Perang Dagang Diharapkan Tidak Semakin Gerus Ekspor RI

NERACA

Jakarta – PT. Bank Central Asia Tbk mengingatkan perlunya antisipasi dari pemerintah agar berlarutnya konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan China tidak menggerus ekspor Indonesia yang bisa berdampak pada kemampuan daya beli masyarakat.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja di Jakarta, disalin dari Antara, mengingatkan bahwa China saat ini masih menjadi tujuan ekspor Indonesia untuk komoditas bahan mentah. Komoditas bahan mentah dari Indonesia seperti batu bara banyak dieskpor ke China. Jika perekonomian China terimbas perang dagang dengan AS, maka tidak tertutup kemungkinan, ekspor Indonesia juga akan semakin menurun.

"Kalau komoditas lesu itu menjadi masalah 'buying power' (kemampuan beli) kita, karena kekuatan ekspor berkurang lalu employment (penyerapan tenaga kerja) juga tersendat, itu yang menjadi masalah," ujar Jahja.

Sengketa dagang antara dua negara raksasa AS dan China yang terus memanas telah menjadi tantangan utama bagi negara-negara dia dunia untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebutkan bahwa meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah mengakibatkan kinerja ekspor di seluruh negara tertekan, terganggu atau melambat.

Bahkan, Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) memproyeksikan perdagangan global pada 2019 hanya tumbuh sebesar 2,6 persen, atau menurun dibandingkan periode 2017 sebesar 4,0 persen dan 2018 sebesar 3,6 persen.

"Tidak ada satu pun negara yang bisa katakan (negara) saya meningkat (ekspornya). WTO sendiri proyeksinya tahun ini 2,6 persen. Hal ini menunjukkan menurunnya daya beli dari seluruh negara," kata Enggar di Jakarta, Rabu (12/6).

Enggar menilai dengan melambatnya ekspor, tentu upaya Indonesia untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan tidak mudah. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa Indonesia akan tetap mencari peluang dengan membuka pasar baru.

Selain mempertahankan hubungan dagang dengan pasar-pasar lama, seperti AS, China, Korea Selatan, Jepang dan Uni Eropa, Enggar memastikan bahwa Indonesia terus mempercepat seluruh perjanjian ke pasar baru yang selama ini belum tersentuh, seperti Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Menurut dia, Indonesia harus mencontoh negara tetangga, seperti Vietnam dan Malaysia yang agresif menjalin perjanjian dagang dengan negara lain untuk menggenjot ekspor mereka.

"Maka kita jaga market (pasar) yang sudah ada, dan kita percepat seluruh perjanjian. Kalau tidak, di tahun depan kita akan sangat tertinggal. Kita saksikan negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia sangat agresif. Kita harus ikuti itu," kata Enggar, disalin dari laman Antara.

Enggar menambahkan bahwa sektor industri mulai dari makanan minuman, tekstil, minyak kelapa sawit, karet hingga otomotif, dapat menjadi komoditas ekspor unggulan dari Indonesia untuk ditawarkan ke pasar baru.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut bahwa Indonesia memiliki peluang di tengah perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China. "Perang dagang bagi Indonesia tidak ada yang diuntungkan, tapi kita punya peluang bahwa orang melihat negara yang dianggap punya zona aman. Nah, zona aman selama 20 tahun itu ASEAN," kata Menperin di Jakarta, dilansir laman yang sama.

Menurut Airlangga, Indonesia menjadi salah satu negara di ASEAN dengan demokrasi yang cukup solid, sehingga menjadi salah satu negara yang menarik untuk investasi. Selain itu, lanjut Airlangga, Indonesia juga dipandang sebagai salah satu negara yang mengembangkan ekonomi digital, di mana hal tersebut menjadi salah satu fokus di dunia.

"Soal digital ekonomi, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke depan digitalisasi sangat kuat dan mereka melihat Asia Tenggara terutama Indonesia menjadi ground untuk digital ekonomi," ungkap Airlangga.

Airlangga menambahkan, Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi asal China sebagai dampak perang dagang untuk beberapa sektor industri, meskipun harus bersaing dengan Thailand dan Vietnam.

"Itu kan mereka memilah-milah, kalau sektornya lebih ke hilir, kalau strukturnya lebih ke bahan baku itu mereka ke sini. Indonesia pasti akan menarik investasi berbasis elektronika, garmen, alas kaku, kemudian makanan dan minuman," ujar Airlangga.

Dikutip dari Reuters, China akan menanggapi dengan tegas jika Amerika Serikat bersikeras memperkeruh ketegangan perdagangan, kata Kementerian Luar Negeri, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan tarif tambahan siap diluncurkan jika tidak ada kesepakatan yang dicapai pada KTT G20 pada Juni.

BERITA TERKAIT

Kepala Daerah Kita Memang Tidak Kapok-Kapok

Kepala Daerah Kita Memang Tidak Kapok-Kapok NERACA Jakarta - Pasca Putusan MK tentang Pilpres 2019, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya…

Tidak Memenuhi Kewajiban - Lagi, BEI Suspensi Perdagangan Saham SUGI

NERACA Jakarta—PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham milik PT Sugih Energy Tbk (SUGI) sejak perdagangan Kamis (11/7).…

Regulasi Tidak Lagi Relevan - Pasar Mendesak Revisi UU Pasar Modal

NERACA Jakarta –Mempertimbangkan dinamisnya pertumbuhan industri pasar modal, menjadi alasan bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bahwa revisi UU Pasar…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sumbang 74%, Ekspor Produk Manufaktur Masih Melejit

NERACA Jakarta – Industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional. Pada periode Januari-Mei 2019, sektor manufaktur mampu…

Pasar Industri Plastik dan Karet Masih Prospektif

NERACA Jakarta – Industri plastik dan karet merupakan sektor manufaktur yang dinilai masih memiliki peluang pasar cukup besar. Produk yang…

Bulog Diminta untuk Pastikan Berasnya Berkualitas Baik

NERACA Jakarta – Bulog harus memastikan berasnya berkualitas baik supaya bisa bersaing dengan beras dari pihak swasta yang juga disalurkan…