Membumikan Batik Bantengan From Zero To Hero - Inspirasi Karya Anak Bangsa

Berangkat dari upaya melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia, Astra Internasional berkomitmen untuk mendukung pengembangan potensi batik lokal untuk go internasional. Salah satunya adalah Batik Bantengan. Kebanyakan orang mungkin belum pernah mendengar mengenai corak khas batik dari sebuah kota di timur Jawa ini. Bermula dari impian untuk melestarikan kebudayaan lokal, Anjani Sekar Arum mendirikan sanggar dan galeri batik Andaka di kota berhawa dingin, Batu, Malang, Jawa Timur.

Didirikan pada Agustus 2014, wanita 26 tahun ini mendesain sendiri berbagai motif kain dengan menyuguhkan corak batik berbeda dengan motif bantengan, khas Batu. Dari sanggar tersebut, Anjani berhasil menarik minat anak-anak di tempat tinggalnya dan mengajari mereka bagaimana menjadi pembatik. Seusai pulang sekolah, sekitar 58 anak meluangkan waktunya untuk belajar membatik di sanggar Andaka dan mampu menghasilkan 45 lembar batik per bulan. Melalui kegiatan positif ini, Anjani bukan hanya melestarikan kebudayaan lokal, tetapi juga berhasil menularkan keahlian untuk generasi muda di daerahnya.

Di tengah maraknya gawai dan internet, dia berhasil mengajak anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar membatik secara tradisional. Kebanyakan dari mereka bergantian datang secara sukarela untuk belajar membatik seusai jam belajar di sekolah. Menurutnya, banyak keistimewaan yang terjadi selama mengembangkan sanggar batik yang mengangkat kebudayaan bantengan sebagai ciri khas motif batiknya ini. Ada saja tawaran pameran di dalam maupun luar negeri. “Tawaran untuk pameran datang tiba-tiba. Seperti pada tahun 2014, kami pernah diminta oleh Walikota Batu untuk pameran di Praha, Ceko,” ungkap Anjani.

Anak-anak yang membatik semakin semangat setelah ada pameran karena jerih payahnya membuahkan hasil. Hasil dari penjualan kain dipakai sebagian untuk membeli bahan-bahan dan peralatan membatik. Selebihnya langsung diberikan kepada si anak dalam bentuk tabungan. “Kami tidak memberi target membatik harus sekian, lho. Anak-anak dengan semangat menyelesaikan batiknya sampai selesai sesuai kemampuan dan kemauannya sendiri. Tidak ada paksaan di sini,” ujarnya.

Menembus Pasar Taiwan

Siapa sangka hasil karya anak-anak ini sudah pernah dipamerkan dan dinikmati warga Taiwan dan India pada tahun lalu. Tak dikira, orang dari Taiwan datang ke Sanggar Batik Andhaka berbekal info dari internet. “Orang Taiwan ini memang datang khusus ke Jawa Timur mencari budaya dan UMKM yang unik. Eh ternyata ke sini,” ungkap Anjani menceritakan bagaimana awalnya batik karya Andhaka bisa menembus pasar Taiwan.

Kemudian untuk pameran di India, berawal dari ayahnya Anjani yang berprofesi sebagai seniman diundang untuk mengisi acara kebudayaan yang digelar oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Kesempatan tersebut dimanfaatkan Anjani untuk turut mempromosikan hasil karya Sanggar Batik Andhaka. Hal menarik berikutnya ialah fakta bahwa usaha yang dijalankan Anjani dimulai dengan modal nol rupiah. Karena kain-kain yang dijual pertama kali merupakan hasil karyanya ketika masih kuliah di Universitas Negeri Malang jurusan Seni dan Desain. Termasuk ketika mengikuti pameran-pameran yang tidak mengeluarkan biaya merupakan berkah bagi Anjani.

