QRIS Dorong Transaksi Cepat dan Mudah

Oleh : Dini Nur Fadillah Nugraheni, Genbi Universitas Negeri Semarang

Pembayaran secara digital saat ini sedang tren, bahkan sudah menjadi bagian  gaya hidup masyarakat, khususnya kalangan milenal. Transaksi dengan sistem digital biasa dilakukan saat membayar makanan di restoran atau kafe, saat membeli barang di mal, saat membayar tiket bioskop, dan lain sebagainya. Tidak hanya di tempat-tempat besar, sistem pembayaran digital juga sudah merambah ke sektor usaha mikro, misalnya saja ketika kita membeli minuman di pingggir jalan, sistem pembayaran yang mereka gunakan pun sudah digital.

Sistem pembayaran digital berkembang cepat karena ditunjang pertumbuhan pengguna smartphone atau ponsel pintar di Tanah Air yang juga pesat. Pengguna smartphone tahun ini sudah mencapai 92 juta, meningkat dibanding tahun sebelumnya sebanyak 83,5 juta (katadata.com).

Smartphone merupakan media untuk melakukan transaksi menggunakan dompet digital seperti aplikasi yang disediakan sejumlah perusahaan Penyedia Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) seperti OVO, Gopay, Dana, Pede dan lain sebagainya.

Cara menggunakannya pun mudah, cukup mengunduh aplikasi di smartphone, lalu  mendaftar untuk membuat akun, dan dilanjutkan top up untuk mengisi saldo.  Saat hendak melakukan pembayaran tinggal memindai Quick Response (QR) Code aplikasi sesuai yang disediakan di tempat pembayaran atau kasir.

Hanya saja, baik merchant maupun pembeli akan menemui beberapa masalah. Misalnya, penyedia barang dan jasa (merchant) perlu memasang banyak QR Code di depan kasir untuk melayani berbagai jenis aplikasi yang dimiliki konsumen.

Tentunya ini bisa membuat penuh meja kasir karena harus memasang berbagai jenis QR Code. Dalam kondisi ini QR Code milik konsumen harus sesuai dengan yang tersedia di merchant. Dengan kata lain transaksi menggunakan QR Code hanya bisa dilakukan jika aplikasinya sama.  Bahkan, dalam kondisi sama pun, masalah masih kerap muncul, yakni ketika terjadi  error pada sistem QR Code pada aplikasi yang digunakan.

Hal seperti ini tentu menimbulkan ketidaknyamanan konsumen apalagi jika merchant tidak menyediakan QR Code dari aplikasi lainnya. Dampak lebih jauh, hal ini berakibat pada berkurangnya transaksi masyarakat. Ini tentu kontraproduktif dengan tujuan adanya dompet digital yakni untuk mengefisienkan sistem pembayaran sekaligus meningkatkan budaya cashless di masyarakat.

Atas dasar itulah Bank Indonesia (BI) mencoba memberikan solusi untuk mempermudah pembayaran digital ini dengan menggunakan QRIS (Quick Response code Indonesia Standard). QRIS akan mengintegrasikan semua sistem pembayaran berbasis QR Code di Indonesia. Nantinya QRIS akan menstandardisasi QR Code menjadi satu saja, namun dapat digunakan untuk seluruh aplikasi dompet digital. QRIS ini juga bisa digunakan di luar negeri.  Dengan jargon “UNGGUL” (Universal, Gampang, Untung, dan Langsung), QRIS diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem pembayaran nontunai di Tanah Air.

Ada banyak keuntungan dalam bertransaksi saat menggunakan QRIS, tidak hanya bagi konsumen melainkan juga merchant. Pertama, dari sisi konsumen, nanti tidak perlu lagi membuat banyak akun ke penerbit dompet digital seperti GoPay, OVO, Dana, dan lain-lain. Meskipun hanya punya satu akun dompet digital, transaksi menggunakan QR Code tetap bisa dilakukan karena QRIS berlaku untuk semua aplikasi.

Kedua, keuntungan dari sisi merchant, yakni tidak perlu lagi menyediakan banyak QR Code untuk dipindai karena QRIS sudah terintegrasi ke seluruh akun mobile payment.

Harapannya ke depan dengan transaksi digital yang mudah akan mampu menaikkan pendapatan merchant, serta meningkatkan cashless money yang mana akan membantu penghematan negara dalam pengadaan uang baru. Standarisasi QR Code menggunakan QRIS akan di mulai pada 1 Januari 2020.

Jadi, ketika kita akan membayar di merchant mana pun tinggal buka aplikasi dompet digitalnya, lalu pindai QRIS-nya. Kebijakan ini bertujuan agar semua transaksi berjalan dengan ketebukaan dan menjaga integritas serta stabilitas serta persaingan usaha yang sehat.

BERITA TERKAIT

Sukseskan Penanganan Virus Corona!

  Oleh : Rangga Raditya, Pengamat Kesehatan Masyarakat   Penanganan pandemi covid-19 selama ini sudah dilakukan pemerintah dengan baik. Seluruh…

Tantangan Pemberian Ruang Fiskal Kredit di Saat Pandemi

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak *) Tergabung dalam program percepatan pemulihan ekonomi nasional, PMK Nomor 70 tahun…

Jangan Abai Protokol Kesehatan dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

  Oleh: Lisa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila   Masyarakat diingatkan untuk terus menaati protokol kesehatan. Pelonggaran pembatasan yang dilakukan…

BERITA LAINNYA DI Opini

Sukseskan Penanganan Virus Corona!

  Oleh : Rangga Raditya, Pengamat Kesehatan Masyarakat   Penanganan pandemi covid-19 selama ini sudah dilakukan pemerintah dengan baik. Seluruh…

Tantangan Pemberian Ruang Fiskal Kredit di Saat Pandemi

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak *) Tergabung dalam program percepatan pemulihan ekonomi nasional, PMK Nomor 70 tahun…

Jangan Abai Protokol Kesehatan dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

  Oleh: Lisa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila   Masyarakat diingatkan untuk terus menaati protokol kesehatan. Pelonggaran pembatasan yang dilakukan…