Ngabuburit dan Senja di Pantai 'Lima Dimensi' Palu

Pantai Talise atau Pantai Teluk Palu yang sempat diterjang tsunami pada tahun 2018 kini telah menjadi destinasi ngabuburit yang populer bagi warga sekitar. Pantai Talise yang berada di Kelurahan Talise, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah ini memanjang dari Jalan Rajamoli sampai Jalan Cut Mutia. Sebelum bencana alam datang, pantai ini merupakan destinasi wisata utama di Palu. Airnya jernih berwarna bak biru turkis, pasirnya berwarna putih, dan ombaknya tenang. Setiap hari banyak warga lokal atau turis yang datang untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di sini.

Gempa dan tsunami Palu sempat membubarkan kerumunan wisata itu. Ditambah ketika pandemi virus Corona datang ke Indonesia pada tahun lalu. Namun pembenahan Pantai Talise terus berlanjut. Kini pantai yang dibingkai laut, sungai, teluk, lembah dan gunung itu perlahan kembali ramai pengunjung. Banyak warga lokal yang datang untuk menikmati momen ngabuburit sembari menikmati senja.

Tak hanya bermain air di pantainya, mereka juga banyak yang datang untuk mengabadikan foto atau video dengan latar belakang Masjid Terapung Arkam Babu Rahman, salah satu saksi bisu dahsyatnya gempa yang disusul tsunami pada tahun itu. "Di sini enak ngabuburit apalagi ditambah dengan pemandangan alam yang sangat indah sehingga tidak terasa sudah masuk waktu berbuka puasa," kata Rahmawati, salah satu pengunjung asal Kabupaten Parigi Moutong, seperti yang dikutip dari ANTARA .

Menurutnya, tidak banyak tempat ngabuburit di Provinsi Sulawesi Tengah yang menyajikan pemandangan alam seindah di kawasan Pantai Teluk Palu. "Pemandangan lima dimensi, berupa laut, sungai, teluk, lembah dan gunung dapat dinikmati warga gratis di sini," ujarnya.

Sama halnya dengan Sandi, warga asli Kota Palu itu mengaku lebih suka ngabuburit di kawasan pantai dari pada di tempat lain seperti di bukit, warung kopi, maupun kafe. "Lebih enak ngabuburit di pantai sini. Sambil tunggu waktu berbuka puasa, bisa menikmati hembusan angin laut sambil melihat nelayan melaut," katanya.

Menurutnya tidak banyak spot wisata di Indonesia yang pernah ia kunjungi menyajikan pemandangan alam seindah ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah tersebut. Biasanya, lanjutnya, destinasi wisata di daerah lain hanya menyajikan pemandangan laut atau gunung atau lembah atau teluk saja. "Tapi di kawasan bekas tsunami ini semua ada. Kita bisa menikmati semuanya. Satu kali memandang langsung lihat laut, teluk, sungai, gunung dan lembahnya," ujarnya.

Teluk Palu sudah lama memesona dunia. Mengutip tulisan dari situs remi Pemprov Sulawesi Tengah, salah satu pujian untuk kawasan pesisir ini ditulis oleh menteri pemerintahan Hindia Belanda, François Valentijn, dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1724. Ia mengatakan kalau keindahan Teluk Palu bak Negeri Kincir Angin.

Teluk Palu juga menjadi salah satu jalur perdagangan penting di Indonesia pada zaman penjajahan. Membentang dari utara ke selatan sepanjang 30 kilometer dan lebar 9 kilometer, teluk ini dapat memberikan keuntungan bagi perahu atau kapal-kapal kecil untuk mengangkut berbagai produk dari Palu menuju Donggala.

Selain strategis, Teluk Palu juga kaya akan sumber daya alam, mulai dari ribuan pohon kelapa sampai ikan. Warga sekitar juga ada yang menjadi petani garam. Kini di sekitar Teluk Palu telah dibangun pemecah gelombang. Fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak abrasi sampai gelombang laut yang tinggi sampai ke pemukiman warga.

Sebelumnya Kepala Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan Kota Palu Mohamad Rizal mengatakan kawasan eks likuefaksi bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. "Sebagaimana revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palu, bahwa kawasan eks likuefaksi dan jalur patahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, kecuali hunian karena masuk dalam zona merah bencana," kata dia.

Rizal mengatakan kawasan eks likuefaksi dan patahan atau sesar itu perlu dikembangkan supaya tidak menjadi kawasan mati dan hanya ditumbuhi semak belukar. Rencana itu juga termasuk dalam upaya penataan kembali dalam menunjang aktivitas perkotaan sebagai bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa, tsunami dan likuefaksi. Dalam revisi RTRW, kawasan itu bisa digunakan untuk agrowisata dan ruang terbuka hijau (RTH). "Rencananya eks likuefaksi Petobo didorong untuk kegiatan agrowisata," ujar Rizal.

BERITA TERKAIT

Yogya Tolak Wisatawan Luar Daerah Selama Larangan Mudik

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tidak akan menerima kunjungan wisatawan dari luar provinsi selama masa larangan mudik Lebaran 2021 dan hanya…

Wisata di Malang Tetap Buka Selama Libur Lebaran

Pemerintah Kabupaten Malang menyatakan bahwa daerah tujuan wisata di wilayah tersebut tetap dibuka dan beroperasi secara normal pada libur perayaan…

Menikmati Sunset dan Candi Borobudur dari Manohara Resto

Paket 'Borobur Sore' mengajak wisatawan menikmati keindahan Candi Borobudur menjelang buka puasa di luar jam kunjungan reguler dari Manohara Resto…

BERITA LAINNYA DI Wisata Indonesia

Yogya Tolak Wisatawan Luar Daerah Selama Larangan Mudik

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tidak akan menerima kunjungan wisatawan dari luar provinsi selama masa larangan mudik Lebaran 2021 dan hanya…

Wisata di Malang Tetap Buka Selama Libur Lebaran

Pemerintah Kabupaten Malang menyatakan bahwa daerah tujuan wisata di wilayah tersebut tetap dibuka dan beroperasi secara normal pada libur perayaan…

Menikmati Sunset dan Candi Borobudur dari Manohara Resto

Paket 'Borobur Sore' mengajak wisatawan menikmati keindahan Candi Borobudur menjelang buka puasa di luar jam kunjungan reguler dari Manohara Resto…