Kredit Bermasalah (NPL) Bank Bakal Meningkat Tajam

NERACA

Jakarta – Harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan naik mulai April mendatang rupanya memberikan dampak berarti bagi sektor keuangan, khususnya perbankan. Pasalnya, multiplaier effect kenaikan BBM sangat sistemik terhadap daya beli masyarakat, dan termasuk potensi menurunnya tingkat pembayaran kembali masyarakat melunasi utang, akibat tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh nasabah.

Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Irianto mengakui, imbas dari melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga BBM bersubsidi tidaknya menimbulkan angka kemiskinan baru dan pengangguran, tetapi juga potensi terjadinya kredit bermasalah (non performing loan-NPL), “Kebijakan BBM sangat berimbas terhadap industri perbankan, khususnya soal kredit yang ada dimasyarakat sulit kembalikan,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (27/3).

Dia menjelaskan, masyarakat akan kesulitan membiayai beban hidupnya akibat kebutuhan biaya-biaya lain yang ikut terkerek naik dari kenaikan BBM. Alhasil, bagaimana masyarakat atau pun pelaku usaha mampu melunasi utang piutang dengan perbankan bila usahanya terancam gulung tikar dan membiayai kehidupan sudah terasa sulit.

Oleh sebab itu, dia tidak menafikan banyak mudharat dari kenaikan harga BBM itu, termasuk kekhawatiran terhambatnya akses pembiayaan dan munculnya kredit macet. "Saya pikir pengaruh ke sisi NPL pasti ada. Alasannya, akan ada pihak-pihak di sektor-sektor tertentu yang bisnisnya terpukul karena kenaikan harga BBM,”ungkapnya

Namun lebih jauh, Irianto mengaku optimis rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pekan depan tidak membuat khawatir kalangan perbankan. Pasalnya, kenaikan yang direncanakan sebesar 33% dari harga saat ini Rp 4.500, menjadi Rp 6.000 atau naik sebesar Rp 1.500 per liter tidak akan terlalu berpengaruh bagi perbankan. Pihaknya pun belum mengambil langkah strategis dalam mengantisipasi kenaikan tersebut.

Dia menyakini, ancaman NPL besar akibat kenaikan BBM masih jauh. Pertimbangannya, tidak semua sektor terpukul rata imbas dari BBM naik. Terlebih, industri perbankan diklaimnya sudah memiliki prudensi yang cukup tinggi dan termasuk memprediksi risiko yang bakal terjadi sebelum mengucurkan kredit ke masyarakat.

Meskipun demikian, lanjut Irianto, pihaknya belum bisa memprediksikan dampak apa yang akan terjadi atas kenaikan BBM tersebut dan termasuk memastikan berapa besaran NPL-nya. “Sampai sekarang belum terlihat gejolak apa-apa yang langsung memengaruhi kinerja perbankan, akan tetapi pihaknya tetap mencermati perkembangan ke depan. Terutama menyangkut kemampuan masyarakat mengambil kredit,”jelasnya.

Menurut Irianto, sektor yang akan meningkatkan level NPL adalah sektor yang bersifat langsung. Sedangkan sektor yang tidak langsung terimbas, tidak akan terpengaruh secara signifikan. Hanya akan terjadi perlambatan untuk adaptasi terhadap kebijakan ekonomi.

Potensi UKM

Hal senada juga disampaikan pengamat perbankan Achmad Deni Daruri, bahwa kenaikan BBM jelas akan berdampak kepada meningkatnya NPL, terutama untuk usaha kecil menengah (UKM) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Menurut Deni, naiknya NPL tentunya tidak akan mengganggu sektor perbankan. “UKM dan KUR mungkin akan terbebani dengan NPL yang diprediksi akan melambung, namun kenaikan NPL pasti tidak akan sampai mengganggu perbankan,” tegasnya.

Baik Deni dan Irianto, keduanya sepakat soal peningkatan NPL terkait dengan kenaikan BBM perlu dihitung-hitung kembali seberapa besar potensinya di sektor UKM dan KUR. Sementara ekonom Universitas Padjajaran (Unpad) Dr. Ina Primiana Sagir menegaskan, ketika BBM naik, maka akan mengganggu keuangan rumah tangga akibat naiknya harga-harga setelah kenaikan BBM.

"Kemampuan membayar akan menurun dalam beberapa waktu dan butuh waktu untuk penyesuaian seperti sebelum adanya kenaikan BBM," ujarnya.

Disampaikan Ina, dampak langsung dari kenaikan BBM untuk NPL yaitu bila dalam waktu tertentu tidak tertagih, maka akan mempengaruhi kinerja perbankan. Sedangkan dampak tidak langsungnya yaitu akan berpengaruh ke sektor riil."Dampak tidak langsung terhadap kenaikan BBM adalah akan semakin berkurangnya orang yang bisa mengambil kredit, karena kemampuan yang menurun",jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Zulkifli Zaini pernah bilang, kenaikan harga BBM sebesar Rp500 hingga Rp1.500 tidak akan membawa dampak pada ekspansi kredit banknya. Pasalnya industri perbankan sudah memprediksi ekonomi Indonesia akan turun akibat dampak krisis global. "BBM-nya belum naik kok, mudah-mudahan kalaupun ada pengaruhnya nanti minimal. Dari prediksi pertumbuhan ekonomi, kan kalau tahun lalu 6,5%, tahun ini mungkin akan di bawah itu, tapi tidak di bawah 6%. Jadi kami tetap berharap pertumbuhan kredit cukup baik," kata Zulkifli. didi/yahya/maya/bani

Related posts