Pertumbuhan Ekonomi vs Kesejahteraan

Menyimak data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan laju pertumbuhan ekonomi 2011 mencapai 6,5%, sepintas memang terlihat bagus diantara negara Asia lainnya. Dari sisi pertumbuhan sektoral, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi 10,7%; diikuti sektor perdagangan, hotel, dan restoran 9,2%; serta sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan 6,8%.

Sebaliknya untuk sektor industri pengolahan tumbuh 5,56%, meningkat dari 2010 yang tumbuh 4,5%. Hal yang sama juga terjadi di sektor pertanian, yang pertumbuhannya jauh di bawah pertumbuhan ekonomi.Artinya, pola pertumbuhan sektoral melanjutkan tradisi beberapa tahun terakhir yang didominasi sektor non-tradable.

Meski pertumbuhan ekonomi ini relatif tinggi, banyak pihak yang belum puas karena sebenarnya peluang Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi terbentang luas. Namun, akibat kegagalan pemerintah membangun infrastruktur, kelambanan perizinan, dan kerumitan pembebasan lahan membuat kegiatan ekonomi tidak bisa digenjot secara cepat.

Masalahnya, penurunan kontribusi terhadap PDB tidak selaras dengan penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian. Dalam situasi di mana masalah pengangguran menjadi isu pembangunan saat ini, penurunan donasi sektor industri pengolahan dan pertanian terhadap PDB merupakan berita buruk karena kedua sektor ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.

Sektor non-tradable yang tumbuh tinggi, ternyata hanya menampung sedikit tenaga kerja sehingga mereka yang terlibat di dalamnya menikmati pendapatan yang tinggi. Hal yang berbeda terjadi di sektor industri pengolahan dan pertanian (tradable) yang tumbuh rendah, namun penyerapan tenaga kerjanya tinggi. Konsekuensinya, mereka yang terlibat di kedua sektor itu hanya menerima pendapatan yang rendah.

Tidak hanya itu. Produk domestik bruto (PDB) juga meningkat menjadi Rp7.427 triliun. Jika dibagi dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa, pendapatan per kapita penduduk Indonesia 2011 mencapai rata-rata US$3.542 atau setara Rp 30,8 juta per tahun. Ini merupakan peningkatan 17,7% dari 2010 US$3.010 atau setara Rp 27,6 juta.

Kenaikan pendapatan per kapita yang terus berlangsung dari tahun ke tahun tampaknya tidak banyak berarti karena yang menikmati kenaikan rasio itu hanya sebagian kecil masyarakat. Sementara itu, ketimpangan daerah/regional juga masih cukup besar. Data BPS mengungkapkan, Jawa menyumbang 57,6%, Sumatera 23,5%, Kalimantan 9,6%, Sulawesi 4,6%, dan wilayah lain kurang dari 5%.

Dari data demografis tersebut, kita melihat ada ketimpangan, selain jumlah penduduk sebagian besar berdiam di Jawa dan Sumatera. Namun, dari sisi keadilan/ketahanan wilayah, data itu menimbulkan masalah pelik dari sisi politik. Kondisi ini pada akhirnya lebih banyak memunculkan rasa cemas ketimbang kegembiraan dalam meneropong masa depan di negeri ini.

Bagaimanapun, pembangunan ekonomi hanya akan berkelanjutan bila sebagian besar masyarakat turut serta dalam rangkaian “gerbong” pembangunan. Sebaliknya, bila sebagian besar masyarakat terjerumus dalam masalah ekonomi, berpotensi memunculkan social distrust kepada pemerintah.

Kondisi tersebut pada gilirannya akan meruntuhkan kredibilitas pemerintah dan mengganggu kegiatan ekonomi, yang sebagian sudah dapat dirasakan sekarang. Munculnya kasus Mesuji, pertambangan di NTB, pemogokan buruh, dan peristiwa lainnya umumnya bersumber dari ketimpangan kesejahteraan ekonomi rakyat di tengah tingginya pertumbuhan ekonomi saat ini..

BERITA TERKAIT

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi NERACA Jakarta - Ketua Umum DPP Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan (Himperra) Endang…

BNI SYARIAH DUKUNG PERTUMBUHAN EKONOMI SYARIAH ACEH

Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo (kiri) saat penyerahan bantuan sosial kepada perwakilan Pondok Pesantren Dayah Mini kerjasama BNI…

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

BUMN Jadi Alat Politik?

Sudah menjadi rahasia umum BUMN kerap jadi pembicaraan banyak pihak terkait sumber dana menjelang Pemilu dan Pilpres. Namun yang harus…

Amankan Devisa Ekspor

Melihat pergerakan rupiah dalam sebulan terakhir konsisten melemah terus terhadap dolar AS. Meski kurs rupiah belakangan ini cenderung menguat, pelemahan…

Jaga Kepercayaan Investor

Kondisi nilai tukar rupiah memang berfluktuasi cukup dalam. Ini merupakan dampak ekonomi global yang utamanya berasal dari kondisi ekonomi AS.…