Industri dan Investasi

Pengamat Industri dan Perdagangan, Fauzi Aziz

Jangan pernah berfikir pada satu prespektif ketika bangsa ini tengah bercita-cita akan melaksanakan industrialisasi. Satu prespektif yang sudah dikerjakan pasti belum cukup sehingga harus diikuti dengan prespektif yang lain agar industrialisasi dapat berjalan di negeri ini untuk menyumbang pertumbuhan ekonomi, perubahan dan perkembangan masyarakat dan bahkan dapat mempengaruhi perkembangan politik di dalam negeri.

Dalam kaitan dengan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi,maka industrialisasi membutuhkan adanya investasi.Tanpa ada investasi,maka berarti tidak akan ada industrialisasi, meskipun kita kaya sumber daya alam yang dapat diolah,dan cukup mempunyai sumber daya yang lain. Sama saja sebuah perencanaan tentang industrialisasi dibuat apakah dalam jangka panjang atau dalam jangka menengah dan jangka pendek, akan menjadi sebuah industri yang dapat segera beroperasi bila sudah ada investor yang akan menanamkan modalnya pada sektor industri dimaksud.

Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah memasuki babak baru dalam sebuah tantangan yang tidak mudah untuk dilaksanakan karena apapun alasannya,RIPIN(yang berdurasi waktu 20 tahun, yakni tahun 2015-2035) hanya dapat direalisasikan dengan cara menerapkan strategi dan kebijakan investasi yang tepat.

Strategi dan kebijakan investasi sebaiknya juga bersifat lintas sektor dan lintas wilayah.Platform ini harus dibuat agar mulai tahun 2016 dan berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya, pelaksanan investasi di sektor induustri telah memiliki strategi dan kebijakan investasi yang bisa menjadi pedoman bagi pemerintah, dunia usaha dan masyarak.

Berdasarkan data yang dikutip dari dokumen RIPIN,pada tahun 2015,pertumbuhan industri non migas diproyeksikan mencapai 6,8%.Pada periode berikutnya angka pertumbuhannya diproyeksikan akan mencapai 8,5% di tahun 2020,dan menjadi 9,1% di tahun 2025,serta menjadi 10,5% di tahun 2030.Berdasarkan sumber yang sama dan data pada tahun yang sama, untuk mencapai pertumbuhan industri non migas sesuai dengan yang diproyeksikan diperlukan dana ivestasi masing-masing sebesar Rp 270 triliun, Rp 618 triliun, Rp 1.000 triliun dan Rp 4.150 triliun.

Sumber dananya pasti akan berasal dari PMA/PMDN atau sebagian kecil bisa berasal dari APBN/APBD atau dapat berasal dari dana Bank Dunia dan ADB untuk membiayai investasi langsung di sektor industri strategis yang mengolah sumber daya alam strategis karena swasta tidak tertarik untuk menanamkan modalnya di sektor tersebut. Angka-angka proyeksi tersebut yang telah menjadi komitmen pemerintah harus direalisasikan,dan upayanya harus didukung oleh strategi dan kebijakan investasi. Untuk itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar iklim investasi di sektor industri non migas dapat semakin kondusif.

BERITA TERKAIT

Toyota Akan Gelontorkan Investasi Baru Untuk Mobil Listrik

Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) siap menggelontorkan untuk pengembangan mobil listrik di dalam negeri, yang ditargetkan pemerintah…

Operator Seluler Tambah Kapasitas Jaringan - Mudik dan Lebaran 2018

Dalam menghadapi lonjakan akses di musim mudik dan lebaran 2018 membuat masing-masing operator telekomunikasi mulai menyiapkan bahkan sudah melakukan optimalisasi…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

OTT Lagi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Menjelang lebaran lalu KPK kembali melakukan OTT untuk…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…

Memupuk Pertumbuhan Kredit

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF   Kinerja penyaluran kredit pada April 2018 mengalami perbaikan lebih baik daripada akhir tahun…