Saham Tiga Pilar Masuk Pengawasan BEI

NERACA

Jakarta – Lantaran terjadi penurunan harga dan peningkatan aktivitas saham di luar kebiasaan (UMA), transaksi saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Irvan Susandy, Kadiv. Pengawasan Transaksi BEI dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (13/12) menyebutkan, informasi terakhir emiten pada 12 Desember 2017 mengenai penjelasan atas pemberitaan media masa.

Investor diminta untuk memperhatikan jawaban perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa dan mengkaji kembali rencana aksi korporasi yang belum mendapatkan persetujuan RUPSLB. Harga saham AISA pada 13 November 2017 masih berada di level Rp895 per lembar dan terus turun hingga ditutup di level Rp378 pada Selasa kemarin.

Sebelumnya, perseroan memperoleh peringkat implikasi negatif pada credit watch oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Pemberian peringkat tersebut didorong oleh rencana perusahaan untuk melakukan divestasi divisi beras dalam jangka pendek yang akan berdampak secara substansial terhadap angka konsolidasian dan melemahkan peringkat kredit. Peringkat ini diberikan pada periode 6 November 2017 hingga 6 Februari 2018.

Analis Pefindo, Martin Pandiangan pernah mengatakan, pendapatan divisi beras berkontribusi sekitar 60% terhadap total pendapatan pada semester pertama tahun ini, EBITDA sekitar 45% dan segmen liabilitas sekitar 67%. AISA pun telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham pada 2 November 2017 lalu untuk melaksanakan divestasi beras.

Namun, transaksi ini hanya dapat terjadi jika perusahaan juga memperoleh persetujuan dari pemegang obligasi dan kreditur bank sindikasi yang diharapkan terjadi pada awal bulan Desember 2017.”Kami juga memandang terdapat risiko pembiayaan kembali dalam waktu dekat. Likuiditas perusahaan saat ini lemah, dengan kas senilai Rp214,3 miliar pada akhir Juni 2017 dan ekspektasi akumulasi EBITDA tidak mencukupi untuk mendanai obligasi dan sukuk senilai Rp900 miliar yang akan jatuh tempo pada April 2018. Saat ini perusahaan sedang mengupayakan beberapa alternatif sumber pembiayaan kembali," ucapnya.

Menurutnya, pihaknya akan memantau perkembangan lebih lanjut atas situasi ini. Peringkat dapat diturunkan jika kinerja keuangan perusahaan memburuk secara signifikan, yang akan meningkatkan risiko pembiayaan kembali, atau jika proses divestasi beras memakan waktu lebih lama dari yang telah diantisipasi."Kami akan mencabut status Credit Watch dan menegaskan peringkat AISA jika manajemen dapat mengatasi isu pembiayaan kembali utang perusahaan," tandasnya.

AISA memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang industri dan perdagangan beras. Diantaranya yakni PT Swasembada Tani Selebes, PT Dunia Pangan, PT Indo beras Unggul, PT Jatisari Srirejeki, PT Sukses Abadi Karya Inti, dan PT Tani Ungul Usaha.

BERITA TERKAIT

KPPU Minta Beras Impor Tidak Masuk Sumut

KPPU Minta Beras Impor Tidak Masuk Sumut NERACA Medan - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Perwakilan Daerah Medan meminta…

BEI Bakal Luncurkan Indeks Baru di Pasar - Gandeng Perusahaan Indeks Global

NERACA Jakarta – Melesatnya pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir, mendorong PT Bursa Efek Indonesia (BEI)…

OJK Tegur BEI Soal Suspensi Saham MNCN

Meskipun kebijakan penghentian sementara perdagangan saham atau suspensi saham perusahaan yang tercatat di pasar modal adalah kewenangan PT Bursa Efek…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pasar Reksadana Marak di Tahun Politik

Di tahun politik saat ini, invetasi reksadana masih menjadi pilihan utama bagi para investor pasar modal. Oleh karena itu, manajer…

BNI Rilis Convertible Bond Rp 2 Triliun

Dalam rangka perkuat modal, PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk akan mengeluarkan obligasi yang bisa dikonversi atau convertible bond guna…

BUMD dan Swasta di NTB Didorong Go Public

NERACA Mataram – Perbanyak jumlah emiten di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) aktif melakukan roadshow dan edukasi pasar…