Stabilitas Perdagangan Butuh Aktivitas Impor

NERACA

Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Pemerintah Indonesia tetap perlu mengimpor komoditas dari luar negeri, sebagai penyeimbang kegiatan ekspor yang dilakukan Indonesia ke luar negeri.

"Dunia ini butuh perdagangan, impor-ekspor. Jadi suatu negara tidak akan bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu harus mengimpor, tapi untuk membayar dia punya impor, itu harus mengekspor," kata Wapres Jusuf Kalla kepada wartawan di Kantor Wapres Jakarta, disalin dari Antara.

Suatu negara, kata Wapres, tidak ada yang bisa melakukan satu kegiatan perdagangan saja, apakah itu impor atau ekspor; sebab untuk menjaga stabilitas perdagangan dalam negeri harus ada kegiatan impor dan ekspor. "Jadi, suatu negara itu pasti terjadi impor-ekspor, negara apa pun itu. Tidak ada negara yang hanya mengekspor melulu," tambahnya.

Terkait pernyataan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, tentang Indonesia tidak memerlukan impor, JK mengira hal itu terkait komoditas bahan pangan. Mengenai itu, Wapres mengatakan Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas komoditas pangan utama seperti beras, jagung dan kedelai.

"Barangkali yang dimaksud (Prabowo) ialah pangan atau beras. Ya itu usaha Pemerintah juga untuk meningkatkan produktivitas, sehingga kita harap benar bahwa yang dimaksud kebutuhan dasar, yaitu beras, jagung. Tapi harus produktivitas lahan itu harus dinaikkan," jelasnya.

Terkait ketersediaan bahan pangan utama di dalam negeri, Wapres mengatakan kebutuhan impor terhadap komoditas tersebut sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain luas lahan dan cuaca, yang berpengaruh pada panen dalam negeri.

"Ya tergantung keadaan, bahan pangan itu tergantung pada luas lahan, tergantung cuaca, tergantung perawatannya, pupuknya dan macam-macam. Walaupun semua tapi cuaca jelek, bagaimana? Atau terjadi El-Nino? Jadi kita tidak bisa mengatakan 'tidak akan impor'," ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah optimistis mampu meningkatkan ekspor nonmigas dalam tiga bulan terakhir 2018, mengingat kinerja ekspor nonmigas surplus pada September 2018 sebesar 1,3 miliar dolar AS. Pertumbuhan ekspor nonmigas selama Januari-September 2018 didukung peningkatan ekspor beberapa pasar negara tujuan ekspor. Ekspor Indonesia ke China tumbuh 26,9 persen, Jepang 18,1 persen, Taiwan 34,1 persen, Korea Selatan 18,6 persen, Vietnam 23,7 persen, dan Bangladesh 19,5 persen.

"Pemerintah optimistis untuk terus mendorong peningkatan ekspor pada tiga bulan terakhir sehingga target ekspor nonmigas tahun ini dapat terlampaui," ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melalui keterangannya yang diterima di Cirebon, disalin dari Antara.

"Peningkatan ekspor tersebut tidak hanya menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, namun juga diprediksi dapat mendukung pencapaian target ekspor nonmigas tahun ini," imbuh Mendag. Beberapa komoditas utama ekspor nonmigas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan ekspor selama Januari-September 2018, antara lain besi dan baja (HS 72), bijih kerak dan abu logam (HS 26), berbagai produk kimia (HS 38), kertas per karton (HS 48), dan bahan bakar mineral (HS 27).

Sementara itu, total impor September 2018 mencapai 14,60 miliar dolar AS, turun 13,18 persen dari Agustus 2018 (MoM) yang mencapai 16,82 miliar dolar AS. Namun, masih meningkat 14,25 persen dibanding September tahun sebelumnya (YoY). Dibanding September 2017, impor nonmigas naik 13,62 persen, sedangkan impor migas naik 17,76 persen. Kenaikan impor migas yang cukup tinggi disebabkan karena kenaikan harga rata-rata minyak mentah dunia dari 71,1 dolar AS per barel pada Agustus 2018 menjadi 75,4 dolar AS per barel pada September 2018.

Mendag mengungkapkan, penurunan impor bulan September 2018 terjadi pada semua klasifikasi barang impor. Hal ini mengindikasikan penurunan konsumsi domestik. Barang konsumsi impor yang menurun signifikan antara lain bahan bakar dan pelumas, makanan dan minuman olahan untuk rumah tangga, serta barang konsumsi tidak tahan lama. Sedangkan untuk bahan baku/penolong, yang impornya turun adalah bahan bakar dan pelumas, bahan baku untuk industri, serta suku cadang dan perlengkapan barang modal.

Mendag juga menyampaikan, secara kumulatif total impor Januari September 2018 mencapai 138,77 miliar dolar AS, naik 23,33 persen dari Januari September 2017 (YoY) tercatat sebesar 112,52 miliar dolar AS. Peningkatan nilai impor tersebut didorong oleh kenaikan impor seluruh klasifikasi barang.

BERITA TERKAIT

Rantai Perdagangan Beras di Sumsel Diperkirakan Bertambah

Rantai Perdagangan Beras di Sumsel Diperkirakan Bertambah NERACA Palembang - Rantai perdagangan beras di Sumatera Selatan (Sumsel) bertambah jika dibandingkan…

Regulasi Buruk, Neraca Perdagangan Terpuruk

Oleh: Sarwani Pemerintah dan otoritas moneter berkelit menghadapi kenyataan bahwa Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan hingga mencapai 2,5 miliar dolar…

Defisit Neraca Dagang - Pemerintah Dinilai Perlu Hati-Hati Sikapi Pengendalian Impor

NERACA Jakarta – Defisit neraca dagang Indonesia pada April 2019 merupakan yang tertinggi sejak April 2013, dimana angka defisit mencapai…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

RI Akan Terus Negosiasi UE Hadapi Sentimen Negatif Sawit

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) akan terus akan terus melakukan negosiasi untuk menghadapi sentimen negatif Uni Eropa (UE) terhadap…

Defisit Neraca Dagang - Pemerintah Dinilai Perlu Hati-Hati Sikapi Pengendalian Impor

NERACA Jakarta – Defisit neraca dagang Indonesia pada April 2019 merupakan yang tertinggi sejak April 2013, dimana angka defisit mencapai…

Udang Jadi Primadona Komoditas Ekspor dari Indonesia

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan (Susi Pudjiastuti) di awal menjabat, menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, telah…