PBID Bidik Penjualan Tumbuh 15% di 2021

NERACA

Jakarta – Hingga tutup tahun 2020, emiten kemasan plastik PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), memperkirakan akan membukukan laba bersih berkisar Rp340 miliar hingga Rp370 miliar. Hal itu ditopang dengan perkiraaan penjualan sebesar Rp3,3 triliun hingga Rp3,9 triliun.

Direktur PBID, Tan Hendra mengatakan, jika melihat hasil kinerja perseroan pada akhir kuartal III 2020, maka di akhir tahun ini diperkirakan tetap tumbuh dengan omset (penjualan) Rp3,3 triliun hingga Rp3,9 triliun,”Kemudian net margin 9%, sehingga laba bersihnya sekitar Rp340 miliar hingga Rp370 miliar,”ujarnya dalam paparan publik daring di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, untuk tahun depan (2021), perseroan memperkirakan mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 10-15%, dengan net margin 8-9% dan Debt to Equity Ratio sebesar 28-30%. Untuk mencapai target itu, menurut Direktur Utama PBID, Djonny Taslim, perseroan akan menggenjot produksi pabrik di Provinsi Jawa Tengah, karena upah buruh tergolong lebih rendah ketimbang provinsi di Jawa lainnya.“Untuk pemasaran produk, kami akan meningkatkan di Jawa Timur dan Kawasan Indonesia Timur. Peluang kami tumbuh masih besar, sebab pangsa pasar kami di plastik kemasan baru 32%,” kata dia.

Sebagai informasi, perseroan terus meningkatkan kapasitas produksinya dengan membangun pabrik di Pemalang, Jawa Tengah. Untuk pembelian mesin sudah dilakukan, sehingga PBID yakin bisa menambah kapasitas produksi menjadi 121.000 ton tahun ini dari akhir tahun 2019 sebesar 117.000 ton.  Hanya saja, untuk gedung/bangunan pabrik PBID masih belum jadi karena tertunda pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Selama gedung belum jadi, mesin-mesin itu diletakkan di pabrik eksisting.

Target awalnya, gedung pabrik tersebut akan selesai di semester pertama,  tetapi karena pandemi akan mundur di semester II ini.  Perseroan sendiri mengklaim pandemi Covid-19 memang tidak berdampak secara operasional. Dimana pabrik PBID masih berjalan seperti biasa. Akan tetapi dilihat dari sisi bisnisnya, penjualan PBID terdampak Covid-19 sama halnya emiten lain. Hanya saja, dampaknya diklaim tidak terlalu signifikan. 

Menyiasati bisnis agar tetap berjalan, PBID akan meningkatkan segmen pasar online food delivery. Di sisi lain, melakukan diversifikasi produk selain kantong plastik food grade, seperti  kertas nasi, dus kue, gelas plastik, dan food pack.  Dari sisi pemasaran, PBID tetap berupaya memperluas pangsa pasar dan jangkauan distribusi. PBID akan meningkatkan brand value dan second brand value. 

BERITA TERKAIT

RUPSLB HOKI Menyetujui Stock Split Saham

NERACA Jakarta -Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) menyetujui rencana aksi korporasi untuk…

Kejar Pendapatan Rp 1 Triliun - Telefast Bakal Buka 1000 Jaringan Ritel

NERACA Jakarta -Optimisme tahun ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya menjadi keyakinan bagi PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) dalam…

Terbitkan Surat Utang US$ 400 Juta - Delta Dunia Cetak Oversubscribed 2,9 Kali

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA)…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

RUPSLB HOKI Menyetujui Stock Split Saham

NERACA Jakarta -Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) menyetujui rencana aksi korporasi untuk…

Kejar Pendapatan Rp 1 Triliun - Telefast Bakal Buka 1000 Jaringan Ritel

NERACA Jakarta -Optimisme tahun ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya menjadi keyakinan bagi PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) dalam…

Terbitkan Surat Utang US$ 400 Juta - Delta Dunia Cetak Oversubscribed 2,9 Kali

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA)…