Indonesia Dorong Penyelesaian Kerangka Kerja Sama RCEP

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mendorong penyelesaian tiga bab kerangka kerja sama dalam perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang belum disepakati oleh para menteri ekonomi ASEAN lainnya.

"Tiga bab yang belum disepakati yaitu kompetisi, mekanisme "dispute settlement", serta standar dan kualitas barang. Kami dorong penyelesaian tiga bab itu dalam rangkaian pertemuan KTT ke-33 ASEAN," ujar Enggartiasto Lukita di sela-sela KTT ke-33 ASEAN di Suntec Convention Centre, Singapura, Rabu (14/11).

Menteri Enggartiasto mengatakan bahwa Indonesia bersama dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya membahas 8 bab dari 21 bab perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Kedelapan bab itu antara lain kerja sama ekonomi, UMKM, prosedur kepabeanan, pengadaan pemerintah, ketentuan pemerintah, kebijakan persaingan, mekanisme penyelesaian sengketa, serta standar dan kualitas barang.

"Total semuanya ada 21 bab kerangka kerja sama dalam RCEP. Saat ini menteri ekonomi negara-negara anggota ASEAN mendiskusikan delapan bab kerangka kerja sama. Lima bab sudah disepakati, tinggal tiga bab yang belum," kata dia.

Bab-bab yang belum terselesaikan itu, lanjut dia, dikarenakan adanya perubahan kebijakan dari negara-negara anggota ASEAN untuk melindungi kepentingan mereka masing-masing. "Kami menargetkan delapan bab kerangka kerja sama RCEP dapat dirampungkan dalam KTT ke-33 ASEAN. Kalau 8 bab selesai maka bab-bab yang lainnya mudah untuk diselesaikan," kata dia.

Kemudian, kerangka kerja sama dalam RCEP itu akan dibahas bersama dengan 15 negara peserta RCEP dalam pertemuan pada Maret 2018 di Kamboja. Kelima belas negara RCEP itu adalah 10 negara Asia Tenggara, Tiongkok, India, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Jepang. RCEP-perjanjian perdagangan bebas antara anggota ASEAN dan enam negara mitra-ini mulai dibahas sejak 2013.

Semestinya, perjanjian ini disepakati pada tahun lalu. RCEP dinilai krusial di tengah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. "Kebijakan Amerika Serikat yang menaikkan tarif bea masuk memicu memanasnya hubungan dagang dengan China," ujar Mendag.

Sementara itu, pemerintah Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-33 ASEAN mendorong negara anggota ASEAN untuk menjaga sentralitas kawasan dengan konsep Indo-Pasifik, seperti demikian keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri yang diterima di Jakarta, disalin dari Antara.

Konsep Indo-Pasifik sangat penting artinya bagi ASEAN agar tetap relevan dan menjaga sentralitasnya. Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada sesi pleno KTT ke-33 ASEAN di Singapura, Rabu (14/11). "Agar sentralitas tetap terjaga maka tidak ada jalan lain bagi ASEAN kecuali menggunakan KTT Asia Timur sebagai platform(dasar,red) utama pembahasan konsep ini," ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menambahkan bahwa ketidakpastian dan besarnya tantangan yang dihadapi kawasan Indo-Pasifik berpotensi untuk menimbulkan ancaman bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan tersebut, dalam kaitannya dengan tarik-menarik konstelasi kekuatan dunia.

Menurut dia, ASEAN yang berada di tengah kawasan Indo-Pasifik harus mampu menjadi poros, memainkan peranannya, dan mengubah potensi ancaman menjadi peningkatan kerja sama.

"Dunia kita dipenuhi banyak ketidakpastian. Tarik-menarik kepentingan juga kita rasakan di kawasan kita. ASEAN harus tetap menjadi motor bagi perdamaian dan kesejahteraan. ASEAN harus dapat mengubah potensi ancaman menjadi kerja sama, potensi ketegangan menjadi perdamaian," kata Presiden Jokowi.

Presiden RI menyebutkan bahwa salah satu cara untuk mengembangkan konsep Indo-Pasifik itu adalah dengan meningkatkan kerja sama yang mengedepankan prinsip keterbukaan dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Selain itu, Presiden Joko Widodo juga menyambut baik tanggapan positif negara ASEAN terhadap konsep Indo-Pasifik tersebut dan dijadikan konsep bersama ASEAN. Negara-negara ASEAN memberikan dukungan penuh bagi konsep tersebut. "Saya gembira draf konsep bersama tersebut telah dibahas dan Insya Allah dapat segera disepakati. Konsultasi informal juga telah dilakukan dengan negara mitra ASEAN," ucapnya.

Jokowi menekankan, konsep tersebut akan memberikan arah baru bagi kerja sama ASEAN dengan negara-negara mitranya. Melalui konsep tersebut, Presiden percaya bahwa kesatuan dan sentralitas ASEAN di kawasan akan tetap terjaga.

BERITA TERKAIT

Digitalisasi Dorong Pengembangan Bisnis UKM

    NERACA   Jakarta - Indonesia sudah memasuki era digitalisasi, era disrupsi, serba mudah dan instan, atau kekinian. “Bagi…

20 Persen Ponsel di Indonesia Dibeli dari Black Market

20 Persen Ponsel di Indonesia Dibeli dari Black Market NERACA Jakarta - Sekitar 20 persen dari ponsel pintar yang beredar…

Perusahaan Indonesia Suka Arbitrase Selesaikan Sengketa Bisnis

Perusahaan Indonesia Suka Arbitrase Selesaikan Sengketa Bisnis   NERACA Jakarta - Ahli hukum Wincen Santoso melihat dalam beberapa tahun terakhir ini…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Internasional - Pemerintah Diminta Lobi China Guna Tingkatkan Ekspor Nasional

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir menginginkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dapat melobi pemerintah…

Kadin Berharap Investasi yang Masuk Berorientasi Ekspor

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap investasi yang masuk ke Indonesia merupakan investasi yang berorientasi ekspor…

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…