Saham Polaris Investama Terancam Delisting

NERACA

Jakarta – Lantaran terlalu lama disuspensi, PT Bursa Efek Indonesia tengah memproses penghapusan pencatatan efek (delisting) atas saham PT Polaris Investama Tbk (PLAS). “Hingga saat ini masih terdapat beberapa kewajiban yang belum dipenuhi perseroan. Selain itu, beberapa kali kami mencoba mengundang manajemen perseroan namun respons perseroan belum seperti yang kami harapkan,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setya di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, perseroan saat ini pihaknya sedang alam proses melakukan delisting atas PLAS. Hal ini sangat beralasan karena PLAS telah memasuki masa suspense saham selama 24 bulan pada 28 Desember 2020. Berdasarkan Ketentuan III.3.1.2, saham perusahaan tercatat akan terkena penghapusan paksa atau force delisting apabila masa penghentian sementara perdagangan saham mencapai 24 bulan.

Dalam melakukan pemantauan terhadap seluruh perusahaan tercatat, Nyoman mengatakan pihaknya selalu melakukan komunikasi. Hal itu dilakukan untuk memantau perkembangan perbaikan yang dilakukan setiap emiten di masa depan, khususnya bagi perusahaan yang terkena suspensi saham.“Bursa meminta perseroan menyampaian target setiap progress dan menyampaikan informasi tersebut kepada publik melalui platform IDXnet per triwulan,” ujar Nyoman.

Adapun, keterbukaan informasi terbaru yang disampaikan PLAS adalah risalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 13 Januari 2021. RUPSLB itu menerima pengunduran diri Adi Kusumasmara, Ressa Arya Putra, Ario Purboyo, dan Ahmad Fairuzdaq dari jabatannya masing-masing Komisaris Utama, Komisaris Independen, Direktur Utama, dan Direktur PLAS.

Dengan demikian kini posisi Direktur Utama dijabat oleh Khaeruman Nasruddinillah dan Direktur Herwin Tri Munardi. Sedangkan Komisaris Utama kini ditempati oleh Feri Dwi Agustina dan Komisaris Independen Dhita Indriani. Per 30 November 2020, struktur pemegang saham PLAS tercatat lebih banyak dipegang oleh masyarakat.

Porsi kepemilikan publik sebesar 84,44 persen atau 999,94 juta saham, kepemilikan PT Malaka Jaya Mulia sebesar 8,38% atau 99,25 juta saham, dan Credit Suisse Securities (Europe) Limited memiliki 7,18% atau 85 juta saham.

 

BERITA TERKAIT

Intanwijaya Tebar Dividen Rp35 Per Saham

NERACA Jakarta – Sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham, PT Intanwijaya Internasional (INCI) berencana membagikan dividen tunai tahun buku 2024…

Daaz Bara Lestari Kantongi Pendapatan Rp3,08 Triliun

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama 2025, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), salah satu pemain di sektor perdagangan komoditas…

ANTM Berpeluang Masuk Indeks MSCI dan FTSE

Berhasil mencatatkan pertumbuhan laba di kuartal pertama 2025 dan juga seiring tren kenaikan harga, likuiditas, dan market capital membuat saham…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Intanwijaya Tebar Dividen Rp35 Per Saham

NERACA Jakarta – Sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham, PT Intanwijaya Internasional (INCI) berencana membagikan dividen tunai tahun buku 2024…

Daaz Bara Lestari Kantongi Pendapatan Rp3,08 Triliun

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama 2025, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), salah satu pemain di sektor perdagangan komoditas…

ANTM Berpeluang Masuk Indeks MSCI dan FTSE

Berhasil mencatatkan pertumbuhan laba di kuartal pertama 2025 dan juga seiring tren kenaikan harga, likuiditas, dan market capital membuat saham…