Dag Dig Dug Stabilisasi Nilai Tukar

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Apa sih yang dibutuhkan para pengelola kebijakan ekonomi, dan apa pula yang dibutuhkan masyarakat dalam melihat fenomena dan dinamika ekonomi. Kini kita dihadapkan pada masalah nilai tukar yang terus melemah. Melemah dalam bahasa tubuh berarti daya tahan menjadi rentan. Berarti gampang sakit. Nilai tukar mata uang yang melemah pertanda juga ekonomi domestik tidak terlalu sehat.

Kita dag dig dug menunggu kabar baik apakah stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa di stabilkan. Jawabannya harus bisa. Yes we can. Kalau tidak bisa berarti gagal peran otorisator sebagai penjaga pasar. Fungsi menciptakan stabilisasi adalah melekat menjadi tanggung jawab pemerintah. Dua hal yang terkait, yakni menciptakan stabilitas politik dan stabilitas ekonomi. Ketidakberhasilan tentu berisiko.

Yang paling menyakitkan adalah jika terjadi krisis ekonomi, krisis kepercayaan, dan situasi buruk lainnya yang pasti kita semua akan menderita kerugian besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah barang tentu skenario buruk tersebut tidak diharapkan terjadi karena cost recovery-nya amat mahal, baik cost recovery politik, ekonomi, maupun sosial.

Stabilitas adakah dikau sejatinya seperti halnya dengan ketika ketidakstabilan juga hadir di tengah kehidupan ini. Jawaban atas pertanyaan itu adalah ada karena keduanya adalah sebuah kondisi yang dapat terbentuk dan terjadi di suatu waktu. Tapi normalnya kita mengharapkan stabilitas politik, sosial, dan ekonomi. Stabilitas adalah kebutuhan yang kita harapkan. Dan ketidakstabilan merupakan kondisi yang secara normal tidak kita harapkan di tengah kehidupan kita bersama.

Terus terang kita dag dig dug dan harap-harap cemas menunggu datangnya stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kita harapkan karena rupiah adalah mata uang kita sendiri. Kalau mata uang kita sendiri, dan di antara kita ada yang "takut" pegang mata uangnya sendiri dan/atau tidak percaya atas rupiah miliknya sendiri sehingga lebih percaya pada dolar AS atau valas, yang lain, maka golongan masyarakat ini, nasionalisme patut dipertanyakan dan patut "digugat" karena mereka patut diduga sebagai golongan bukan pencinta stabilitas nilai tukar, dan mereka dapat kita sebut "tersesat".

Sebab itu, bangsa Indonesia tanpa kecuali harus berkontribusi secara maksimal terhadap penciptaan. stabilitas nilai tukar mata uang rupiah. Upaya ini adalah bagian dari cinta tanah air. Mudah-mudahan pikiran ini dianggap waras dan logis.

Sama halnya kita mendorong peningkatan penggunaan produk dan jasa dalam negeri, semestinya yang mendorong dan didorong sama-sama mau menggunakan produk karya anak bangsanya sendiri. Karena menggiatkan P3DN adalah bagian juga dari cinta tanah air.

Berarti, semua transaksi di dalam negeri harus dilakukan dalam denominasi mata uang rupiah. Pun demikian, berarti semua tabungan dan deposito di dalam negeri milik WNI harus dalam bentuk denominasi rupiah, tidak boleh dalam bentuk valas.

BERITA TERKAIT

Nilai Transaksi Harian Sepekan Tumbuh 1,24% - Banyak Diburu Investor Lokal

NERACA Jakarta - Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan kemarin ditutup dengan peningkatan sebesar 0,43% ke level…

NILAI EKSPOR INDONESIA

Kapal tunda (tug boat) melintas di dekat Terminal Nilam, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/10). Berdasar data Badan…

Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp15.000 Per US$

 NERACA Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah hingga ke batas psikologis baru di Rp15.000 per dolar AS pada Selasa siang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Reksadana Syariah, Siapa Mau?

Oleh : Agus Yulaiwan  Pemerhati Ekoomi Syariah Bisnis syariah sebenarnya ragam jenisnya, namun  di Indonesia sejauh ini dikenal hanya lembaga…

Polemik Harga BBM

  Oleh:  Sih Pambudhi Peneliti Intern Indef Pembatalan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium kurang dari satu…

Minim Ruang Proteksionisme

  Oleh: Nisfi Mubarokah Peneliti Internship INDEF Tidak banyak ruang tersisa bagi proteksionisme di era globalisme ini. Di dunia yang…