Prudential Sebut Minat Miliki Asuransi Jiwa Syariah Meningkat

 

NERACA

Jakarta -  PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) menyebutkan bahwa sebanyak 58% masyarakat Indonesia tertarik untuk memiliki asuransi jiwa syariah. Hal itu berdasarkan riset yang dilakukan oleh Tim Prudential yang melibatkan 5.000 responden pengambil keputusan yang berada di 20 kota besar di Indonesia.

Government Relations and Community Investment Director Prudential Nini Sumohandoyo mencatat bahwa minat asuransi jiwa syariah pada 2016 sebesar 40%. Akan tetapi pada 2020, minat untuk memiliki polis asuransi syariah meningkat hingga 58%. “Tak hanya soal minat untuk memiliki polis syariah, pemahaman terhadap asuransi jiwa juga meningkat dari 31% pada 2016 menjadi 39% pada 2020,” ungkap Nini dalam video conference bersama media, Senin (18/5).

Disamping melihat minat masyarakat terhadap asuransi jiw syariah yang meningkat, survey tersebut juga mengungkap potensi asuransi jiwa syariah dalam 3 tahun kedepan mencapai Rp9,6 triliun. “Dalam survei ini, kami melihat sebanyak 44% pengguna asuransi syariah ialah kalangan milenial. Menariknya, pengguna asuransi syariah tidak hanya kalangan muslim, sehingga dalam tiga tahun mendatang di proyeksi asuransi syariah mencapai Rp 9,6 triliun,” tambahnya.

Sepanjang tahun 2019 Prudential berhasil memimpin pasar asuransi jiwa syariah. Adapun total kontribusi asuransi syariah mencapai Rp 3,7 triliun. Sebelumnya lini syariah hanya menyumbang Rp 3,6 triliun. Sampai saat ini kinerja aset Prudential masih stabil dan pihaknya berupaya untuk menjaga pertumbuhan bisnis di ranah syariah. Di tahun 2019 pula pangsa pasar terhadap total kontribusi industri mencapai 28%.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Afdhal Aliasar mengakui bahwa potensi industri asuransi syariah di Indonesia bisa saja lebih dari Rp9,6 triliun. “Akan tetapi yang menjadi perhatian adalah bagaimana mengembangkan ekosistem industri syariah ini. Terlebih dengan adanya pandemic covid 19,” katanya.

Maka dari itu, Afdhal menyarankan agar para pelaku industri keuangan berbasis syariah untuk lebih mengutamakan layanan digital. “Dimasa sekarang ini, digital menjadi senjata utama dan harus dikerjakan secara maksimal,” katanya. Terkait dengan peran KNEKS untuk meningkatkan literasi keuangan syariah, Afdhal menyampaikan bahwa kini pihaknya tengah fokus untuk meningkatkan literasi di sektor pendidikan.

“Perguruan tinggi di Indonesia memiliki 800 program studi ekonomi syariah. Ini menjadi potensi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan literasi. Tak hanya di sektor pendidikan, sektor pemerintah juga menjadi perhatian KNEKS agar ketika para pemangku kepentingan mengambil kebijakan maka ada konsentrasi untuk mengembangkan ekonomi syariah. Yang lebih penting juga adalah kolaborasi antar industri keuangan syariah,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Kejagung Diminta Periksa Pejabat Pengawas Pasar Modal OJK

    NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menilai Otoritas Jasa Keuangan…

Kasus Jiwasraya Disebut Sebagai Kejahatan Pasar Modal

    NERACA   Jakarta - Direktur Political Economy and Policy Studies (PEPS), Prof. Dr. Anthony Budiawan menilai kasus PT…

Bank Dunia Kucurkan Rp3,75 Triliun untuk Atasi Covid19 di Indonesia

    NERACA Jakarta – Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pendanaan 250 juta dolar AS atau sekitar Rp3,75 triliun…

BERITA LAINNYA DI Jasa Keuangan

Kejagung Diminta Periksa Pejabat Pengawas Pasar Modal OJK

    NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menilai Otoritas Jasa Keuangan…

Kasus Jiwasraya Disebut Sebagai Kejahatan Pasar Modal

    NERACA   Jakarta - Direktur Political Economy and Policy Studies (PEPS), Prof. Dr. Anthony Budiawan menilai kasus PT…

Bank Dunia Kucurkan Rp3,75 Triliun untuk Atasi Covid19 di Indonesia

    NERACA Jakarta – Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pendanaan 250 juta dolar AS atau sekitar Rp3,75 triliun…