Perjuangan Penyelamatan Alam Berkeadilan Gender - Membangun Local Champion

Membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan untuk kehidupan yang berkelanjutan dan warisan anak cucu, diperlukan peran serta semua pihak dan tidak hanya didominasi kaum prima. Berangkat dari kepedulian gender untuk menyelamatkan hutan, The Asia Foundation (TAF) bersama mitra-mitranya melalui program Selamatkan Hutan dan Lahan melalui Perbaikan Tata Kelola (SETAPAK) II secara terus-menerus telah berupaya memperkuat kapasitas masyarakat termasuk perempuan di berbagai provinsi untuk mewujudkan tata kelola hutan dan lahan yang berkeadilan gender. Termasuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.”Selama proses penguatan tersebut, telah muncul calon-calon pemimpin komunitas yang harapannya akan menjadi pelopor perjuangan kelompok komunitas, terutama kelompok yang rentan dalam memperoleh akses dan kelola hutan dan lahan yang adil dan lestari melalui reformasi kebijakan,”kata Christopher Wyrod, Deputy Country Representative (DCR) The Asia Foundation dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut dikatakan Christopher, telah muncul banyak pejuang lokal dari hasil kerja program SETAPAK, misalnya, Suminah di Tamiang (Aceh), Emilia di Ogan Ilir (Sumatera Selatan), Wagini di Olak-Olak Kubu, Kalimantan Barat dan banyak lagi yang lain. “Temu Nasional Pejuang Keadilan dan Kesetaraan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam” ini diharapkan akan menjadi ruang bagi calon pemimpin perempuan dengan dukungan kelompok laki-laki untuk meningkatkan kapasitas dan berbagi strategi terkait advokasi dalam mendorong tata kelola hutan dan lahan yang berkeadilan gender.

Selain itu, lanjut Christoper juga menjadi forum refleksi dan berbagi pengalaman antar para pejuang keadilan dan kesetaraan dalam mempertahankan hak kelola atas sumber daya alam di Indonesia. Disamping itu juga menciptakan ruang konsultasi antara komunitas yang menghadapi permasalahan dalam menjaga sumberdaya alam di lingkungannya. Termasuk menjadi wadah konsolidasi antar pejuang-pejuang sumberdaya alam ditingkat komunitas untuk meningkatkan rasa solidaritas dalam mendorong tata kelola hutan dan lahan yang berkeadilan.”Kami berharap akan terbentuk forum nasional bagi penggerak (baik laki-laki dan perempuan) pejuang keadilan dan kesetaraan dalam pengelolaan sumber daya alam. Forum ini diharapkan dapat memiliki “protokol komunikasi” sehingga terus terbangun jejaring secara lebih kuat antar-daerah di Indonesia,” kata Christopher Wyrod.

Menurutnya, para local champion ini memiliki dedikasi tinggi dalam mendorong terwujudnya pengelolaan hutan dan lahan yang berkeadilan. Dilanjutkannya, “Local Champion di sini tidak dimaknai sebagai super hero yang mungkin selama ini digambarkan dengan latar belakang pendidikan tinggi, sering mengikuti pelatihan, dan lain lain. Namun local champion yang memiliki komitmen untuk kesetaraan dalam pengelolaan SDA.”

Asal tahu saja, para peserta temu nasional terdiri dari para pejuang (local champion), tokoh baik perempuan maupun laki-laki yang memiliki komitmen, cita-cita dan pengalaman dalam mendorong keadilan dan kesetaraan dalam pengelolaan sumber daya alam. Termasuk: akses dan kelola masyarakat melalui skema perhutanan sosial, pendampingan hukum bagi komunitas dalam mengahadapi konflik SDA; dan banyak lagi agenda advokasi serta kampanye di sektor hutan dan lahan.

Temu nasional kali ini mengusung tema “Pejuang Kesetaraan di komunitas Mendorong Perubahan untuk keadilan dan kesetaraan dalam pengelolaan sumber daya Alam di Indonesia.” Menampilan beberapa local champion untuk berbagi cerita dan dihadiri oleh 100 peserta yang terdiri dari local champion perempuan dan laki-laki, serta mitra pendamping yang merupakan organisasi masyarakat sipil di sektor hutan dan lahan. Disusul dengan diskusi tematik dalam berbagai topik seperti; konflik sumber daya alam dan bagaimana komunitas menghadapinya, perhutanan sosial dan akses pengelolaan bagi kelompok perempuan dan masyarakat adat, memperkuat kebijakan yang terkait sektor hutan dan lahan dalam memberikan perlindungan terhadap kelompok perempuan dll.

BERITA TERKAIT

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Lewat Tenun Alam

Jauh dari sang suami yang merantau ke negeri orang, tentunya memberikan tantangan tersendiri bagi seorang ibu bagaimana menafkahi sang anak…

Bencana Alam Berpotensi Gerus PDB - MENKEU USULKAN “POOLING FUND”

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah mengatakan, bencana alam yang melanda Indonesia berpotensi dapat menghilangkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga…

PGL Luncurkan Marina Clifftop di Uluwatu - Berikan Pemandangan Alam Bali

NERACA Jakarta – Pengembang nasional yang telah menggarap berbagai proyek di sejumlah wilayah di Indonesia, Permata Graha Land (PGL) pada…

BERITA LAINNYA DI CSR

Gotong Royong Rawat Ciliwung - Danareksa Ciptakan Sumber Ekonomi Baru

Sebagai bagian dari pada tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada lingkungan, PT Danareksa (Persero) menggagas program…

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Lewat Tenun Alam

Jauh dari sang suami yang merantau ke negeri orang, tentunya memberikan tantangan tersendiri bagi seorang ibu bagaimana menafkahi sang anak…

Go-Jek Hibahkan 100 Al-Qur’an di Kota Medan

Dalam rangka pererat silaturahmi dengan masyarakat Medan, Go-Jek sebagai perusahaan penyedia layanan on-demand berbasis terdepan di Indonesia menghibahkan 100 Al-Qur’an…