Pemerintah Segera Tarik Utang Rp296 T - Pada 2012

NERACA

Jakarta - Pemerintah mempersiapkan langkah-langkah menarik utang-utangnya. Karena pada 2012 sudah menetapkan gross utang sebesar Rp296 triliun. Arinya posisi tersebut sedikit meningkat dari 2011 sebesar Rp268 triliun. "Gross utang pada 2012 terdiri dari SBN yaitu sekitar Rp240 triliun, untuk pinjaman program sekitar Rp16 triliun, pinjaman proyek sekitar Rp39 triliun, dan pinjaman luar negeri sekitar Rp0,31 triliun," kata Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto di Jakarta,261

Lebih jauh kata Rahmat, untuk strategi penjualan 2012 tidak akan berbeda dari 2011. Pemerintah masih akan menggunakan strategi untuk font loading. Namun penjualannya lebih banyak diawal, walaupun belum akan segera dipergunakan.

Rahmat menambahkan, strategi penjualan masih akan terus memperhatikan Crisis Management Protocol (CMP), dan akan tetap melakukan buy back serta debt switchingnya. "Tapi untuk kedepannya kita tetap menjaga stabilisasi market ditengah ambang batas ketidakpastian ekonomi global saat ini," jelasnya.

Dikatakan Rahmat, hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp10,5 triliun per 26 Januari 2011. "Hasil lelang SUN per hari ini incoming beat-nya Rp50,1345 triliun. Dan yang kita menangkan Rp10,5 triliun," ucapnya

Dengan incoming beat sebesar Rp50,1345 triliun itu, lanjutnya, adalah yang terbesar sepanjang sejarah. Sebelumnya, incoming beat SUN terbesar terjadi pada Juli 2011 yang sbesar 30,2 triliun. SUN tersebutkan diterbitkan dalam 5 seri, yakni yang 3 bulan, 1 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun. "Yang menarik di sini adalah yield terendah itu sebesar 1,92383% untuk SUN yang 3 bulan," paparnya.

Menurut Rahmat, kondisi tersebut menunjukkan minat investor terhadap SUN berjangka pendek sangat bersar. Hal itulah yang menyebabkan yield SUN dapat ditekan menjadi di bawah 2%.

Sementara yield untuk SUN yang 1 tahun sebesar 3,375%, SUN yang 10 tahun 5,57821%, yang 15 tahun yieldnya 6,19734% dan yield SUN yang 20 tahun 6,64907%. "Ini juga menunjukkan capital inflow masih sangat deras. Kalau dibandingkan IHSG yang naik turun, saya bisa katakan penempatan dana asing di SUN paling besar," tukasnya.

Berdasarkan catatan, Data terakhir total utang pemerintah Indonesia mencapai Rp 1.816,85 triliun. Kementerian Keuangan menganggap tak ada masalah, karena rasio utang terhadap PDB masih kecil. "Nggak masalah, kan dilihat suistainability fiskal itu debt to GDP ratio, utang akan semakin rendah bila pendapatan negara besar. Pendapatan nasional kan nantinya penggunaan utang bisa semakin efisien untuk membiayai kegiatan dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi," tutur Rahmat lagi beberapa waktu lalu.

Dikatakan Rahmat, jumlah utang pemerintah akan semakin mengecil terutama dari sisi rasionya. Saat ini rasio utang terhadap PDB Indonesia diperkirakan Rahmat hanya 24%. Di 2014 ditargetkan mencapai 22%. "Yang penting nilai tukar rupiah kalau melemah maka utang membesar. Sebab 45% utang kita kan valas, dolar, yen, dan euro. Kalau rupiah stabil maka rasio utang bisa ditekan," pungkasnya. **cahyo

Related posts