"Minyak" Mulai Ganggu Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 30/01/2012

NERACA

Jakarta---Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hendaknya lebih mengutamakan kepentingan rakyat. Karena itu harusnya penggunaan anggaran difokuskan untuk menggerakan perekonomian dan pertumbuhan. "Prioritas pemerintah untuk penggunaan anggaran adalah bagaimana menjaga pertumbuhan ekonomi, “ kata Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendanaan dan Belanja Negara Kementerian Keuangan, Rofyanto Kurniawan di Jakarta,

Menurut Rofyanto, kebijakan pembatasan BBM bersubdisi juga tak lepas dari keinginan untuk mengurangi kemiskinan dan beban APBN yang berat. “Mengatasi masalah kemiskinan dan menjaga defisit anggaran dengan fokus tetap pada pembatasan pemakaian BBM," tambahnya

Lebih jauh Rofyanto mengaku pemerintah sebenarnya memiliki dana yang cukup untuk mengatasi kenaikan harga minyak hingga nilai 120 dolar AS per barel. “Pemerintah memiliki ketahanan anggaran yang cukup untuk meredam kenaikan harga minyak mentah karena perhitungan kami adalah setiap kenaikan 1 dolar AS maka memerlukan biaya Rp0,8 triliun," ujarnya

Asumsi harga minyak mentah yang ditetapkan pemerintah pada APBN 2012 adalah sebesar 90 dolar AS per barel, artinya menurut Rofyanto bila harga minyak mentah dunia mencapai 110 dolar AS per barel maka dibutuhkan Rp16 triliun dan bila harga naik hingga 120 dolar AS per barel dibutuhkan Rp30 triliun. “Pemerintah masih punya dana untuk menjaga APBN , tinggal apakah sekarang kita mau membiarkan anggaran membengkak karena pemberian subsidi untuk minyak?" ungkap Rofyanto.

Ditempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengklaim optimistis angka inflasi di Januari ini tidak setinggi bulan-bulan Januari lima tahun terakhir. BI optimistis inflasi di bulan pertama di 2012 ini akan bergerak di angka 0,6%-0,7%. "Inflasi Januari baisanya agak tinggi tetapi secara rata-rata lima tahun terakhir sekira 0,9%. Namun kelihatannya tahun ini enggak akan setinggi itu. (Prediksi BI) 0,6%-0,7% inflasi bulanan atau sebesar 3,5% (year on year)," ujarnya

Darmin yakin, bahwa cuaca sedikit buruk dan memicu kenaikan beberapa harga bahan makanan pokok, seperti beras. Kenaikannya tidak terlalu esktrem. "Kelihatannya musim panen kan sudah mulai dekat. Bahan pangan ada kenaikan sedikit tetapi tidak banyak," lanjut dia.

Adapun terkait dengan rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan BBM subsidi maupun menaikkan harga BBM subsidi. Darmin masih optimistis bahwa inflasi akan bergerak di angka 5,2%-5,3%. Namun, Bank Sentral belum menghitung dengan jelas berapa inflasi akan kembali terkerek naik jika pemerintah juga menaikkan harga BBM subsidi. "(Kalau ada) pembatasan BBM subsidi kita melihat inflasi tahun ini 5,2%-5,3%. Mengenai kenaikan harga (BBM subsidi berdampak ke inflasi) itu tergantung naiknya berapa," tandas mantan dirjen pajak. **cahyo