BEI Harus Perbaiki Fundamental Pasar Modal - Morgan Stanley Jadi AB

NERACA

Jakarta - Bergabungnya Morgan Stanley menjadi anggota bursa (AB) pada semester I-2012 mendatang, ditanggapi beberapa analis pasar modal bagus. Namun demikian, masih menyisakan masalah fundamental, seperti kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar.

Kepala Analis Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menilai, sejak awal tahun 2012 hingga sekarang, IHSG cenderung terhambat. Pasalnya, aliran dana asing masih sangat minim atau di bawah Rp 10 triliun. Bahkan, sejak menerima status sebagai negara layak investasi atau investment grade, nilai transaksi harian bursa belum beranjak dari Rp 5 triliun.

“Idealnya kisaran Rp 15 triliun sampai Rp 20 triliun. Indonesia pernah menerima aliran dana asing sebesar itu tahun 2010 lalu, di mana saat itu lembaga pemeringkat Japan Credit Rating Agency Ltd (JCRA) memberikan peringkat BB+ dari sebelumnya BBB-. Sekarang sih, rasanya sukar mencapai nilai segitu,” ujar Satrio kepada Neraca, Rabu (28/3).

Meskipun begitu, dirinya setuju perusahaan sekuritas asal Amerika Serikat (AS) ini masuk menjadi AB, sebab, semakin banyak pemain maka semakin besar atau likuid transaksi perdagangan di pasar modal Indonesia. Apalagi, lanjut dia, kabarnya Morgan Stanley ingin menjadi AB dengan membeli saham perusahaan sekuritas, PT Tiga Pilar Sekuritas, dalam rangka mendapatkan kursi AB.

Ini juga terkait permohonan pengajuan sendiri (voluntary) perusahaan untuk dicabut izinnya sehubungan dengan pengalihan. Morgan Stanley masuk pasar modal Indonesia setelah tercapainya kata sepakat dengan mengalahkan Goldman Sachs dalam perburuan akuisisi Tiga Pilar yang dianggap lamban dan telah dihentikan (suspend) perdagangannya oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Februari 2012 lalu.

Susul Citigroup

Anggota bursa merupakan pelaku pasar modal sekaligus pemegang saham BEI. Perusahaan sekuritas AB dapat melakukan tiga bidang kegiatan sekaligus, yaitu penjamin emisi (underwriter), perantara pedagang efek (brokerage), dan manajer investasi atau pengelola dana nasabah, seperti reksa dana.

Selain menjalankan ketiga jenis kegiatan tersebut, AB bisa fokus melakukan satu kegiatan semisal hanya perantara pedagang efek. Sebelumnya, Direktur Utama BEI, Ito Warsito berjanji mengupayakan Morgan Stanley segera melantai di bursa pada semester pertama tahun ini.

"Sudah sampai proses testing (uji coba). Kapan efektifnya mungkin dalam waktu dekat. Kuartal kedua selesai untuk sebagai anggota bursa," ujar dia di Jakarta, kemarin. Dalam prakteknya, sambung Ito, Morgan Stanley berperan ganda, yaitu sebagai penjamin efek serta broker bursa.

Kendati demikian, kedatangan Morgan Stanley ke Indonesia dapat meningkatkan likuiditas pasar modal Indonesia. "Yang penting kuenya makin besar," tambahnya. Masuknya perusahaan keuangan asal Amerika Serikat itu berencana masuk ke Indonesia demi memperluas pangsa pasarnya setelah Indonesia mendapat peringkat layak investasi.

Kedatangan mereka diprediksi menjadi pesaing utama Credit Suisse dan Deutsche Bank sebagai penguasa pasar perdagangan saham di Indonesia. Tak hanya itu, masuknya Morgan Stanley menyusul PT Citigroup Securities Indonesia yang sebelumnya menjadi AB pada 4 Agustus 2010 lalu.

Persaingan ketat

Di tempat terpisah, Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada menambahkan, masuknya AB asing tersebut bukan sesuatu hal yang istimewa. “Tidak beda jauhlah dengan anggota bursa lain. Asalkan bisa meningkatkan likuiditas pasar, saya kira mereka dapat bertahan,” jelas dia.

Lebih lanjut Reza mengatakan bahwa ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menilai kemampuan Morgan Stanley. Kemampuan menambah jaringan nasabah di Indonesia dan peta kekuatan melalui laporan kinerja perusahaan. Diketahui, mayoritas nasabah Morgan Stanley berasal dari luar negeri dengan fund besar.

“Di luar (negeri) mereka berhasil. Nah, kita lihat di Indonesia, akankah bisa melakukan hal serupa? Persaingan perusahaan sekuritas sangat ketat, dan itu tergantung dari nilai jualnya,” tukasnya. Sayang, mengenai peta kekuatan, Reza belum dapat memaparkannya dengan alasan Morgan Stanley belum melakukan paparan publik perihal keinginannya berinvestasi di pasar modal Indonesia. [ardi]

Related posts