Permasalahan Struktural Kinerja Perdagangan

Oleh: Ariyo DP Irhamna

Ekonom INDEF

Secara umum, kinerja perdagangan cukup baik, sebab terjadi peningkatan surplus neraca perdagangan sejak tahun 2015 hingga 2017. Pada 2015 nilai surplus US$ 7,67 miliar, tahun 2016 surplus US$9,53 miliar, dan tahun 2017 surplus US$11,84 miliar. Dalam hal ini, kita perlu mengapresiasi upaya pemerintah, mulai dari belasan paket kebijakan, ratusan kebijakan juga sudah diregulasi dan debirokratisasi serta reshuffle kabinet tim ekonomi yang dilakukan tiap tahun. Namun apakah betul kinerja perdagangan sudah berubah menjadi lebih baik dibandingkan kinerja pemerintah sebelum-sebelumnya.

Ekspor Indonesia pada Februari 2018 menurun 3,14% dibanding Januari 2018, yaitu dari US$14.553 juta menjadi US$14.096 juta. Penurunan ekspor Februari 2018 dibanding Januari 2018 disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 3,96%, yaitu dari US$13.229 juta menjadi US$12.705 juta, sedangkan ekspor migas naik 5,08% dari US$1.323 juta menjadi US$1.390 juta.

Jika kita lihat lebih detail, peningkatan ekspor migas disebabkan oleh peningkatan ekspor minyak mentah sebesar 40,56% menjadi US$446,0 juta, sebaliknya ekspor gas mengalami penurunan sebesar 4,71 persen menjadi US$837 juta dan ekspor hasil minyak turun 15,79% menjadi US$107 juta. Sementara itu, volume ekspor migas Februari 2018 terhadap Januari 2018 untuk minyak mentah naik 36,73%, sedangkan hasil minyak turun 11,13% dan gas turun 3,41%. Perkembangan tersebut disebabkan oleh penurunan harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia dari US$65 per barel pada Januari 2018 menjadi US$61 per barel pada Februari 2018.

Dari aspek peranan dan perkembangan ekspor nonmigas menurut sektor untuk Januari– Februari 2018 dibanding tahun 2017. Ekspor nonmigas produk industri pengolahan meningkat 5,86%, demikian juga ekspor produk pertambangan dan lainnya meningkat 39,44%, sementara ekspor produk pertanian menurun 12,48%. Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari–Februari 2018, kontribusi ekspor nonmigas produk industri pengolahan adalah 72,68%, ekspor produk pertanian adalah 1%, dan kontribusi ekspor produk pertambangan dan lainnya adalah 16%, sementara kontribusi ekspor migas adalah 9,47%.

Sedangkan dari sisi volume, kinerja ekspor di bulan Februari 2018 menurun 4% dibanding Januari 2018 yang disebabkan penurunan volume ekspor nonmigas 5%, sebaliknya migas naik 4%. Dibandingkan dengan Februari 2017 volume total ekspor meningkat 22%, dengan nonmigas naik 23% dan migas naik 5%.

Kinerja perdagangan tersebut menunjukan bahwa peningkatan surplus neraca perdagangan sejak tahun 2015 masih menggunakan cara lama yakni mendorong ekspor bahan mentah. Pemerintah masih mengandalkan sumber daya alam untuk mendongkrak kinerja perdagangan. Artinya kita masih belum lepas dari permasalahan struktural, yakni masih mengandalkan produk bahan mentah dbandingkan produk jadi yang memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Permasalahan besar selama ini ialah kebijakan industri dan kebijakan perdagangan tidak sinkron. Seharusnya kebijakan industri harus diorientasikan untuk mendorong ekspor. Begitu juga dengan kebijakan energi yang belum diarahkan untuk mendorong kinerja industri. Sehingga perlu koordinasi yang lebih efektif diantara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan.

BERITA TERKAIT

Kinerja untuk Atasi Depresiasi Rupiah Dinilai Tepat

    NERACA   Jakarta - Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan kinerja yang dilakukan sejumlah lembaga dan kementerian…

BI Prediksi Neraca Perdagangan Surplus Hingga US$1 Miliar

      NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan terjadinya surplus neraca perdagangan pada Juni…

Ketua DPRD Kritisi Kinerja OPD Pemprov Banten

Ketua DPRD Kritisi Kinerja OPD Pemprov Banten NERACA Serang - Ketua DPRD Provinsi Banten Asep Rahmatullah mengkritisi kinerja organisasi perangkat…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemerintah Indonesia Vs Freeport - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Negosiasi pemerintah Indonesia dengan Freeport masih terus berjalan sangat alot. Dalam hal ini pemerintah harus kuat dan jangan mengalah dengan…

Ketahanan Pangan

Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF Perekonomian Indonesia yang ditopang oleh sektor pertanian, ternyata baru memberikan kontribusi sektor pertanian sebesar 13%…

Dag Dig Dug Stabilisasi Nilai Tukar

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Apa sih yang dibutuhkan para pengelola kebijakan ekonomi, dan apa pula…