40% Jembatan Dalam Kondisi Tak Baik

NERACA

Semarang - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyebutkan sekitar 40 persen jembatan di Indonesia dalam kondisi kurang baik, terutama karena faktor usia. "Jembatan kita yang panjangnya ribuan meter, puluhan ribu meter, kalau disambung-sambung, 60 persen dalam kondisi baik, namun 40 persen kondisinya kurang baik," katanya di Semarang, Rabu (13/12).

Hal itu diungkapkannya usai membuka Seminar Tentang Jembatan dan Bendungan (DAM Upgrade and Bridge Seminar) yang berlangsung di kampus Universitas Diponegoro Semarang yang diprakarsai oleh Kementerian PUPR. Seminar tersebut menghadirkan para pakar infrastruktur dan tim dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang untuk menyampaikan hasil studinya di Indonesia.

Dari 40 persen jembatan di berbagai wilayah di Indonesia yang kondisinya kurang baik, kata Basuki, 30 persennya dalam kondisi yang kurang baik dan 10 persen sisanya dalam kondisi rusak berat. "Makanya, saya minta bagaimana mereka memonitor ini. Mereka punya teknologi memonitor jembatan-jembatan yang sudah tua umurnya," kata sosok kelahiran Surakarta, 5 November 1954 itu.

Jadi, kata Basuki, kerja sama yang dijalin Kementerian PUPR dengan Pemerintah Jepang itu tidak hanya mencakup pengelolaan bendungan, tetapi juga infrastruktur lainnya, seperti jembatan. Tentunya, menurut dia, tidak bisa hanya mengandalkan metode konvensional, tetapi dibutuhkan berbagai inovasi dalam pembangunan infrastruktur, seperti jembatan atau bendungan sebagaimana diterapkan di Jepang.

"Sebenarnya, untuk teknologi di Indonesia dan Jepang sama, tetapi inovasinya pasti ada beda. Di sana, ada sedikit variasi, misalnya bendungan yang dibikin saluran untuk ikan salmon bisa naik ke hulu," katanya. Kerja sama dengan Pemerintah Jepang tersebut, kata dia, sekaligus menandai jalinan kerja sama dan kolaborasi masyarakat dan pemerintah kedua negara yang berlangsung selama 60 tahun tepat pada Januari 2018.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Internasional dan Teknik untuk Infrastruktur Jepang mengakui banyaknya kemiripan yang dimiliki kedua negara, termasuk infrastruktur yang dimiliki. Di Indonesia, dicontohkannya, memiliki bendungan dan jembatan yang sudah cukup lama dibangun, tetapi di Jepang sudah terbangun infrastruktur serupa, yakni bendungan dan jembatan yang lebih kuno dan lebih lama.

Dengan pengalaman lebih yang dimiliki Jepang dalam bidang infrastruktur, kata Yusuke, pihaknya senang bisa membagi apa saja yang diketahui dalam memperbaiki, mempertahankan, dan memelihara infrastruktur untuk Indonesia.

Beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyadari akan hal itu, makanya BUMN merealisasikan untuk mmebangun beberapa jembatan di Indonesia. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, BRI dan Bank Mandiri bersama BUMN-BUMN Karya bersinergi merealisasikan proyek-proyek renovasi jembatan-jembatan di daerah-daerah pelosok di Indonesia.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, jembatan merupakan infrastruktur penting karena memiliki beragam fungsi sekaligus, mulai dari fungsi ekonomi, sosial budaya, geografi, hingga fungsi kependudukan. Dengan demikian, nilai sebuah jembatan sangat tinggi, terutama bagi masyarakat yang menggunakannya setiap hari. Inilah yang mendorong BUMN bersinergi dan memilih jembatan sebagai objek bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR).

Manfaat jembatan dari segi ekonomi antara lain adalah meningkatkan laju perekonomian masyarakat setempat, karena dengan jembatan akan muncul aktivitas ekonomi dalam bentuk pengiriman barang dan jasa diantara dua tempat yang dihubungkan oleh jembatan tersebut. Ongkos ekonomi pun akan semakin rendah karena adanya efisiensi bahan bakar dikarenakan jarak tempuh yang semakin pendek.

Adapun dari sisi sosial budaya, sebuah jembatan dapat memberikan manfaat berupa kemudahan interaksi sosial antar masyarakat dari tempat yang dihubungkan oleh jembatan, karena arus komunikasi yang semakin mudah. Kondisi ini dapat meningkatkan ketahanan kawasan karena ikatan persaudaraan antar daerah menjadi semakin erat, melalui hubungan silaturahmi yang terjalin dengan semakin mudah.

BERITA TERKAIT

BI Yakin Ditahannya Suku Bunga Tak Munculkan Capital Outflow

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) meyakini modal asing yang masuk ke domestik tidak akan lari…

Audi Ingin Gandakan Penjualan di China Dalam 6 Tahun

NERACA Jakarta – Merek premium dari grup Volkswagen, Audi, menyatakan ingin melipatgandakan angka penjualan selama enam tahun mendatang di China…

Panglima TNI - Keikutsertaan Pensiunan TNI Tak Pengaruhi Netralitas

Marsekal TNI Hadi Tjahjanto Panglima TNI Keikutsertaan Pensiunan TNI Tak Pengaruhi Netralitas Jakarta - Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto,…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Konsumsi Sayuran Dan Buah Masyarakat Indonesia Masih Kurang

      NERACA   Jakarta - Southeast Asian Food and Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor…

Taitra Bawa 30 Perusahaan untuk Jajaki Pasar Indonesia

      NERACA   Jakarta - Taiwan External Trade Development Council (Taitra) bersama dengan Bureau of Foreign Trade (BOFT)…

Erajaya Agresif Ingin Buka 250 Toko di 2018

      NERACA   Jakarta - PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) secara agresif akan membuka gerai sebanyak 250 toko…