Muncul tantangan tersendiri bagi Anjani saat batiknya dibeli orang. Ada anak didiknya yang senang karena batiknya laku terjual, tapi ada juga yang sedih karena merasa batiknya kurang bagus dan belum laku terjual. Jika sudah begitu, Anjani membangkitkan semangat anak-anak itu kembali dan mengajak mereka bermain sejenak untuk memperbaiki suasana hati mereka.

Dari inisiastif melestarikan Batik Bantengan ini, dirinya berhasil menjadi salah satu penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards, sebuah program yang diinisiasi PT Astra International Tbk untuk menjaring anak-anak muda Indonesia yang memiliki kegiatan pemberdayaan di sekitarnya mulai dari ujung timur hingga barat Nusantara. Sukses mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards, Anjani menerima Rp 60 juta sebagai dana pengembangan ditambah Rp 15 juta sebagai penerima favorit.

Dirinya memanfaatkan hadiah tersebut lagi-lagi untuk membeli bahan-bahan dan peralatan membatik. Kemudian selebihnya dipakai untuk membeli tanah.”Aku bercita-cita membangun semacam galeri batik di mana pengunjung bisa belajar membatik, belanja batik dan pernak-pernik khas Batu, tapi konsepnya tetap pedesaan. Karena di Batu ini masih sedikit sekali wisata edukasi yang kental kebudayaan khas Batu,” tuturnya.

Asal tahu saja, berkat kegigihan Anjani membangun kecintaan anak-anak pada membatik, rata-rata setiap bulan tiap anak dapat membuat dua sampai empat lembar kain batik dengan teknik tulis, sehingga total kain yang diproduksi mencapai 60 lembar per bulan. Jumlah anak-anak yang mendapat didikan Sanggar Batik Andhaka bertumbuh pesat. Tahun 2014 dimulai dari beberapa tutor batik yang diajarkan bagimana cara membatik dari awal sampai akhir. Kini telah hampir 40 sekolah di Batu yang memiliki tutor batik dan menyentuh sekitar 600 orang siswa. Sistem tutor batik dianggap lebih efektif oleh Anjani. Di mana siswa mengajari siswa lain, sehingga fungsi guru hanya sebagai pendamping.

Sementara Chief of Corporate Communications Social Responsibility and Security PT Astra International Tbk, Pongki Pamungkas menuturkan, pelaksanaan SATU Indonesia Awards merupakan komitmen Astra dalam mendukung upaya peningkatan kesejahteraan Indonesia. “Kami ingin SATU Indonesia Awards dikenal sebagai program yang dapat memberi harapan dalam memunculkan generasi muda yang potensial, kreatif dan mampu melakukan perubahan,” ujar.

BERITA TERKAIT

Persatuan Bangsa Melalui Asian Games 2018

  Oleh : Prasetyo Agung, Peneliti di Lembaga Studi Informasi strategis Indonesia (LSISI) Asian Games 2018 tidak hanya ajang olahraga…

Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur - Gandeng Binar Academy

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

SAME Suntik Modal Anak Usaha Rp 100 Miliar

NERACA Jakarta – Emiten pengelola rumah sakit Omni Hospital, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) belum lama ini memberikan dana…

BERITA LAINNYA DI CSR

Ciptakan Pola Kehidupan Sehat - Dompet Dhuafa Jalankan Program Sanitasi Berbasis Masyarakat

Menggugah kesadaran masyarakat dengan melibatkan parstipasi masyarakat, Yayasan Dompet Dhuafa melaksanakan program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) di Desa Margasari,…

Berikan Layanan Pengobatan Gratis - Kereta Sehat PT KAI Sambangi Warga Gandrungmangu

Dalam rangka membuka akses dan menjangkau layanan kesehatan kepada masyarakat luas, PT Kereta Api Indonesia (Persero) belum lama ini memberikan…

Jaga Kebakaran Hutan Jelang Asian Games - APP Sinar Mas Berjibaku Kerahkan Bantuan Intensif

Dalam rangka mendukung Asian Games 2018 yang bebas api dan asap, Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas mengerahkan bantuan…