Ada Peluang BI Naikkan Bunga Hingga 4,75%

NERACA

Jakarta – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia akan diselenggarakan pada 16-17 Mei 2018. Ini menjadi RDG bulanan terakhir bagi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo yang akan digantikan oleh Perry Warjiyo. Dalam RDG ini, kalangan pengamat menilai bahwa BI mempunyai peluang untuk menaikkan suku sebesar 50 basis poin menjadi 4,75 persen. Hal itu dikarenakan untuk meredam keluarnya modal asing yang telah menggerus nilai rupiah.

Ekonom yang juga Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani di Jakarta, Selasa (15/5), mengatakan BI sudah terlambat jika hanya menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" sebesar 25 basis poin. Pasalnya, selisih imbal hasil instrumen keuangan di Indonesia dan negara maju sudah semakin menyempit, sehingga membuat investor lebih memburu aset berdenominasi dolar AS dan melepas rupiah.

Kenaikan 50 basis poin juga patut dipertimbangkan karena di sisa tahun, bank sentral AS (The Fed) masih bisa menaikkan suku bunga acuanya sebanyak dua hingga tiga kali atau secara akumaltif menjadi 100 basis poin tahun ini. "50 basis poin, paling tidak untuk menahan 'capital outflow', paling tidak sudah lihat The Fed akan menaikkan 75-100 basis poin tahun ini," ujarnya.

Aviliani menilai bank sentral memang saat ini harus memilih untuk mengarahkan instrumen suku bunga guna menjaga stabilitas, atau untuk mendorong pemulihan pertumbuhan ekonomi. Apabila suku bunga dinaikkan hingga 50 bps, memang terdapat risiko kenaikan suku bunga dana dan kredit di bank yang bisa memukul konsumsi masyarakat.

Namun, peran investasi untuk menopang ekspansi swasta juga penting. Peran investasi swasta itu dapat dipulihkan dengan mengendalikan nilai rupiah, sehingga beban biaya impor dunia usaha tidak membengkak. Di sisi lain, meski kenaikan bunga acuan bisa mengerek bunga kredit yang pada akhrinya menggangu permintaan kredit, Aviliani menilai saat ini sumber pendanaan korporasi, tidak hanya didominasi dari bank, namun sudah tergeser melalui instrumen di pasar modal. "Kalau nilai tukar lebih baik dan stabil maka cenderung dunia usaha tidak takut dengan investasi dan kenaikan harga bisa dihindari," tuturnya.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira juga menilai BI perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan hingga sebesar 25-50 basis poin karena tekanan modal asing keluar yang cukup besar. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo sebelumnya menyatakan bank sentral memiliki ruang besar untuk menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" pada Mei 2018 ini, setelah anjloknya rupiah yang melewati batas fundamentalnya.

Suku bunga acuan BI saat ini sebesar 4,25%. Sudah dalam sembilan kali Rapat Dewan Gubernur bulanan, BI mempertahankan suku bunga acuan tersebut dengan arah kebijakan moneter yang bersifat "netral" dan "akomodatif".

Pihak perbankan pun memandang tren kenaikan suku bunga sulit untuk dihindari, terlebih jika BI benar menaikkan suku bunga acuannya. Direktur Finansial dan Treasuri BTN Iman Nugroho Soeko mengakui transmisi kenaikan suku bunga acuan BI terhadap suku bunga simpanan perbankan sangat cepat. Transmisi itu akan lebih cepat terhadap simpanan deposito yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. "Kalau suku bunga BI naik, pasti deposan (pemilik simpanan deposito) juga mengharapkan kenaikan, akhirnya biaya dana (cost of fund) naik," ujarnya.

Ketika biaya dana naik, Iman mengakui, perbankan tidak memiliki pilihan lain selain menaikkan bunga kredit untuk menjaga marjin pendapatan bunga. Namun, dia menjamin, transmisi ke suku bunga kredit tidak akan berlangsung secepat kilat. Terdapat jeda atau transisi yang dipertimbangkan bank dalam menaikkan suku bunga kredit, termasuk pertimbangan dampaknya terhadap permintaan kredit. "Kalau suku bunga kebijakan BI pekan ini naik 25 basis poin, suku bunga kredit tidak langsung naik juga pekan ini, ada proses yang bertahap," ujarnya.

Iman melihat BI memang kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga acuannya pada pekan ini, untuk merespon tekanan eksternal yang terus membuat nilai rupiah anjlok dalam beberapa hari terakhir. "Berbagai langkah bisa diambil termasuk suku bunga acuan menjadi salah satu opsi. Kita lihat nanti langkah BI," ujarnya. bari

BERITA TERKAIT

Hasil Evaluasi Hukum dan Finansial: Tidak Ada Misrepresentasi, Kewajiban SN Sudah Dipenuhi

Hasil Evaluasi Hukum dan Finansial: Tidak Ada Misrepresentasi, Kewajiban SN Sudah Dipenuhi NERACA Jakarta - Keputusan Komite Kebijakan Sektor Keuangan…

Bank Mandiri Tawarkan Kupon Hingga 8,50% - Targetkan Dana Obligasi Rp 3 Triliun

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan kredit lebih agresif lagi hingga akhir tahun 2018, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan perolehan…

Karhutla, dari Dulu Hingga Kini

Oleh: Virna P Setyorini Para ahli di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memperhitungkan, berdasarkan pertimbangan kondisi dinamika atmosfer…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Sentimen Krisis Turki Membuat Rp dan IHSG Loyo

NERACA Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebagai buntut dari sentimen krisis ekonomi di Turki, memberikan dampak…

DAMPAK KRISIS MATA UANG TURKI - Darmin: Reaksi Berlebihan Berdampak Psikologis

Jakarta-Menko Perekonomian Darmin Nasution menganggap anjloknya mata uang Turki (lira), berdampak secara psikologis terhadap bursa saham dan mata uang negara-negara…

Ekonom: Program Capres Harus Beri Kepastian Berbisnis

NERACA Jakarta-Ekonom menilai faktor yang mampu mendorong sentimen positif berinvestasi bukan latar belakang sosok calon presiden dan calon wakil presiden,…