Martina Berto Persolek Kinerja di Semester Dua

NERACA

Jakarta – Anjloknya kinerja keuangan PT Martina Berto Tbk (MBTO) di paruh pertama tahun ini, mendorong emiten kosmetik ini terus berbenah diri di semester kedua tahun ini. Salah satu upaya yang dilakukan perseroan adalah melakukan flush out untuk beberapa produknya pada sisa tahun ini. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Flush out diberlakukan untuk produk-produk yang turn over-nya rendah di gerai-gerai, sehingga cash flow perseroan membaik, dapat mengurangi utang bank untuk membayar pemasok, dan menurunkan beban bunga. Perseroan menjelaskan, untuk memperbaiki penjualan, persoalan piutang yang tertahan di gerai-gerai akan dibenahi terlebih dahulu. Dengan kembali lancarnya stok, gerai dapat melakukan order kembali sehingga operasional perseroan kembali sehat.

Di sisi lain, perseroan juga terus memaksimalkan penjualan alternatif. termasuk melalui media dalam jaringan (daring). Perseroan mengklaim, kinerja gerai MBTO mulai menunjukkan kontribusi yang semakin meningkat. Namun MBTO tidak hanya mengandalkan gerai sendiri, sehingga platform online mulai dirintis. Toko online Martha Tilaar Shop juga melayani market place. Adapun dari sisi utang, perseroan sejaugh ini hanya memiliki dalam bentuk rupiah. Sementara itu, utang dagang dari pemasok importir yang menggunakan mata uang dolar AS dibayar dalam mata uang rupiah.

Sebagai informasi, di paruh pertama tahun ini MBTO mengalami kerugian. Total penjualan pada semester I/2018 senilai Rp277,9 miliar, turun sebesar 7,22% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp299,53 miliar. Pada enam bulan pertama tahun ini, emiten bersandi saham MBTO ini mencatatkan kerugian hingga Rp21,65 miliar. Kondisi ini berbalik karena pada semester pertama tahun lalu perseroan masih berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp3,43 miliar.

Perseroan berdalih, pada tahun ini daya beli masyarakat masih tertekan. Selain itu, ada tekanan dari kenaikan harga energi, tapering off dan kebijakan tariff masuk Amerika Serikat, serta defisit neraca perdagangan yang membuat pelemahan nilai tukar rupiah. Alhasil, ongkos produksi membengkak."Karena biaya produksi makin tinggi, sedangkan volume penjualan tidak dapat didongkrak tanpa promo atau diskon," kata Investor Relations Martina Berto Desril Muchtar.

Dia menambahkan, untuk menyelamatkan margin yang makin tipis, perseroan berusaha menargetkan segmen yang lebih tinggi dengan meluncurkan produk baru dengan kualitas lebih tinggi. Namun, hasil dari penetrasi segmen pasar baru ini belum bisa langsung dirasakan perseroan. Disamping butuh upaya pemasaran yang lebih intensif, segmen kelas atas ini lebih selektif dalam memilih merek dan produk serta pasarnya tidak seluas segmen di bawahnya.

Selain itu, penurunan penjualan itu juga disebabkan oleh adanya produkyang mengalami kendala saat dikeluarkan dari gerai-gerai modern karena kalah bersaing dengan produk lain. Dengan demikian, perseroan harus menanggung biaya material dan biaya overhead lebih tinggi . Pasalnya, kecilnya volume penjualan menyebabkan turunnya marjin keuntungan kotor perusahaan tersebut.

BERITA TERKAIT

Kinerja Bulog Dikhawatirkan Tidak Maksimal - Setelah Tugas Penyerapan Telur dan Ayam

NERACA Jakarta – Kinerja Bulog dikhawatirkan tidak akan maksimal setelah institusi pimpinan Budi Waseso tersebut kembali mendapatkan tugas baru dari…

Lagi, Ace Hardware Buka Dua Gerai Baru

NERACA Jakarta – Kejar target bisnis tahun ini, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) terus memperluas jangkauan. Tercatat akhir pekan…

Pemkot Sukabumi Lakukan Uji Publik Dua Raperda

Pemkot Sukabumi Lakukan Uji Publik Dua Raperda NERACA Sukabumi - Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi mulai melakukan uji publik dua Rancangan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Bersama WIKA dan Summarecon - MUN Ikut Konsorsium Tol Dalam Kota Bandung

NERACA Jakarta - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) lewat anak usahanya PT Margautama Nusantara (MUN) bersama PT Wijaya Karya (Persero)…

Pendapatan Bali Towerindo Tumbuh 42%

NERACA Jakarta - Di kuartal tiga 2018, PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) membukukan kenaikan pendapatan usaha 42% menjadi Rp…

Pefindo Beri Peringkat AA- Chandra Asri

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan rating untuk PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) pada idAA-. Outlook rating TPIA stable. Rating…