Per Agustus, Kontrak Wintermar Capai Rp 2,4 Triliun

NERACA

Jakarta – Sampai dengan Agustus, perusahaan pelayaran PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) mengantongi kontrak senilai US$ 262 juta atau setara dengan Rp 2,4 triliun. Total kontrak itu sudah naik sebesar US$ 67 juta dibanding posisi Mei yang hanya US$ 195 juta.

Investor Relations Wintermar Offshore, Pek Swan Layanto mengatakan, perseroan terus meningkatkan kinerja dan hingga akhir Agustus nilai kontrak telah mencapai US$ 262 juta, meskipun perusahaan tidak memiliki target khusus hingga akhir tahun, “Kita nggak ada target, selalu ada banyak tender. Kadang kalau kita menang tender, kalau bukan buat kapal kita juga kita sewa," katanya di Jakarta, Rabu (3/10).

Dia menambahkan, WINS tidak selalu mengandalkan kapal milik sendiri yang sekarang berjumlah 65 unit. Oleh karena itu, dalam usaha bisnis minyak dan gas perseroan lebih memilih menyawa kapal.

Menurutnya, penggunaan kapal milik sendiri sedikit lebih menguntungkan dibanding harus menyewa kapal lain. "Pendapatan masih besar kapal milik, kira-kira 60%. 40% itu dari pendapatan kapal chartering (sewa)," jelasnya.

Lebih lanjut ida mengatakan, peluang bisnis pengeboran minyak perseroan semakin besar. Pasalnya, banyak areal-areal pengeboran di wilayah timur yang belum terjamah. "Aktivitas di industri pengeboran banyak. Karena banyak yang baru memulai ngebor. Karena mereka ikut menambah sumber minyak dan gas. Banyaknya di timur. Dan banyak daerah itu dalam sekali," tambahnya.

Raih Pinjaman US$ 10  Juta

Selain itu, perseroan juga meraih pinjaman utang sebesar US$ 10 juta dari International Finance Corporation (IFC) anggota kelompok Bank untuk membeli armada kapal baru. Presiden Direktur Wintermar, Sugiman Layanto menyatakan, tahun ini perseroan ada penambahan kapal dan dananya sekitar US$ 60-70, “Jangka waktu yang diberikan untuk pinjaman tiga tahun,”ujarnya.

Lebih lanjut, bulan Januari lalu, IFC pun telah menggelontorkan dana pinjaman sebesar US$ 45 juta kepada Wintermar. Bedanya, kata Sugiman, total dana US$ 10 juta yang diberikan saat ini adalah berupa convertable loan, dimana total investasi ini bisa dikonversi menjadi saham. "Pembiayaan ini merupakan pinjaman yang bisa dikonversikan menjadi saham di WINS dengan harga Rp 500/ lembar saham, jadi sekitar 5% lah dari modal kita,"paparnya.

Selain itu, dia juga mengungkapkan, realisasi dana yang dipinjamkan sudah terserap sebanyak US$ 25 juta. Sedangkan sisanya akan direalisasikan pada semester kedua. Sebagaimana diketahui, pinjaman sebelumnya US$ 45 juta dan yang sudah digunakan sekitar US$ 25 juta, untuk investasi kapal. Dimana  3 kapal sudah di terima dan sisanya 4 kapal lagi akan dilakukan pada semester kedua tahun ini. (bani)

BERITA TERKAIT

Sharp Ikut Berdayakan Ekonomi UMKM Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap semua sektor perekonomian karena roda perekonomian melambat, tidak terkecuali pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).…

Tawarkan Akses Investasi Mancanegara - Pluang Rilis Produk S&P 500 Indeks Futures

NERACA  Jakarta ---Ramaikan investasi di bursa berjangka, investasi micro e-mini S&P 500 index futures kini bisa dilakukan dalam tiga ketukan…

Performance Saham Unilever Masih Tangguh dan Juara

NERACA  Jakarta - Sebagai saham defensif, saham-saham industri barang konsumsi digolongkan menjadi lima kategori sub sektor. Selain makanan dan minuman…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Sharp Ikut Berdayakan Ekonomi UMKM Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap semua sektor perekonomian karena roda perekonomian melambat, tidak terkecuali pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).…

Tawarkan Akses Investasi Mancanegara - Pluang Rilis Produk S&P 500 Indeks Futures

NERACA  Jakarta ---Ramaikan investasi di bursa berjangka, investasi micro e-mini S&P 500 index futures kini bisa dilakukan dalam tiga ketukan…

Performance Saham Unilever Masih Tangguh dan Juara

NERACA  Jakarta - Sebagai saham defensif, saham-saham industri barang konsumsi digolongkan menjadi lima kategori sub sektor. Selain makanan dan minuman…