Gagal Terbang Ke Eropa, Gagal Pula IPO Lion Air - AKIBAT BANYAK MUATAN POLITIK

Jakarta – Maskapai penerbangan berbiaya murah "Lion Air" membatalkan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) dengan alasan krisis ekonomi global. Namun pembatalan IPO ini bukan didasarkan faktor ekonomi global semata, tetapi lantaran larangan terbang ke Eropa yang bakal memicu pasar untuk IPO kurang peminat di pasar.

NERACA

Menurut Lektor Kepala FE Universitas Pancasila, Agus S. Irfani, gagalnya IPO tidak hanya disebabkan soal krisis ekonomi global. Dia melihat kegagalan ini lebih pada muatan politik, “Saya menengarai adanya pengaruh politik dalam IPO mereka,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (13/2).

Namun sayangnya, Agus belum mau mengekplorasi lebih dalam muatan politik dimaksud. Tetapi soal pesawat Boeing yang menjadi penyebab mereka mendapat larangan terbang di Eropa, menurut dia, tidak terlalu dipersoalkan.

Sementara itu, larangan terbang di langit benua biru, dinilai Agus, tidak memberikan pengaruh yang signifikan atas batalnya IPO "Lion Air". Pasalnya, saat ini saja mereka ingin menambah rute-rute penerbangannya, seperti wilayah Tapanuli dan Sibolga di Sumatera Utara.

Agus mengatakan, gagalnya IPO "Lion Air" memang karena saat ini situasi untuk penerbangan memang sedang tidak bagus. Tentunya, lanjut Agus, kita juga harus belajar dari kasus kegagalan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), selain itu, adanya pemberlakukan penalti sebesar Rp 300.000 bagi setiap maskapai delay dan membuat masyarakat mengasosiasikan harga saham "Lion Air" tidak akan bagus. “Seperti kita ketahui, kan, Lion Air sangat terkenal dengan delay-nya, akibatnya masyarakat mengasosiasikan dengan harga saham yang tidak baik,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat penerbangan Soeharto Abdul Madjid, larangan terbang "Lion Air" karena faktor politik dan kondisi ini mampu membalikkan semuanya. Pasalnya, unsur politik bisa saja terjadi disana dan para politisi menggunakan instrumen perdagangan, “Hal ini akan menimbulkan lobi-lobi nantinya,”cibirnya.

Selain itu, dia menilai larangan terbang ke Eropa lebih dikarenakan kegamangan Eropa terhadap pengaruh krisis ekonomi yang terjadi. “Eropa sedang gamang karena pengaruh krisis ekonomi. Negara Eropa yang relatif aman dari krisis hanya Jerman, Inggris, dan Perancis,”ujarnya.

Oleh karena itu, larangan terbang terhadap "Lion Air" akibat jenis pesawat yang digunakan bukan buatan Eropa adalah tidak tepat. Kemudian dia pun menegaskan, larangan itu tidak patut diterapkan, kecuali kalau kinerja "Lion Air" buruk, itu sah-sah saja. Karena alasan etika, penerbangan internasional tidak menyebutkan hal itu.

Menurut dia, maskapai manapun berhak menentukan akan menggunakan jenis pesawat apa. Maka dari itu, dirinya mengimbau agar baik Uni Eropa maupun AS yang telah menjalin kerja sama dengan "Lion Air" agar lebih dewasa. “Penerbangan itu kan industri global, mereka harusnya lebih terbuka dan dewasa menghadapi masalah ini. Apalagi sektor penerbangan sedang tumbuh 14%-15%,” ujarnya.

Faktor Keselamatan

Sementara Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S. Ervan menuturkan bahwa larangan terbang "Lion Air" merupakan hasil kajian dari International Civil Aviation Organization (ICAO). “ICAO melakukan kajian terhadap penerbangan Indonesia dan hasilnya adalah beberapa maskapai Indonesia salah satunya adalah "Lion Air" yang dilarang terbang ke Eropa,” ujarnya.

Menurut dia, salah satu penilaiannya adalah tentang keselamatan. Faktor keselamatan itu menjadi hal paling penting dalam urusan transportasi baik darat, laut maupun udara. Ditambahkannya, ICAO adalah lembaga PBB yang khusus mengurus sektor penerbangan. “Sebenarnya, "Lion Air" bisa membuka penerbangan ke Eropa, asalkan ada inisiatif dari mereka untuk mengajukan dan melengkapi persyaratan-persyaratan sesuai ICAO,” ujarnya.

