Tingkatkan Modal Inti - Bank Ina Perdana Raih Restu Right Issue

NERACA

Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) mengantungi restu untuk menggelar Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu(PMHMETD) atau right issue dengan melepas sebanyak-banyaknya 2 miliar saham baru bernominal Rp100 per lembar saham.

Kata Direktur Utama BINA, Daniel Budirahayu, persetujuan right issue tersebut memuluskan rencana peningkatan modal inti hingga Rp2 triliun pada akhir tahun 2021.“Right issue merupakan mandatory regulator perbankan (OJK) dimana mewajibkan Bank Umum wajib memiliki modal inti Rp2 triliun tahun ini dan Rp3 triliun tahun 2023,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya menambahkan, kewajiban itu mengharuskan perseroan harus meningkatkan modal inti lebih dari Rp1 triliun sampai dengan akhir tahun ini. Hanya saja dia tidak bisa memastikan waktu pelaksanaannya. Disampaikannya, pelaksanaannya tergantung pasar. Tapi raihan dananya minimal Rp1 triliun.

Dalam kesempatan ini, dia juga menyampaikan para pemegang saham perseroan yang saat itu tercatat besar kemungkinan menyerap HMETD tersebut. Dimana kemungkinan pemegang saham utama ikut serta. Saat ini, komposisi kepemilikan saham perseroan adalah PT Indolife Pensiontama memegang 22,47%, PT Gaya Hidup Masa Kini mengempit 9,98 persen, PT Philadel Terra Lestari menguasai 7,53%, PT Samudera Biru, 16,51%, Trustee Of NS Financial Fund yang dikelola DBS Bank Ltd 10,49%, Asean  Finacial yang dikelola Liontrust 18,29% dan sisanya oleh masyarakat.

Adapun pemegang saham pengendali penerima manfaat terakhir atau ultimate shareholder adalah Anthoni Salim. Tahun ini, perseroan menargetkan laba yang tumbuh positif pada 2020 dapat berlanjut. Bank yang resmi dicaplok Grup Salim pada Januari 2020 itu, membukukan laba sebesar Rp19,38 miliar pada 2020. Perolehan tersebut melonjak dari laba 2019 sebesar Rp7,12 miliar. Kinerja laba yang positif pada tahun lalu berlanjut pada awal tahun ini. Bank Ina mencetak laba Rp13,18 miliar pada kuartal I/2021. Laba tersebut meningkat dari laba periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,18 miliar.

Daniel Budirahayu berharap laba mampu tumbuh dua digit pada tahun ini, seiring dengan pertumbuhan bisnis. Demikian pula, kredit ditargetkan tumbuh dua digit atau sama dengan tahun lalu. Bank Ina mencatat kredit yang diberikan per 31 Desember 2020 sebesar Rp2,93 triliun. Jika dibandingkan dengan angka kredit posisi Desember 2019 sebesar Rp2,52 triliun, maka kredit tahun lalu tumbuh 16,27%.

 

BERITA TERKAIT

Kejar Pertumbuhan Bisnis - Beragam Promo Spektra Fair Hadir di 50 Kota Besar

Genjot pertumbuhan bisnis di tengah pandemi Covid-19, PT Federal International Finance (FIFGROUP) terus perluas jangkauan bisnisnya lewat salah satu pameran…

Jangkau Luas Layanan Kesehatan - Kolaborasi BUMN Healthcare Luncurkan Aplikasi FitAja

Perluas pelayanan kesehatan di era digital saat ini, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersama dengan beberapa BUMN yang bergerak…

Percepatan Penanganan Pandemi, BMHS Genjot Vaksinasi

NERACA Jakarta - Data pemantauan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini kembali meningkat. Tidak hanya di pulau Jawa dan Bali,…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Kejar Pertumbuhan Bisnis - Beragam Promo Spektra Fair Hadir di 50 Kota Besar

Genjot pertumbuhan bisnis di tengah pandemi Covid-19, PT Federal International Finance (FIFGROUP) terus perluas jangkauan bisnisnya lewat salah satu pameran…

Jangkau Luas Layanan Kesehatan - Kolaborasi BUMN Healthcare Luncurkan Aplikasi FitAja

Perluas pelayanan kesehatan di era digital saat ini, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersama dengan beberapa BUMN yang bergerak…

Percepatan Penanganan Pandemi, BMHS Genjot Vaksinasi

NERACA Jakarta - Data pemantauan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini kembali meningkat. Tidak hanya di pulau Jawa dan Bali,…