Dampak Devaluasi Yuan, Ekspor RI Berpotensi Makin Tertekan

NERACA

Jakarta - Pembalasan China terhadap Amerika Serikat melalui devaluasi mata uang yuan, semakin menunjukkan perang dagang dua negara ekonomi raksasa itu jauh dari usai dan Indonesia akan terdampak dari sisi ekspor karena daya saing komoditas Indonesia di pasar global berpotensi semakin menurun.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, langkah pembalasan China yang diduga dilakukan dengan memanipulasi mata uangnya untuk mendongkrak kinerja ekspor negara Tirai Bambu itu, akan memancing balasan kembali dari Presiden AS Donald Trump.

Dengan semakin melemahnya yuan pula, maka harga ekspor dari China akan semakin murah di pasar global dan itu akan memukul ekspor Indonesia. Padahal, Indonesia sedang berupaya keras untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor dengan menjajaki pasar ekspor baru.

Di sisi lain, harga ekspor barang dari China yang semakin murah, akan membuat impor Indonesia semakin meningkat. Barang-barang dari China yang murah berpotensi menyerbu pasar domestik jika tidak diantisipasi oleh Indonesia.

"Masa depan perang dagang semakin tidak pasti. Indonesia terdampak dari sisi ekspor dan impor sekaligus. Ekspor (Indonesia) ke AS dan China melambat, sementara produk China yang murah karena devaluasi yuan akan menyerbu Indonesia dan membuat defisit perdagangan melebar," ujarnya seperti dikutip Antara di Jakarta, kemarin (8/8).

Sebagai gambaran, pada 2018 impor Indonesia dari China naik 27,4 persen dibanding 2017 atau mencapai 45,2 miliar dolar AS. Perang dagang juga semakin tidak pasti, karena Trump yang mengadukan China ke Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) atas dugaan manipulasi kurs.

Devaluasi kurs seperti yang diduga dilakukan China tidak bisa dilakukan semua negara. Devaluasi kurs itu memang memberikan dampak positif yakni akan meningkatkan daya saing ekspor negara bersangkutan, namun di sisi lain devaluasi kurs dengan sengaja membutuhkan pasokan cadangan devisa yang mumpuni.

Ekonom Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan tindakan devaluasi Yuan China dipandang investor sebagai alarm peningkatan risiko investasi sehingga pelaku pasar akan mencari aset-aset yang paling aman untuk menanamkan modalnya. Maka dari itu, sentimen pasar yang menguat adalah risk-averseatau penghindaran risiko.

"Berdasarkan data historis, pelemahan nilai tukar yuan Tiongkok akan ikut menyeret pelemahan nilai mata uang lainnya, terutama mata uang negara berkembang. Hal ini disebabkan bahwa usaha Tiongkok melemahkan mata uangnya sendiri dipandang sebagai retaliasi perang dagang," ujar Josua.

Pada Selasa kemarin (6/8), pergerakan rupiah dan mata uang lainnya di Asia sudah cukup terseok-seok karena sentimen ekonomi global, terutama dari devaluasi yuan. Di pasar spot pada Selasa ini, kurs rupiah terhadap dolar AS bergerak di kisaran Rp14.260-Rp14.359 per US$.

Setelah dibuka melemah 94 poin atau 0,66% menjadi Rp14.349 per US$, kurs rupiah menunjukkan perbaikan pada penutupan setelah ditutup pada posisi Rp14.276 per dolar AS. Di kurs tengah Bank Indonesia atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) rupiah ditetapkan di Rp14.344 per US$, atau melemah 0,7% dibanding Senin (5/8) Rp14.231 per US$.

Sebelumnya, dugaan kesengajaan devaluasi kurs China terindikasi dari pergerakan yuan pada Senin (5/8). Yuan China (CNY) dibuka di level 6,9 per US$ pada Senin yang merupakan terendah sejak Desember 2018. Sementara pada akhir perdagangan Senin (5/8), kurs yuan ditutup pada level 7,03 yuan per US$.

Presiden AS Donald Trump kemudian mengunggah cuitan mengenai pergerakan mata uang yuan."China melemahkan mata uang mereka ke level terendah hampir sepanjang sejarah. Ini disebut 'manipulasi mata uang'. Apakah Anda mendengarkan Federal Reserve? Ini adalah pelanggaran besar yang akan sangat melemahkan China dari waktu ke waktu!" tulis Trump melalui akun Twitter @realDonaldTrump.

China juga membalas AS dengan menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan China telah berhenti membeli produk-produk pertanian asal AS. mohar

BERITA TERKAIT

Serap Saham Tiga Pilar Sejahtera - FISH Pastikan Tidak Ada Dampak Material

NERACA Jakarta – Menyikapi aksi korporasi PT FKS Food And Ingredients (FKS FI) yang bakal menyerap saham PT Tiga Pilar…

Sektor Riil - Pacu Ekspor Dengan Optimalkan Utilisasi Industri dan Perluas Pasar

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong sektor manufaktur lebih gencar mengisi pasar global. Peningkatan ekspor dengan mengoptimalkan utilisasi industri…

Menakar Dampak Pencemaran Udara Jakarta

Oleh: Ki Rohmad Hadiwijoyo, Budayawan dan Doktor Ilmu Lingkungan Undip Dampak pencemaran udara di kota–kota besar termasuk Jakarta sudah mengkhawatirkan.…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

AKIBAT KENAIKAN IMPOR NONMIGAS - NPI Defisit US$63,5 Juta di Juli 2019

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, data neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Juli 2019 terjadi defisit US$ 63,5 juta, yang merupakan…

Presiden Diminta Cermat dan Hati-Hati Pilih Menteri

NERACA Jakarta - Pengamat hukum tata negara dari Universitas Jember Bayu Dwi Anggono berpendapat Presiden Joko Widodo harus berhati-hati dan…

PENDAPAT SEJUMLAH PRAKTISI DAN PENGAMAT PERPAJAKAN: - Kebijakan Tax Amnesty Jilid II Belum Perlu

Jakarta-Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah dan kalangan pengamat perpajakan meminta agar pemerintah memikirkan ulang…