Laba Bersih Surya Semesta Melesat Tajam 145%

NERACA

Jakarta- PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) berhasil mencetak perolehan laba bersih sebanyak Rp92,03 miliar sepanjang tahun 2019 atau tumbuh 145% dibandingkan dengan posisi 2018. Pertumbuhan laba bersih yang signifikan turut mengerek laba bersih per saham atau earning per share (EPS) dari Rp8,10 pada 2018 menjadi Rp19,95 pada 2019. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dirilis di Jakarta, kemarin.

Emiten properti dan kawasan industri ini menjelaskan, pertumbuhan laba ditopang kenaikan pendapatan sebesar 8,69% menjadi Rp4 triliun. Selain itu, perolehan laba menjadi tebal karena Surya Internusa bisa menekan beban 1,72% menjadi Rp628,62 miliar.  Sementara itu, total aset perseroan tercatat sebesar Rp8,09 triliun. Aset lancar SSIA mencapai Rp4,05 triliun sedangkan aset tidak lancar senilai Rp4,03 triliun. 

Di sisi kewajiban, total liabilitas SSIA mencapai Rp3,61 triliun. Liabilitas jangka pendek mencapai Rp1,71 triliun dengan liabilitas jangka panjang sebesar Rp1,90 triliun. Selama 2019, SSIA menghabiskan operational expenditure sebesar Rp122,61 miliar turun 85,59%. Pada tahun sebelumnya pos ini mencatatkan pengeluaran sejumlah Rp847,11 miliar.

Adapun belanja modal yang dihabiskan oleh SSIA mencapai Rp35,29 miliar. Kas dan setara kas akhir periode SSIA tercatat sebesar Rp1,52 triliun. Presiden Direktur Surya Semesta Internusa Johannes Suriadjaja pernah bilang, tahun ini lebih menantang daripada tahun lalu. Pasalnya beberapa calon pembeli menunda perjalanan bisnis akibat larangan bepergian yang diterapkan sejumlah negara.”Karena ada penyebaran virus calon pembeli menahan dan banyak yang sudah tidak bisa traveling lagi jadi tertunda semua,” katanya.

Johannes menambahkan penjualan baru kemungkinan bakal naik pada semester II/2020 sedangkan untuk semester I/2020 masih terbilang landau. Selain itu, rencana peresmian Subang City Industry (SCI) milik PT Surya Semesta Internusa Tbk. juga terpaksa mundur. Tahun ini, perseroan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 600 miliar. 

Head of Investor Relations andCorporate Communication SSIA, Erlin Budiman seperti dikutip kontan pernah bilang, dana capex diambil dari pinjaman International Finance Corporation (IFC) yang sudah ditarik sebesar Rp 702,5 miliar sejak akhir 2019 lalu. Nantinya dana capex akan digunakan untuk ekspansi perusahaan. "Tahun ini, kami masih akan fokus pada peluncuran Subang Smart and Sustainable Industrial City pada Juni mendatang,"ujarnya.

Lebih lanjut, rencananya seluas 70% lahan dari total 250 hektare (ha) lahan, bakal digunakan untuk kawasan industri, dan sisanya menjadi daerah residensial. Pihaknya memproyeksi, dengan luas lahan tersebut kemungkinan akan ada 25 sampai 35 perusahaan yang bisa ditempatkan. "Bila Karawang dipasarkan pada kisaran US$ 120 per meter persegi, Subang sedikit lebih murah yakni US$ 100 per meter persegi. Target kami tahun ini bisa menjual seluas 25 ha, kira-kira akan berada di kisaran itu,” tambah dia

 

BERITA TERKAIT

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…