Indonesia Kehilangan Pasar Akibat Tertinggal Jajaki Perjanjian

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai bahwa Indonesia banyak kehilangan pangsa pasar (market share) di sejumlah negara akibat tertinggal dari Vietnam dan Malaysia dalam menjajaki perjanjian dagang.

Enggar mengakui bahwa Indonesia ketinggalan dengan Vietnam yang lebih gesit dalam menjalin perjanjian dagang. Baru sepuluh tahun terakhir ini, kata Enggar, Indonesia baru mengejar ketertinggalan itu untuk menyelesaikan perjanjian dagang.

"Malaysia sebagai contoh, dia sudah lebih dulu, banyak sekali kita kehilangan 'market share' di Turki dan India, oleh Malaysia. Itu karena dia ada perjanjian dagang," kata Enggar usai menghadiri diskusi CEO Connect -Exploring Asean yang diselenggarakan Standard Chartered di Jakarta, disalin dari Antara.

Enggar menjelaskan akibat perjanjian dagang tersebut, Vietnam atau Malaysia memperoleh tarif yang lebih rendah dari negara tetangga lainnya, sehingga berakibat komoditas ekspor asal Indonesia sulit bersaing.

Oleh karena itu, Indonesia berupaya melakukan sejumlah perjanjian dagang yang ditargetkan dapat selesai pada tahun ini, antara lain Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Dalam waktu dekat, Indonesia juga akan memasuki pasar baru di Afrika dengan segera ditandatanganinya kerja sama perjanjian dagang Indonesia-Mozambik Preferential Trade Agreement (PTA).

Enggar mengatakan penandatanganan Indonesia-Mozambik PTA masih menunggu kecocokan jadwal dengan Menteri Industri dan Perdagangan Mozambik. "Saya tinggal menunggu karena menterinya harus dapat izin dari Presidennya, sama-sama menyesuaikan 'schedule'," kata Menteri Enggar usai menghadiri diskusi CEO Connect -Exploring Asean.

Enggar menjelaskan bahwa Indonesia-Mozambik PTA merupakan kerja sama bilateral pertama bagi Indonesia dengan negara Afrika. Menurut dia, Mozambik menjadi hub atau pintu masuk peluang pasar ekspor Indonesia ke negara-negara lain Afrika. Selain dengan Mozambik, kerja sama dengan negara Afrika juga akan dilakukan pada tahun ini, yakni dengan Tunisia dan Maroko.

Kementerian Perdagangan menggencarkan perjanjian dagang dan ekonomi dengan pasar nontradisional sebagai upaya mencari pasar baru untuk meningkatkan ekspor. “Kami membuka pasar baru dan menyelesaikan perjanjian perdagangan. Sebab tanpa itu, kita tidak mungkin bisa bersaing,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Shanghai, China, disalin dari Antara.

Menurut Enggar, pemerintah melakukan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi dalam mengatasi defisit neraca perdagangan. “Intensifikasi dilakukan atas produk yang ada, kita tingkatkan. Sedangkan ekstensifikasi, kita buka pasar-pasar baru. Tujuannya adalah meningkatkan ekspor,” ujar Enggar.

Hingga 2020, Mendag menargetkan sejumlah perjanjian perdagangan dirampungkan. Adapun beberapa perjanjian perdagangan yang telah selesai yakni Indonesia-Chili Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-The European Free Trade Association (EFTA) CEPA dan General Review Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (GR-IJEPA).

Sedangkan, lanjut Mendag, perundingan perjanjian yang masih berlangsung adalah (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), yang terdiri dari 16 negara dan menaungi 50 persen penduduk di dunia. “RCEP ini perjanjian perdagangan bebas regional terbesar dan harus selesai,” ujar Mendag.

Selain itu, Mendag juga membidik penyelesaian perjanjian kerja sama antara Indonesia dengan Korea Selatan, Mozambik, Tunisia, Uni Eropa, Eurasia, Mesir, Pakistan, Bangladesh dan Mercosur, Argentina. “Untuk Mozambik paling tidak kami tandatangani Agustus ini,” pungkas Enggar.

Enggar menambahkan, menurut Undang-undang, Kementerian Perdagangan merupakan ujung tombak untuk mewujudkan rencana perjanjian tersebut. Namun, Mendag mengakui bahwa negosiasi tersebut membutuhkan dukungan dari kementerian dan lembaga lain. “Negosiasi ini bukan suatu hal yang mudah, tapi dengan mengajak semua kementerian dan lembaga, maka hal yang tidak mungkin bahkan dapat terwujud,” tukasnya.

Enggar berharap, upaya perjanjian perdagangan tersebut mampu mewujudkan target pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 7,5 persen hingga akhir 2019. Kementerian Perdagangan menggenjot berbagai perjanjian perdagangan dengan negara lain sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor.

BERITA TERKAIT

Perdagangan Bilateral - Selaput Biji Pala 5 Ton Senilai Rp1,3 Miliar Diekspor ke India

NERACA Jakarta – Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian melepas ekspor 5 ton komoditas selaput biji pala asal Maluku Utara…

OPEC Pangkas Perkiraan Permintaan Minyak di 2020

NERACA Jakarta – OPEC pada Rabu memangkas perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2020 karena perlambatan ekonomi, sebuah pandangan…

Ritel - Revisi Aturan Soal Bisnis Waralaba Direncanakan Keluar Bulan Ini

NERACA Jakarta – Revisi aturan soal bisnis waralaba ditargetkan bisa segera keluar bulan September ini setelah dibahas sejak tahun 2018…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perdagangan Bilateral - Selaput Biji Pala 5 Ton Senilai Rp1,3 Miliar Diekspor ke India

NERACA Jakarta – Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian melepas ekspor 5 ton komoditas selaput biji pala asal Maluku Utara…

OPEC Pangkas Perkiraan Permintaan Minyak di 2020

NERACA Jakarta – OPEC pada Rabu memangkas perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2020 karena perlambatan ekonomi, sebuah pandangan…

Ritel - Revisi Aturan Soal Bisnis Waralaba Direncanakan Keluar Bulan Ini

NERACA Jakarta – Revisi aturan soal bisnis waralaba ditargetkan bisa segera keluar bulan September ini setelah dibahas sejak tahun 2018…