OJK Minta Perbankan Tingkatkan Sistem Keamanan - Soroti Sistem IT Bank Rapuh

NERACA

Jakarta – Kasus berkurangnya saldo dana nasabah Bank Mandiri dan juga ada yang bertambah akibat sistem informasi dan teknologi (IT) yang error, menjadi tamparan telak begitu mudahnya sistem IT di industri perbankan di Indonesia diretas. Hal ini tentunya menjadi keprihatinan para nasabah karena menyangkut kepercayaan dan keamanan menyimpan dananya di bank.

Berangkat dari kejadian tersebut, Kepala Departemen Pengawasan Bank dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hizbullah meminta seluruh perbankan di Indonesia meningkatkan sistem keamanan untuk menangkal serangan peretas atau hacker.”Kami meminta semua perbankan untuk update IT (Information Technology). Hacker selalu berusaha masuk ke sistem perbankan kita,"ujarnya di Jakarta, Senin (29/7).

Dia mengungkapkan bahwa para peretas selalu mencoba menembus sistem pertahanan digital perbankan nasional termasuk core banking. Disampaikannya, sistem itu penyerangnya banyak ada Amerika Serikat, Rusia, dan dari Asia ada Kamboja. Peretas itu tidak hanya menyerang Indonesia, tapi juga banyak negara. Menurut Hizbullah, jika sistem perbankan Indonesia tidak kuat, peretas bisa mencuri data dan merusak sistem yang ada.

Dia mengatakan bahwa setiap tahun OJK selalu memeriksa sistem keamanan digital perbankan sekaligus meneliti celah yang kemungkinan bisa ditembus peretas dan bisa merugikan masyarakat.”Kami selalu membuat ketentuan dan aturan untuk mitigasi risiko yang terjadi, kemudian perbankan kami himbau untuk selalu meningkatkan keamanan dan memperbaharui sistem IT,"ujarnya.

Sementara itu Ombudsman meminta perbankan terus meningkatkan pengamanan digital mengingat saat ini layanan perbankan Indonesia sedang bersiap untuk bermigrasi dari konvensional ke digital.”Kami selalu meminta semua perbankan agar selalu mengupdate IT karena pertumbuhan dan perkembangan IT sangat cepat. Selalu update, selalu menyempurnakan dan selalu memperkuat manajemen risiko dan sekuriti," kata anggota Ombudsman, Dadan Suharmawijaya.

Menurut Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri, Hery Gunardi, insiden saldo nasabah yang berubah beberapa waktu lalu tidak ada kaitannya dengan hacker. Insiden tersebut murni untuk pemeliharaan sistem. Disampaikannya, gangguan tersebut terjadi karena bank Mandiri sedang melakukan pemeliharaan sistem. Dia menyebut masalah tersebut murni akibat gangguan atau malfunction pada sistem hardware yang digunakan.”Jadi ini tidak ada kaitannya dengan hacker, ini murni karena pemeliharaan sistem dan berdampak ke segelintir nasabah," kata Hery.

Dia mengungkapkan, gangguan tersebut segera direspon oleh tim IT perusahaan. Sehingga tak sampai satu hari, sistem tersebut sudah kembali dalam kondisi normal.”Insiden kemarin adanya malfunction ada sistem yang tidak bekerja dengan baik. Probabilitas kejadiannya sangat kecil tapi terjadi dan kejadian ini sudah kita perbaiki," jelasnya.

Hery juga memastikan jika,seluruh saldo nasabah tidak ada yang hilang satu rupiah pun. Seluruh uang yang dimiliki nasabah masih aman sesuai dengan saldo terakhir.”Tidak ada dana nasabah yang hilang. Semuanya tersimpan di Bank Mandiri yang ada hanyalah tampilan saldo yang berubah. Komplain juga sudah kita hadapi dengan baik,"tandasnya.

Disebutkan, akibat gangguan tersebut ada sekitar 2.600 nasabah yang saldonya bertambah. Sekitar 90% dari 2.600 rekening nasabah sudah kembali normal. Saat ini hanya tinggal 5-10% saldo lebih yang belum dikembalikan ke bank dan jumlah kerugiannya sekitar Rp 10 miliar. Untuk mendapatkan kembali dana tersebut, bank gencar mendekati nasabah secara persuasif kepada nasabah yang telah melakukan penarikan. "Karena rekening kan milik mereka, mereka berhak kelola. Yang kelebihan 2.600 itu sudah dikembalikan sekitar 90%. Kalau diomongin nasabah pasti mengerti," jelas dia.

Sebelumnya Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mempertanyakan sistem keamanan IT Bank Mandiri yang menurutnya rentan terhadap ulah hacker yang tak bertanggungjawab."Ini hal yang memprihatinkan, sebab bisa disimpulkan sistem IT di Bank Mandiri amat rapuh, dan rentan dihack oleh para hacker yang berpotensi merugikan nasabah Bank Mandiri," kata Tulus. bani

BERITA TERKAIT

Wapres : RUU Pertanahan Berpihak Pada Semua Unsur

NERACA Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menegaskan rancangan undang-undang (RUU) tentang pertanahan dibuat untuk kepentingan semua pihak, baik…

Perluasan Posisi TKA Perlu Diikuti Transfer Pengetahuan

  NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai perluasan posisi atau jabatan tenaga kerja asing dalam sektor-sektor industri terutama…

KOMITMEN PERUSAHAAN MULTINASIONAL DIPERTANYAKAN - Presiden: Menteri Segera Atasi Kendala Investasi

Jakarta-Presiden Jokowi ingin masing-masing kementerian/lembaga (K/L) melakukan inventarisasi realisasi dari komitmen investasi yang sudah diberikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional di Indonesia.…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Wapres : RUU Pertanahan Berpihak Pada Semua Unsur

NERACA Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menegaskan rancangan undang-undang (RUU) tentang pertanahan dibuat untuk kepentingan semua pihak, baik…

Perluasan Posisi TKA Perlu Diikuti Transfer Pengetahuan

  NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai perluasan posisi atau jabatan tenaga kerja asing dalam sektor-sektor industri terutama…

KOMITMEN PERUSAHAAN MULTINASIONAL DIPERTANYAKAN - Presiden: Menteri Segera Atasi Kendala Investasi

Jakarta-Presiden Jokowi ingin masing-masing kementerian/lembaga (K/L) melakukan inventarisasi realisasi dari komitmen investasi yang sudah diberikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional di Indonesia.…