Meski begitu, Bambang melanjutkan sudah ada 6 maskapai nasional yang mendapatkan lampu hijau terbang ke Eropa. Mereka adalah Garuda Indonesia, Airfast Indonesia, Mandala Airlines, Ekspres Transportasi Antarbenua, Indonesia AirAsia, dan Metro Batavia.

Sekjen Asosiasi Penerbangan Sipil Indonesia (INACA), Tengku Burhanudin menambahkan, rute penerbangan "Lion Air" mayoritas jalur pendek (short overhaul), penerbangan singkat berdurasi 90 menit, sedangkan untuk penerbangan jarak jauh seperti ke Eropa dibutuhkan pesawat berukuran besar (widely body). “Jenis pesawat ini yang tidak dipunyai "Lion Air",”tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif "Lion Air", Rusdi Kirana pernah bilang, alasan penundaan IPO disebabkan krisis perekonomian global yang belum pulih. Menurut rencana, perseroan bakal menjual sahamnya ke publik sebesar US$1 miliar atau Rp 9 triliun. "Kami tidak bisa melakukannya tahun ini karena situasi krisis keuangan yang tidak begitu baik," katanya seperti dikutip media asing.

Dia juga mengklaim bahwa "Lion Air" memiliki pangsa pasar penerbangan sebanyak 51% di negara yang penduduknya terpadat keempat di dunia. “Kami berencana melepas saham apabila sudah mencapai 60% dan saya prediksi akan terjadi pada dua tahun lagi atau 2014,” tandas Rusdi.

Sementara Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait menegaskan, pelarangan Eropa terhadap perseroan masih belum jelas mengenai apa. Akan tetapi, kata Edward, "Lion Air" tidak mempermasalahkan larangan tersebut. “Karena penilaian mereka (Eropa) belum jelas, jadi kita tunggu. Ini sifatnya antarpemerintah (g to g),” ujarnya.

Edward berkilah kalau "Lion Air" tidak berniat membuka rute penerbangan Eropa tahun ini dan masih fokus untuk melebarkan sayapnya ke wilayah regional saja. “Karena pesawat baru akan tiba tahun 2017 dan bertahap sampai 2025. Kita akan fokus perluas penerbangan seluruh Indonesia dan buka rute baru, khususnya kawasan Asia Selatan,” tambah dia.

Asal tahu saja, menurut kabar yang beredar di pasar menyebutkan, jika penundaan maskapai berlambang Singa itu disebabkan dua faktor. Pertama, kasus tiga pilot "Lion Air" yang tertangkap polisi akibat pesta narkoba, kedua, dilarang terbang memasuki wilayah udara Eropa. Faktor terakhir ini diduga lebih kepada persaingan dagang antara The Boeing Company asal Amerika Serikat (AS) dengan Airbus SAS dari Eropa, tepatnya, Toulouse, Perancis. bari/mohar/ahmad/ardi/bani

BERITA TERKAIT

Pasar Apartemen Tetap Tumbuh di Tahun Politik

NERACA Jakarta –Meskipun tahun depan dihantui sentimen politik, para pelaku properti menyakini industri properti masih tetap positif. Apalagi, properti masih…

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

JMA Syariah Tetapkan IPO Rp 140 Per Saham

PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMA Syariah) telah menetapkan harga pelaksanaan penawaran umum saham perdana mereka. Harga…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Akuisisi Fintech Pembayaran Harus Lapor BI

NERACA Jakarta-Bank Indonesia menerbitkan peraturan baru untuk melindungi konsumen khususnya terkait dengan sistem pembayaran dan ekonomi digital. Ini sehubungan dengan…

WASPADAI IMPOR BARANG KONSUMSI TERUS MENINGKAT - Bappenas: Transaksi Belanja Online Mulai Serius

  Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro menilai pergeseran belanja masyarakat dari ritel konvensional ke online…

Skema Lelang Gula Rafinasi Dinilai Tidak Efektif

  NERACA Jakarta – Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan distribusi gula rafinasi melalui mekanisme lelang dinilai tidak…