Tiga Tantangan Lingkungan Jelang 2030

Tiga Tantangan Lingkungan Jelang 2030

NERACA

Jakarta - Akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Emil Salim mengatakan bahwa menjelang tahun 2030, Indonesia menghadapi tiga tantangan lingkungan yang serius mulai dari gempa bumi, perubahan iklim hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati.

"Dunia sekarang ini lebih panas suhu buminya dengan 1 derajat Celsius dibandingkan dengan keadaan pra industri," kata Emil yang juga merupakan ekonom dalam diskusi publik Sains di Medan Merdeka dengan tema 'Merawat Biodiversitas Indonesia, Merawat Masa Depan', di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Senin (12/11).

Dalam pemaparannya di diskusi publik terkait Pengarusutamaan Biodiversitas Indonesia untuk Pembangunan yang Berkesinambungan, Emil mengelompokkan tiga tantangan itu yakni pertama adalah gempa bumi, tsunami dan semburan gunung berapi.

Kedua adalah perubahan iklim dengan dampak naiknya permukaan laut, banjir, gangguan musim tanaman dan sebagainya. Ketiga adalah ancaman erosi keanekaragaman hayati akibat terabaikan fungsi dan peranannya dalam pola pembangunan.

Para ilmuwan Indonesia tentu memiliki pengetahuan terkait ancaman tersebut dan pembangunan Indonesia, namun Emil mengatakan perlu adanya mekanisme yang mendorong hasil kajian ilmuwan bisa sampai di tangan pemerintah yang merupakan pembuat kebijakan pada pembangunan bangsa.

Menurut dia, mekanisme itu bertujuan mempertemukan pengetahuan ilmuwan Indonesia dengan para pembuat kebijakan dalam upaya pembangunan nasional dan pemeliharaan biodiversitas, misalnya, pembuatan jalan dan rumah dapat memperhatikan potensi gempa di suatu wilayah."Para ilmuwan kita tahu banyak, yang mungkin kurang adalah memanfaatkan pengetahuan yang sama-sama kita miliki untuk target tertentu, bisa tidak tantangan 2030 ini kita targetkan agar Tanah Air Indonesia tidak tenggelam karena ancaman gempa, perubahan iklim dan sebagainya," ujar dia.

Dia menuturkan tantangan yang ada itu dapat menyebabkan antara lain es mencair, laut naik, tanah turun dan banjir sehingga ketika pemukaan air laut naik maka sebagian wilayah Indonesia akan tenggelam, untuk itu perlu adanya tindakan baik skala nasional maupun internasional untuk mencegah hal itu terjadi."Ada ilmuwan yang tahu itu tapi jembatan antara pengetahuan ilmuwan dan policy maker (pembuat kebijakan) ada 'missing' (hilang), ada 'gap'," ujar dia.

Selain itu, dia mengatakan menjelang 2030 generasi milenial masa kini punya peranan penting dalam menjawab tiga tangangan lingkungan hidup itu. Dia mengatakan puncak krisis ketiga ancaman itu adalah pada 2030 yang mana generasi mileneal masa kini memegang peranan yang menentukan untuk masa depan bangsa."Karena itu sudah seyogyanya apabila para cendikiawan muda generasi milenial masa kini diharap bisa menyiapkan diri menanggapi tiga tantangan masa depan ini," tutur dia.

Dia juga menekankan dalam melakukan upaya konservasi terutama biodiversitas, perlu banyak kerja sama antarpihak termasuk pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dunia swasta dan masyarakat. Ant

BERITA TERKAIT

Wakil Ketua MPR - Perpecahan dan Korupsi Tantangan Terbesar Bangsa

Mahyudin Wakil Ketua MPR Perpecahan dan Korupsi Tantangan Terbesar Bangsa Palangkaraya - Wakil Ketua MPR Mahyudin mengatakan isu perpecahan dan…

Kilang Balikpapan Tingkatkan Produksi BBM Ramah Lingkungan

    NERACA   Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, pembangunan Refinery Development Master Plan…

Indonesia-Inggris Perkuat Kerja Sama Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Indonesia-Inggris Perkuat Kerja Sama Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan NERACA Katowice, Polandia - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sabtu, 8…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0 NERACA Jakarta - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Dr Prasetyo Hadi mengatakan…

Mitra Pengemudi Laporkan Grab ke KPPU

Mitra Pengemudi Laporkan Grab ke KPPU NERACA Jakarta - Mitra pengemudi melaporkan Grab ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan…

Hoax: Jokowi Kalah di Media Sosial - Fakta Data dari Lembaga Analisa Media Sosial Politicawave

Hoax: Jokowi Kalah di Media Sosial Fakta Data dari Lembaga Analisa Media Sosial Politicawave Oleh : Rofiq Al Fikri (Koordinator…