Harga Minyak Jatuh Setelah OPEC Putuskan Naikkan Produksi

NERACA

Jakarta – Harga minyak turun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), sebagaimana disalin dari Antara, setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen minyak non-OPEC pada Sabtu (23/6) sepakat untuk bersama-sama meningkatkan produksi minyak.

Pertemuan antara OPEC dan produsen minyak non-OPEC termasuk Rusia memutuskan untuk memenuhi kepatuhan 100 persen pembatasan produksi minyak yang ditetapkan dalam pertemuan pada 2016 di mana disepakati untuk memangkas produksi minyak dengan total 1,8 juta barel per hari tercapai.

Produsen-produsen minyak telah mengurangi produksi lebih dari yang dibutuhkan dalam beberapa bulan terakhir. Menurut pernyataan pertemuan, para produsen minyak akan "berusaha untuk mematuhi tingkat kepatuhan keseluruhan, secara sukarela disesuaikan hingga 100 persen. "OPEC tidak memberikan rincian bagaimana pihaknya akan memecah peningkatan produksi, bahkan tanpa memberikan secara langsung jumlah peningkatan produksi minyak.

Namun, menurut laporan media, aliansi tersebut telah sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar satu juta barel per hari, efektif mulai Juli. Patokan AS, minyak mentahWest Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, turun 0,50 dolar AS menjadi menetap di 68,08 dolar per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus, kehilangan 0,82 dolar AS menjadi ditutup pada 74,73 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Harga minyak mentah Brent turun lebih dari dua persen pada perdagangan Senin pagi, karena para pedagang mempertimbangkan ekspektasi peningkatan produksi yang disepakati di kantor pusat Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Wina pada Jumat (22/6) pekan lalu.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent, patokan internasional untuk harga minyak, diperdagangkan di 73,90 dolar AS per barel pada pukul 00.35 GMT, turun 2,2 persen dari penutupan terakhir mereka.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), diperdagangkan di 68,36 dolar AS per barel, turun 0,3 persen, didukung oleh sedikit penurunan dalam aktivitas pengeboran AS. Hal demikian disalin dari Antara, kemarin.

Harga awalnya melonjak setelah kesepakatan diumumkan, karena tidak melihat peningkatan pasokan sebanyak yang diperkirakan. Mitra OPEC dan non-OPEC termasuk Rusia sejak 2017 memotong produksi 1,8 juta barel per hari (bph) untuk mengencangkan pasar dan menaikkan harga.

Sebagian besar karena gangguan yang tidak direncanakan di tempat-tempat seperti Venezuela dan Angola, produksi grup telah berada di bawah pemotongan yang ditargetkan, yang sekarang dikatakan akan dibalik oleh peningkatan suplai terutama dari pemimpin OPEC Arab Saudi.

Bank Barclays Inggris mengatakan bahwa komitmen OPEC dan Rusia akan mengambil "pasar dari defisit -0,2 juta bph dalam paruh kedua 2018 menjadi surplus 0,2 juta bph". Konsultan energi Wood Mackenzie mengatakan perjanjian itu "mewakili kompromi antara menanggapi tekanan konsumen dan kebutuhan negara-negara penghasil minyak untuk mempertahankan harga minyak dan mencegah merugikan ekonomi mereka".

Di Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan energi AS pekan lalu mengurangi satu rig minyak, pengurangan pertama dalam 12 minggu, mengambil jumlah total rig menjadi 862 rig, Baker Hughes mengatakan pada Jumat (22/6).

Itu menempatkan jumlah rig di jalur untuk peningkatan bulanan terkecil sejak menurun dua rig pada Maret dengan hanya tiga rig yang ditambahkan sejauh ini pada Juni, meskipun tingkat keseluruhan tetap hanya berkurang satu rig dari tertinggi Maret 2015 minggu sebelumnya.

Sebelumnya, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Jumat pekan lalu menyetujui kenaikan produksi minyak mulai bulan depan setelah pemimpin organisasi itu Arab Saudi membujuk seterunya Iran untuk bekerja sama, mengikuti permintaan sejumlah konsumen utama minyak untuk membantu menurunkan harga minyak mentah dan menghindari kelangkaan pasokan.

Namun, keputusan itu membingungkan pasar karena OPEC tidak memberikan target peningkatan yang jelas, sehingga sulit untuk menghitung berapa banyak sebenarnya tambahan minyak yang akan dipompa. Dampak dari keputusan itu harga minyak naik 3 persen.

"Diharapkan OPEC akan meningkatkan produksi secara substansial. Perlu upaya untuk menurunkan harga," kata Presiden AS Donald Trump lewat Twitter kurang dari satu jam setelah OPEC mengumumkan keputusannya, sebagaimana disalin dari Antara.

Sejumlah negara di antaranya Amerika Serikat, Cina dan India mendesak organisasi yang berbasis di Wina itu untuk menambah pasokan.

BERITA TERKAIT

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 6%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya pada November 2018 menjadi enam persen,…

Pertamina-Rosneft Akan Bangun Kilang Minyak di Tuban

NERACA Jakarta – PT Pertamina (Persero) bersama perusahaan energi Rusia, Rosneft Oil Company akan membangun sekaligus mengoperasikan kilang minyak yang…

Medco Energi Pacu Ekspansi Bisnis Minyak - Private Placement Rp 1,54 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnisnya, emiten pertambangan PT Medco Energi International Tbk. (MEDC) bakal menggelar private…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Produk Perkebunan - Agar Regulator Turunkan Pungutan Sawit untuk Daya Saing Ekspor

NERACA Jakarta – Pemerintah diminta menurunkan pungutan ekspor (PE) sawit untuk mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) dan meningkatkan daya…

Harga Minyak Dipicu Penurunan Stok AS dan Pasokan OPEC

NERACA Jakarta – Minyak berjangka naik untuk sesi kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah penurunan tajam…

Kerjasama Internasional - Negara Anggota Sepakat Perundingan RCEP Bakal Tuntas di 2019

NERACA Jakarta – Negara-negara anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) menyepakati menuntaskan negosiasi RCEP pada 2019. Komitmen tersebut tertuang dalam…