sektor riil sehingga arus modal asing tidak mengendap di pasar modal. Syaratnya, pemerintah memusatkan perhatian ke tiga bidang utama yaitu infrastruktur, perizinan dan penyediaan lahan.

Hal ini berangkat dari karakter investor yang selalu menginginkan imbal balik, margin dan kepastian usaha. ”Ketiga hal itu diharapkan mampu memberi jawaban kebutuhan investor sehingga mereka mau mengalirkan modal ke sektor riil. Ini pekerjaan rumah pemerintah,” ungkapnya.

Prediksi Frankel ini berdasarkan krisis ekonomi sebelumnya yang terjadi pada 1982 dan 1997. Dia membagi tiga putaran besar dunia pada negara berkembang. Pertama, yaitu 1975-1981, di mana pada 1982 terjadi krisis utang internasional.

Kedua, yaitu saat negara berkembang mulai melambung pada 1990-1996. Krisis pada era itu terjadi pada 1997-1998 di negara Asia, dan pada 1998-2002 di Rusia, Brazil, Argentina, dan Turki.

Ketiga, terjadi saat pasar modal melambung pada 2003-2008, yang menyebabkan krisis finansial global pada 2008-2009. “Jika saya seolah-olah paranormal, saya katakan putaran krisis terjadi setiap 15 tahun sekali, dan krisis di negara berkembang akan terjadi pada 2012," kata Frankel pada seminar Coping With Asia’s Large Capital Inflows in A Multi Speed Global Economy di Bali, akhir pekan lalu.

Menjaga Inflasi

Bank Indonesia (BI) prediksi selaku bank sentral juga membantah analisis overheating tersebut. Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono, menuturkan Indonesia Indonesia tidak rawan terkena overheating. Pasalnya, selama ini BI terus menjaga tingkat inflasi inti atau core inflation di bawah 5%. “Dari sisi pasokan, pemerintah juga terus menjaga, seperti penyediaan bahan pangan,” katanya.

Soal pengelolaan capital inflow, Gubernur BI Darmin Nasution mengklaim, Indonesia berhasil dalam memanfaatkan dan mengatur capital inflow yang masuk. Menurut dia, BI telah banyak mengeluarkan kebijakan dalam menyerap capital inflow dan salah satunya dengan memperlambat lonjakan exchange rate.

BI, lanjut Darmin, telah mengeluarkan empat kebijakan dalam menyerap dana asing yang masuk dan kemudian dikelolanya untuk foregin direct invesment atau investasi secara langsung. Di antaranya, kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas harga, memberikan ruang apresiasi rupiah untuk ekspor, akumulasi cadangan devisa dan terakhir kebijakan makro prudensial untuk memperlambat capital inflow jangka pendek dan spekulatif.

Tanggapan serupa juga disampaikan ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Mirza Adityaswara yang menilai ancaman pemanasan ekonomi belum terlalu mengkhawatirkan. Karena BI sudah memperhatikan dana asing yang deras masuk ke Indonesia. “BI sudah concern soal ini dan salah satunya dengan mengurangi capital inflow yang masuk ke SBI dan juga SUN,”jelasnya.

Namun, senada dengan Erani, Mirza mengkritisi, Indonesia belum memanfaatkan dana asing yang masuk, khususnya untuk sektor riil. “Dana asing yang masuk selama ini kurang dimanfaatkan untuk sektor riil, karena kita tidak mampu mengimplementasikan untuk infrastruktur,” katanya.

Frankel juga menilai selain Indonesia, beberapa negara di Asia rawan terjadi overheating. Dia menyebutkan, India, Cina, dan Singapura masuk negara yang rawan terjadi overheating akibat aliran dana asing yang masuk ke negaranya.

Data dari Institute of International Finance (IIF) memperkirakan capital inflows pada 2011 sekitar US$ 13 miliar-US$15 miliar masuk ke Indonesia. Dana itu sebagian dari sekitar US$ 400 miliar yang masuk ke negara-negara sedang berkembang pesat atau emerging market di Asia. Sementara, total arus dana yang menderas di seluruh dunia sekitar US$800 miliar.

Menurut Frankel, laju pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat tanpa menjaga stabilitas inflasi akan berpotensi terjadinya bubble. Sebaliknya, hal ini bisa menjadi peluang asalkan dimanfaatkan bagi kelanjutan ekonomi berikutnya. Oleh karena itu, dia menyarankan agar Bank Indonesia selaku bank sentral bersama pemerintah mencermati kecenderungan ini dan harus cerdik mengelola menderasnya arus modal.

“Salah satu yang perlu dilakukan BI, kontrol dana asing yang masuk, intervensi dan sterilisasi nilai tukar rupiah,” katanya. Sementara untuk peran pemerintah yang perlu diambil, menjaga kebijakan fiskal dan menjaga surplus cadangan devisa. bani/inung