Hasil Pilpres Diumumkan, IHSG Melesat Naik

NERACA

Jakarta – Pengumuman hasil pemilihan presiden (Pilpres) Selasa (21/5) dini hari oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menetapkan pasangan Joko Widodo dan Ma'aruf Amin sebagai pemenang, memberikan sentimen positif terhadap laju indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka naik 18 poin menjadi 5.925,4 dari 5.907,1 di tengah bursa saham Asia Pasifik yang berada di zona merah.

Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi, pengumuman hasil rekapitulasi nasional Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 oleh KPU dapat menjadi sentimen positif bagi pasar.”Insyaallah positif, kami harapkan tidak ada apa-apa. Kami harapkan market bisa kembali seperti semula," ujarnya di Jakarta, Selasa (21/5).

Hal ini sangat beralasan, karena IHSG dalam sepekan terakhir cenderung terus menurun hingga menembus di bawah 6.000. Namun dua hari terakhir, indeks kembali menguat. Selain itu, nilai transaksi juga menurun menjadi Rp 7 triliun sampai dengan Rp 9 triliun dari rata-rata Rp 10,5 triliun per hari sejak awal 2019. "Kita bisa lihat dalam dua hari ini mulai rebound walau kemarin-kemarin ada penurunan yang saya pikir agak terlalu dalam ya, agak overshoot," kata Inarno.

Dia mengakui banyak investor asing yang melakukan aksi jual sehingga terjadi arus modal keluar (capital outlow). Namun dia meyakini, pasar akan kembali normal pasca pemilu. "Kita lihat beberapa hari ini sudah mulai masuk lagi, pasar sudah mulai optimistis ya," ujarnya.

Terkait penawaran umum perdana (initial public offering/IPO), Inarno juga yakin akan semakin banyak, jika sudah ada kepastian politik terkait pemerintahan baru. "Insyaallah optimistos. Makanya berdoa bersama-sama supaya tidak ada apa-apa. Perbedaan itu kan biasa. Kalau ada ketidakpuasan biasa, tapi kan ada salurannya yang resmi. Jadi kalau memang sekiranya semua berjalan lancar sih maka oke-oke saja," ujarnya.

Sementara analis PTBCA Sekuritas, Achmad Yaki mengatakan, hasil Pemilu 2019 yang diumumkan oleh KPU sudah sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi ini membuat pelaku pasar menjadi lebih optimistis lantaran ketidakpastian hasil Pilpres 2019 sudah terjawab.”Dari awal semua sudah perkirakan Jokowi-Amin yang menang dan sudah diumumkan KPU ternyata benar. Ini semua sudah sesuai ekspektasi sih. Pengumuman ini membuat market lebih optimistis karena sudah tidak ada lagi ketidakpastian terkait hasil Pilpres,"ujarnya.

Hal senada juga disampaikan analis Panin Sekuritas, William Hartanto, kemenangan Jokowi untuk menjadi presiden dua priode dapat memicu kembali terjadinya rally di pasar saham, seperti 5tahun yang lalu ketika Jokowi memenangkan pemilu pertamanya. Selain itu, pergerakan IHSG dinilai juga akan ditopang oleh penguatan saham-saham perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Bagi Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Octavianus Budiyanto, pasca di umumkannya hasil Pemilu diharapkan tidak ada gejolak lanjutan. Jika ada pihak yang menyanggah hasil rekapitulasi KPU harus dilakukan dalam koridor yang konstitusional melalui Mahkamah Konstitusi.”Setelah penetapan pemenang pilpres harus kita hormati dan ini merupakan pilihan rakyat untuk pasangan yang terbaik saat ini," kata Oky.

Positifnya IHSG pasca hasil rekapitulasi Pemilu, tidak sejalan dengan nilai tukar rupiah pada perdagangan pasar spot yang bergerak melemah ke level Rp 14.470 per dolar Amerika Serikat. Angka ini mengalami perubahan yang cukup signifikan dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 14.455 per dolar AS.

Menurut Kepala Ekonom BCA, David Sumual, ketegangan politik yang ada di Indonesia merupakan salah satu indikasi pelemahan nilai tukar rupiah. Pelaku pasar masih melihat potensi demonstrasi dan kekhawatiran masalah keamanan setelah KPU mengumumkan hasil penghitungan suara Pilpres 2019. Tak berbeda dengan hasil hitung cepat, hasil rekapitulasi perolehan suara KPU menunjukkan pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin memenangkan Pilpres. Dijelaskannya, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh permintaan dolar yang cukup besar sepanjang kuartal II-2019. Terutama untuk pembayaran utang dan pembagian dividen.

Karena itu, David menilai wajar jika rupiah agak sedikit tertekan terutama pada musim ini. Namun, faktor eksternal tetap menjadi pengaruh utama pelemahan rupiah. bani

BERITA TERKAIT

UPAYA MENARIK INVESTOR DATANG KE INDONESIA - “Omnibus Law” Pangkas Aturan Penghambat

Jakarta-Pemerintah siap menerbitkan omnibus law yang akan menjadi payung hukum menyatukan semua peraturan menjadi satu undang-undang (UU). Skema ini diterapkan…

DAMPAK SERANGAN DRONE KE KILANG ARAB - Pemerintah Waspadai Kenaikan Harga Minyak Dunia

    NERACA Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah mewaspadai kenaikan harga minyak dunia sebagai imbas…

DIALOG KEPALA NEGARA DENGAN KALANGAN PENGUSAHA - Presiden: Ancaman Resesi 1,5 Tahun ke Depan

Jakarta-Presiden Jokowi terus mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan berhati-hati menghadapi ancaman resesi ekonomi dalam 1-1,5 tahun ke depan. Karena, menurut…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

STOK BERAS NASIONAL MENCAPAI 2,5 JUTA TON - Bulog: Tak Perlu Impor Beras Hingga Maret 2020

Jakarta-Dirut Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso menegaskan, Indonesia tidak perlu melakukan impor beras hingga 2020. Ini karena pasokan beras…

Kebijakan Cukai Rokok Jangan Sampai Beratkan Petani

NERACA Jakarta – Keputusan pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35 persen mendapatkan…

UPAYA MENARIK INVESTOR DATANG KE INDONESIA - “Omnibus Law” Pangkas Aturan Penghambat

Jakarta-Pemerintah siap menerbitkan omnibus law yang akan menjadi payung hukum menyatukan semua peraturan menjadi satu undang-undang (UU). Skema ini diterapkan…