Lagi, BUMI Bayar Cicilan Utang US$ 31,8 Juta

NERACA

Jakarta – Pangkas beban utang untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan kesehatan keuangan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membayar cicilan utang sebesar US$31,8 juta. Perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menuturkan, perseroan telah membayar cicilan utang untuk ketujuh kalinya. Cicilan itu dibayar setiap kuartal atau per 3 bulan.

Kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava, pembayaran ketujuh meliputi pinjaman pokok sebesar US$23,2juta dan bunga sebesar US$8,6 juta untuk Tranche A. Pembayaran berikutnya atas Tranche A akan jatuh tempo pada 8 Januari 2020. “Total cicilan utang Tranche A yang sudah dibayar perseroan mencapai US$302,2 juta,”ujarnya.

Jumlah itu terdiri atas pokok Tranche A sebesar US$191,2 juta dan bunga sebesar US$111 juta, termasuk bunga akrual dan bunga yang belum dibayar atau back interest. Kupon PIK dari tanggal 11 April 2018 hingga 15 Oktober 2019 atas Tranche B dan C juga sudah mulai dikapitalisasi. Tercatat di semester pertama tahun ini, BUMI telah membayar utang yang termasuk ke dalam Tranche A sebesar US$ 145,5 juta. Dengan begitu, perusahaan sudah melunasi 24,43% dari total utang Tranche A yang mencapai US$ 595,5 juta.

Kemudian, perusahaan ini telah membayar lagi utang Tranche A sebesar US$ 22,5 juta pada 9 Juli 2019. Kemudian pada Oktober 2019 mendatang, perseroan akan membayar lagi sekitar US$ 22 juta. Disebutkan, perseroan menargetkan bisa membayar utang Tranche A hingga US$ 200 juta-US$ 250 juta per Januari 2020. Nantinya, jika terealisasi sebesar US$ 250 juta, berarti BUMI telah melunasi 42% dari total utang Tranche A.

Untuk sumber dana membayar utang tersebut, perseroan mengungkapkan berasal dari kas anak-anak usahanya, yakni PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Tahun ini, BUMI menganggarkan free cashflow sebesar US$ 180 juta-US$ 230 juta untuk upaya refinancing tersebut. BUMI menargetkan, keseluruhan utang Tranche A dapat lunas pada Januari 2021. Maka untuk mengejar target tersebut, kata Dileep Srivastava, perusahaannya akan terus meningkatkan produksi batubaranya.

Untuk performance kinerja, perseroan memproyeksikan hingga akhir tahun kinerja akan membaik dengan catatan harga batu bara mampu menembus level US$85 per ton. Oleh karena itu, perseroan mengharapkan harga batu bara akan pulih dan tetap menyakini ada peluang kenaikan menjadi sekitar US$70 per ton—US$80 per ton. Keyakinan kenaikan harga batu bara, lanjutnya, dikarenakan faktor penurunan pasokan karena musim dingin dan musim hujan. Selain itu, pihaknya berharap Amerika Serikat dan China akan menemukan solusi yang lebih baik.

Dileep menjelaskan, penurunan kinerja keuangan disebabkan realisasi harga batu bara lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Kondisi itu disebabkan pasar batu bara yang melemah. Di tengah kondisi itu, dia menyebut perseroan fokus dalam melakukan optimalisasi biasa dan memaksimalkan penjualan. Tahun ini, BUMI menargetkan bisa memproduksi 87 juta ton-90 juta ton batubara, naik dari realisasi 2018 yang sebesar 83,3 juta ton. Per Juni 2019, BUMI telah menambang 39,1 juta ton dan menjual 41,5 juta ton batubara.

BERITA TERKAIT

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…