Efek Pemantauan Khusus Mulai Diterapkan

NERACA

Jakarta- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menerapkan daftar efek bersifat ekuitas yang diperdagangkan dalam pemantauan khusus atau watchlist guna meningkatkan perlindungan bagi investor di pasar modal.”Proyek ini betul-betul kita lakukan guna meningkatkan perlindungan bagi para investor kita dalam melakukan investasi saham di Bursa Efek Indonesia. Di sisi lain, ini juga kami harapkan kembali dapat meningkatkan transparansi terutama informasi kondisi fundamental dan likuiditas perusahaan tercatat," kata Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, penerapan watchlist tersebut diatur dalam Peraturan Nomor II-S tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus yang telah diberlakukan pada Jumat (16/7) lalu. Untuk penerapan awal pada Juli 2021, terdapat 7 dari 11 kriteria yang akan digunakan untuk menyeleksi saham yang masuk dalam daftar efek bersifat ekuitas pemantauan khusus.

Kriteria pertama, laporan keuangan audit terakhir mendapatkan opini tidak menyatakan pendapat atau opini disclaimer. Kedua, tidak membukukan pendapatan atau tidak terdapat perubahan pendapatan jika dibandingkan dengan laporan keuangan yang disampaikan sebelumnya. Ketiga, untuk perusahaan mineral dan batubara (minerba) atau merupakan induk perusahaan yang memiliki perusahaan terkendali yang bergerak di bidang minerba namun belum sampai tahapan penjualan, pada akhir tahun buku ke-4 sejak tercatat di bursa belum memperoleh pendapatan dari kegiatan usaha utama.
Keempat, dalam kondisi dimohonkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau dimohonkan pailit. Kelima, memiliki anak perusahaan yang kontribusi pendapatannya material bagi perusahaan tercatat dan anak perusahaan tersebut dalam kondisi dimohonkan PKPU atau dimohonkan pailit. Keenam, dikenakan penghentian sementara perdagangan efek selama lebih dari satu hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan. Ketujuh, kondisi lain yang ditetapkan oleh bursa setelah memperoleh persetujuan atau perintah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kriteria lainnya pada Peraturan Nomor II-S tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus akan diberlakukan mulai semester II 2022. Kriteria tersebut diantaranya adalah harga rata-rata saham selama enam bulan terakhir di pasar reguler kurang dari Rp51 dan memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.

Lalu, perusahaan tidak memenuhi persyaratan untuk dapat tetap tercatat di bursa sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan Oleh Perusahaan Tercatat untuk Perusahaan Tercatat yang sahamnya tercatat di Papan Utama atau di Papan Pengembangan, dan Peraturan Nomor I-V tentang Ketentuan Khusus Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham di Papan Akselerasi yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat untuk Perusahaan Tercatat yang sahamnya tercatat di Papan Akselerasi.

BERITA TERKAIT

Kejar Pertumbuhan Bisnis - Beragam Promo Spektra Fair Hadir di 50 Kota Besar

Genjot pertumbuhan bisnis di tengah pandemi Covid-19, PT Federal International Finance (FIFGROUP) terus perluas jangkauan bisnisnya lewat salah satu pameran…

Jangkau Luas Layanan Kesehatan - Kolaborasi BUMN Healthcare Luncurkan Aplikasi FitAja

Perluas pelayanan kesehatan di era digital saat ini, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersama dengan beberapa BUMN yang bergerak…

Percepatan Penanganan Pandemi, BMHS Genjot Vaksinasi

NERACA Jakarta - Data pemantauan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini kembali meningkat. Tidak hanya di pulau Jawa dan Bali,…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Kejar Pertumbuhan Bisnis - Beragam Promo Spektra Fair Hadir di 50 Kota Besar

Genjot pertumbuhan bisnis di tengah pandemi Covid-19, PT Federal International Finance (FIFGROUP) terus perluas jangkauan bisnisnya lewat salah satu pameran…

Jangkau Luas Layanan Kesehatan - Kolaborasi BUMN Healthcare Luncurkan Aplikasi FitAja

Perluas pelayanan kesehatan di era digital saat ini, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersama dengan beberapa BUMN yang bergerak…

Percepatan Penanganan Pandemi, BMHS Genjot Vaksinasi

NERACA Jakarta - Data pemantauan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini kembali meningkat. Tidak hanya di pulau Jawa dan Bali,…