Pendapatan Samindo Resources Tumbuh 5,5%

NERACA

Jakarta- PT Samindo Resources Tbk (MYOH) membukukan pendapatan di 2019 sebesar US$ 254,45 juta atau naik 5,5% dari pendapatan pada 2018. Sebaliknya, laba emiten pertambangan ini turun 15,62% menjadi US$ 26,07 juta dibandingkan laba bersih 2018 mencapai US$ 30,89 juta. Per 31 Desember 2019, laba per saham dasar MYOH juga turun dari US$ 0.0140 menjadi US$ 0.0118. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan menjelaskan, pendapatan terbesar masih disumbang oleh jasa pemindahan tanah dan pengambilan batu bara (Overburden removal and coal getting) dengan kontribusi US$ 189,53 juta atau 74,48% dari total pendapatan konsolidasian. Sementara pendapatan jasa pengangkutan batu bara berkontribusi US$ 62,83 juta atau 24,7%.

Adapun PT Kideco Jaya Agung menjadi satu-satunya pelanggan yang memiliki nilai transaksi lebih dari 10% dari pendapatan konsolidasian, yakni US$ 239,14 juta atau hampir 94% dari total pendapatan MYOH pada 2019. Naiknya pendapatan mendorong kenaikan biaya pokok pendapatan, yang naik 11,4% menjadi US$ 212,68 juta. Selain itu, beban umum dan administrasi juga naik menjdi US$ 9,1 juta. MYOH juga mendapatkan selisih keuntungan kurs sebesar US$ 1,22 juta setelah pada tahun 2018 menanggung selisih kerugian kurs senilai US$ 1,77 juta.

Selain itu, Per 31 Desember 2019, jumlah liabilitas emiten konstruksi pertambangan ini sebesar US$ 37,88 juta sementara jumlah ekuitas mencapai US$ 122,29 juta. Kemudian jumlah aset MYOH tahun lalu mencapai US$ 160,18 juta. Tahun ini, MYOH akan memaksimalkan peralatan yang sudah ada untuk mengejar target tahun ini.

Kepala Hubungan Investor MYOH, Ahmad Zaki Natsir pernah bilanh, dalam dua tahun terakhir, MYOH sudah menambah 20 alat berat baru. Termasuk pada tahun lalu ketika MYOH membeli 10 dump truck dengan biaya investasi senilai US$ 14,5 juta. MYOH akan mencoba memaksimalkan terlebih dahulu alat-alat tambang yang ada di tahun ini ketimbang kembali bernafsu menambah alat. “Kami juga akan meningkatkan lagi maintenance alat tambang supaya tidak mudah rusak,”ujarnya.

Selain itu, MYOH juga sangat mempertimbangkan kondisi pasar batubara tanah air sebelum memutuskan menambah lagi alat-alat tambangnya. Apalagi, harga batubara belum mengalami pergerakan yang signifikan. Pemerintah pun menetapkan target produksi batubara yang lebih rendah dari tahun lalu. “Dengan kondisi sekarang, operator-operator tambang batubara tampaknya akan menahan produksi,” tambah Zaki.

MYOH juga terus menjajaki peluang penambahan kontrak baru di bidang jasa pertambangan batubara di tahun ini. Zaki belum membeberkan rencana tersebut secara detail. Namun, ia mengaku sudah ada tiga perusahaan yang mengajukan tawaran kerja sama kepada MYOH. “Sudah ada beberapa perusahaan yang berminat agar MYOH jadi kontraktor. Sekarang masih kami pelajari,” terangnya.

 

BERITA TERKAIT

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Di tengah Ketidakpastian Pandemi - PP Properti Bagikan Dividen Rp 34,2 Miliar

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT PP Properti Tbk (PPRO) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 10%.…

Dipicu Sektor Tambang dan Kimia - Laba Bersih Agregat Emiten 2019 Turun 2%

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 sangat terasa dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten. Maka tidak heran, laporan kinerja perusahaan tercatat menjadi…

Pasar Modal Mulai Kondusif - OJK Menilai Kebijakan Membuahkan Hasil

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sejumlah kebijakan terkait pasar modal yang telah digulirkan sejak masa awal pandemi…